Salah satu villain yang paling ikonik di sejarah perfilman adalah karakter Joker. Hampir semua superhero memiliki seorang musuh besar. Spider-man dengan Green Goblin, Superman dengan Lex Luthor, dan banyak lagi lainnya. Bagaimana dengan Batman? Tentu saja musuh utama dari Batman adalah sang Clown Prince of Crime: Joker. Pencapaian Joker terutama merupakan sesuatu yang sangat impresif mengingat Batman memiliki rogue gallery terbaik dibandingkan dengan semua superhero yang ada. Apa sih sebenarnya yang membuat karakter Joker begitu… dicintai? Apakah di dalam setiap kita ada sedikit kegilaan seperti yang ada dalam diri Joker?

Seakan-akan menambah aura mistis di dalam diri Joker sosok ini diperankan oleh begitu banyak aktor-aktor ikonik selama ini. Di layar lebar saja Jack Nicholson, Heath Ledger, Jared Leto, dan sekarang Joaquin Phoenix menjadi sosok yang memerankannya. Asal tahu saja, selain Phoenix tiga aktor yang memerankan Joker sudah pernah merebut piala Oscar – Ledger bahkan mendapatkannya saat ia berperan sebagai The Joker! Di dunia animasi maupun pengisi suara pun tidak tanggung-tanggung aktor besar seperti Mark Hamill sang Luke Skywalker dan Troy Baker sang raja pengisi suara game pernah mengisi suaranya. Singkat kata: peran ini adalah peran yang mengundang banyak orang menjajalnya. Apa sih sebenarnya yang membuat sosok ini begitu spesial?

Joaquin Phoenix disutradarai oleh Todd Phillips dalam film yang berusaha mencari jawabannya.

Di sini Phoenix berperan sebagai Arthur Fleck – belum… ia belum menjadi sang Joker. Arthur di sini memang bukan seorang pria yang normal tetapi ia seorang yang berjuang untuk bisa hidup normal di tengah dunia yang semakin lama semakin gila. Arthur sendiri bukan seorang yang normal. Ia menderita kelainan yang bernama Pseudobulbar Affect atau PBA; penyakit jiwa satu ini membuat ia bisa tertawa tak terkendali di saat-saat yang salah karena kesalahan di saraf otaknya. Hal ini sering membuat Arthur jadi menemui kesusahan karena orang sering salah sangka dengan apa yang tengah ia alami. Untuk memitigasi hal ini, Arthur bekerja sebagai seorang badut dan mengejar aspirasinya menjadi stand-up comedian. Akan tetapi akan hal-hal yang berada di luar kontrolnya, mental Arthur perlahan-lahan tergerus dan…

Menulis resensi lebih jauh dari itu adalah sebuah spoiler bagi film ini. Menonton film ini mengingatkanku dengan kelakuan Joker di dalam komik The Killing Joke – komik yang hingga saat ini masih dinilai sebagai masterpiece dari Alan Moore. Harap maklum, walaupun media film memiliki beberapa origin kisah Joker media komik sendiri tak pernah benar-benar memiliki origin resmi sosok Joker selain dari The Killing Joke. Di sana Joker juga seorang stand-up komedian biasa yang mengalami hari yang sangat – sangat buruk, mengubahnya dari sosok yang waras jadi Joker. Itupun terjadi di film ini. Arthur Fleck di awal film sudah berada di posisi yang sangat membahayakan. Dan tanpa ia sendiri sadari dunia di sekelilingnya yang semakin apatis dan absen dari kasih sayang makin menyeret dia dalam jurang ketidakwarasan. Bahkan kita sebagai penonton dibuat bertanya-tanya mengenai apa yang merupakan fakta di film ini dan apa yang hanya sekedar merupakan ilusi dari pikiran Arthur.

Film ini juga akan mengingatkan banyak orang pada karya Martin Scorcese yang berjudul The King of Comedy yang uniknya dibintangi oleh Robert De Niro, juga berperan di dalam film ini sebagai Murray Franklin sang host talkshow yang dikagumi oleh Arthur. Yang membuat film ini penuh ironi? Dalam film The King of Comedy adalah Robert de Niro yang mengagumi sosok host talkshow yang diperankan oleh Jerry Lewis. Saya punya firasat Todd Phillips sengaja mengcasting De Niro karena resume filmnya. Di luar Robert De Niro yang tampil sebagai aktor pendukung film ini bisa dibilang merupakan ajang showcase dari Joaquin Phoenix yang memiliki tanggungan paling besar sebagai sosok Joker di film ini. Tidak bisa disangkal bahwa sejak penampilan Heath Ledger di The Dark Knight belum ada aktor yang dianggap pantas menggantikannya. Bahkan performa Jared Leto di Suicide Squad pun dicerca habis-habisan oleh para kritikus.

Itu berbeda total dengan Joker. Suka tidak suka kalian dengan film ini satu hal yang pasti: penampilan Joaquin Phoenix yang penuh totalitas sebagai Arthur Fleck akan membuat kalian terpana. Bahasa tubuh dan raut muka dari Joaquin Phoenix sebagai Arthur ia bawakan dengan sangat meyakinkan. Akankah kalian jadi simpatik dengan Arthur? Ya. Tetapi di saat bersamaan dengan rasa simpatik kepada dirinya penampilan Phoenix yang seakan menyimpan kegilaan tersembunyi di dalamnya membuat kalian tetap akan takut kepadanya. Dan itulah yang membuat performa Phoenix sangat apik: dia memainkan seorang proto-Joker yang simpatik tetapi juga psikopat. Satu hal lagi yang membuat performa Phoenix layak dibicarakan tentunya ada pada tawanya. Tawa Phoenix yang kadang lepas kontrol dan bagaimana ia kerap berusaha menahan tawa itu dengan menekan lehernya adalah akting yang membuat saya tak bisa berkata-kata. Tanpa adanya kejutan di luar dugaan ini seharusnya menjadi tahun di mana Phoenix AKHIRNYA mendapatkan piala Oscar.

Memuji Phoenix saja bukan hal yang adil untuk kru yang terlibat di film ini. Saya juga harus menyematkan pujian bagi Todd Phillips yang dengan dingin bertanggung jawab di belakang kamera. Saya harus akui bahwa sebelumnya saya sempat ragu dengan pilihan sutradaranya. Todd Phillips? That guy behind The Hangover trilogy? Memangnya dia bisa membuat sebuah film drama serius? Di luar dugaan… yes. Yes, he does. Dan dia melakukannya secara sangat meyakinkan. Phillips mampu menangkap momen yang pas untuk melakukan close-up pada mimik muka Phoenix atau mengambil shot bahasa tubuh Phoenix, sampai memainkan lighting dan tone film. Amazing. Truly amazing.

Pada akhirnya saya merasa bahwa Joker adalah sebuah masterpiece dari awal hingga akhir. Satu-satunya kelemahan yang bisa saya tangkap dari film ini adalah bagaimana Joker terasa terlalu terinspirasi dengan film-film Scorcese lainnya seperti The King of Comedy dan Taxi Driver (kebetulan keduanya diperankan oleh Robert De Niro). Terlepas kalian suka DC atau Marvel, terlepas kalian suka film superhero atau tidak… Joker is breathtaking to watch from beginning to end.

Score: A-

Leave a Reply