Ad Astra

Sudah lima tahun sejak film Gravity karya Alfonso Cuaron menghentak Box Office. Di tahun 2013 lalu film ini mendadak muncul dan menjadi salah satu jawara di tangga Box Office Amerika bulan Oktober. Kesuksesan dari Gravity kemudian dilanjutkan oleh Interstellar di tahun berikutnya dan The Martian tiga tahun kemudian. Apa kesamaan dari semua film itu? Semuanya sama-sama mendapatkan Box Office yang luar biasa dan nominasi-nominasi Oscar. Nah, setelah kesuksesan ketiganya sayangnya genre ini kembali mengalami kemunduran.

Kegagalan genre ini yang paling jelas adalah First Man yang dibintangi oleh Ryan Gosling dan disutradarai oleh Damien Chazelle. Duet ini sukses menggarap film La La Land tetapi sayangnya kesuksesan itu tidak berlanjut dalam First Man. Banyak kritikus menganggap bahwa film First Man terasa terlalu lambat dan akhirnya lebih merupakan sebuah film tentang studi karakter Neil Armstrong ketimbang tentang misi penerbangan manusia ke bulan. Di tahun ini sekarang adalah giliran dari James Gray yang sebelumnya terkenal dengan film The Immigrant dan The Lost City of Z menggarap film luar angkasa dengan dibintangi oleh Brad Pitt.

Karakter Roy McBride yang dibintangi oleh Brad Pitt adalah seorang karakter yang pragmatis. Sepanjang karirnya sebagai Astronot detak jantungnya tak pernah lebih dari 80. Berada dalam situasi seberbahaya apapun dia selalu bisa mencari jalan keluarnya. Kelemahan dari Roy hanya satu: ia memiliki kesulitan untuk bisa berkoneksi dengan orang lain. Ini tidak hanya dengan kekasihnya – yang baru saja meninggalkannya – tetapi juga dengan orang-orang di sekelilingnya. Roy adalah seorang yang efisien dalam bertindak tetapi jauh di dalam jiwanya ia seorang yang kesepian karena ia terus berusaha lari dari sesuatu – tanpa tahu apa itu sesuatunya.

Dan sedikit banyak hal itu bisa ditarik dari karena ia ditinggalkan oleh ayahnya ketika masih muda dulu. Clifford McBride, ayah dari Roy, adalah seorang astronot yang luar biasa. Ia bukan sekedar seorang astronot tetapi merupakan astronot pertama bumi yang memimpin ekspedisi manusia menuju ke Jupiter, Saturnus, sampai pada akhirnya kapal yang ia tunggangi berhenti dan lenyap tanpa petunjuk yang jelas di Neptunus. Sekarang ada kabar bahwa sang ayah masih hidup dan peralatan yang ia nyalakan di Neptunus melakukan kerusakan yang fatal di bumi. Roy harus berangkat untuk menyelesaikan masalah ini.

Ad Astra adalah sebuah film yang kontradiktif. Di satu sisi ini adalah film yang realistis di mana penampilan interior dan akting setiap orang di dalamnya sangat grounded dengan realita. Gritty, bahkan. Jangan harapkan elemen-elemen sci-fi fantastis macam Interstellar ataupun Total Recall di film ini. Di sisi lain ini juga adalah sebuah film yang tak terlalu realistis. Kendati digambarkan dengan realistis banyak lubang plothole dalam logika sains film ini yang membuatnya mustahil terjadi – apalagi kalau dibandingkan dengan The Martian yang merupakan salah satu film tentang eksplorasi luar angkasa paling realistis yang saya tonton. Nah kelemahan ini pada akhirnya membuat Ad Astra terasa seperti dua film yang berbeda dari dua paruhnya.

Paruh pertama film ini bisa dibilang merupakan paruh terkuatnya di mana sebagai penonton kita diperkenalkan dengan dunia – atau bahkan jagad raya – yang ditempati oleh Roy McBride. Berbagai simbologi dalam bahasa film muncul di paruh ini yang mempertanyakan mengenai sifat konsumerisme dalam diri manusia sekaligus mempertanyakan sampai seberapa jauh sebenarnya rasa haus manusia untuk menjelajahi atau bahkan menguasai dunia? Di sisi lain paruh kedua film ini kemudian jatuh menjadi tontonan yang… membosankan, paling tidak bagi saya. Pasalnya hampir sepanjang paruh kedua film Roy berbicara mengenai krisis eksistensi di dalam hidupnya ditambah dengan daddy issues yang ia alami (karena ditinggalkan oleh sang ayah). Entah dengan kalian tetapi saya pribadi sudah sangat bosan dengan topik daddy issues yang kerap diangkat dalam film, seakan-akan semua masalah yang pernah ada di dalam hidup sang karakter utama dikarenakan sejak kecil orang tua meninggalkannya. It’s boring and cliche.

Pada akhirnya saya bukan tidak mengatakan Ad Astra adalah film yang buruk. Ia memiliki sisi teknis yang luar biasa. Efek CG dalam film ini sangat cantik dan sinematografinya luar biasa indah… sampai-sampai saya sempat merasa bahwa mungkin beberapa lokasi yang ditulis dalam skrip film ini ditulis supaya James Gray bisa memenuhi hasratnya melakukan shot-shot cantik tersebut. Saya juga perlu mengungkapkan betapa luar biasanya akting Brad Pitt di dalam film ini. Roy McBride adalah karakter yang kompleks di mana sosoknya sekontradiktif filmnya sendiri. Kendati secara internal ia adalah seorang pria yang bermasalah, itu bukan berarti dia pria yang dingin dan tak peduli dengan orang lain. Ia berulang kali berusaha menyelamatkan nyawa dari rekan-rekannya dan menjelajahi antariksa demi menemui ayahnya. Tambahan lagi ia adalah seorang yang sangat efisien dalam kerjanya. Pada akhirnya Brad Pitt dalam film ini menampilkan sosok Roy McBride yang kompleks dengan sangat bagus sekali. Akan menjadi penghinaan apabila ia tidak dipertimbangkan dalam kategori Best Actor pada nominasi Academy Awards mendatang.

Jadi haruskah kalian menonton Ad Astra? Ini tergantung dari apakah kalian mau atau tidak menonton film yang kontemplatif. Apabila kalian suka dengan film-film penjelajahan antariksa dengan pacing yang lambat, this movie is great. Tetapi bila tidak saran saya nonton saja film-film yang lebih ‘popcorn’ macam Gravity atau The Martian.

Score: C+

Leave a Reply