Rambo: Last Blood

John Rambo kembali lagi.

Seumur hidupnya Sly Stallone memiliki dua peranan yang ikonik: satu sebagai si petinju Rocky Balboa dan satu lagi sebagai si veteran perang John Rambo. Apabila sebagai Rocky Balboa ia sudah merebut banyak penghargaan, Sly tak seberuntung itu dengan Rambo. Walaupun di film pertama orang menyukai Rambo karena ia memiliki PTSD, sosok Rambo menjadi kontroversial di film kedua dan ketiganya. Kenapa? Itu dikarenakan karakter Rambo dianggap sebagai simbol invasi Amerika ke negara-negara lain. Itulah kenapa kembalinya Rambo di tahun 2008 dulu tidak dianggap seberhasil kembalinya Rocky Balboa di tahun 2006. Tapi bukan namanya Sly kalau ia tidak berusaha menghidupkan karakternya ini dan memberinya ending dalam film kelimanya. Judulnya jelas merupakan throwback dari film pertama Rambo (saat itu berjudul First Blood). Film ini memiliki subtitle yang sederhana: Last Blood.

Rambo sudah pensiun karena dia sudah tua. Setelah film terakhirnya ia memutuskan untuk sekarang pensiun di rumah lamanya. Akan tetapi ketakutannya akan masa perangnya dulu membuat ia masih sibuk menggali lubang terowongan bawah tanah di seantero peternakannya. Bagi mereka yang paham tentang perang Vietnam akan memahami hal itu. Kenapa? Sederhana. Perlawanan gerilya yang dilakukan tentara Vietnam banyak mereka lakukan melalui lubang terowongan bawah tanah. Fakta bahwa Rambo masih menggali lorong-lorong tersebut membuktikan bahwa ia tak sepenuhnya melupakan traumanya dari masa perang walau puluhan tahun sudah berlalu.

Toh Rambo paling tidak sekarang memiliki sesuatu yang bisa ia sebut keluarga: nenek – cucu . Rambo sangat dekat dengan keduanya, terutama dengan sang cucu yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri: Gabriela. Film ini tidak mengumbarnya secara eksplisit tetapi ada hint yang jelas bahwa pada jeda antara film keempat dan kelimanya, Rambo berusaha hidup sebagai sosok normal dan menjadi figur ayah yang baik bagi Gabriela. Gabriela sendiri menyayangi Rambo tetapi ingin tahu kenapa ayah kandungnya meninggalkannya. Kendati sudah dilarang oleh Rambo dan neneknya, Gabriela nekat berangkat ke Meksiko – sebuah negara yang jauh berbeda dengan Amerika Serikat. Di sana Gabriela diculik oleh sebuah kartel obat terlarang, memaksa Rambo untuk menyeberangi perbatasan guna menyelamatkannya. Bisakah?

Rambo: Last Blood banyak dicerca kritikus karena dianggap sebagai film yang mendorong agenda politik Presiden Donald Trump – terutama sebagai sosok yang menganggap sosok latino sebagai monster kriminal dan menggambarkan kota Meksiko sebagai tempat yang mengerikan. Dan… itu tidak apa-apa. Pada faktanya Rambo adalah seorang karakter yang tidak pernah berusaha untuk menjadi politically correct. Ketika film ini berbicara bahwa Meksiko adalah negara yang penuh dengan kartel obat bius… ya memang faktanya demikian. Jelas itu merupakan sebuah negara yang jauh lebih berbahaya dibandingkan Amerika.

Terlepas dari itu saya merasa bahwa akting Sly di sini biasa-biasa saja. Semenjak dulu Sly lebih bagus dan lebih hidup ketika ia berperan sebagai sosok Rocky ketimbang sosok Rambo. Dan di dalam film ini saya merasa bahwa Rambo lebih seperti penonton di dalam kisahnya sendiri. Ini adalah sosok seorang prajurit yang sebenarnya sudah menggantungkan senapannya untuk kehidupan damai – hanya untuk terpaksa mengangkatnya kembali demi melindungi dan menyelamatkan putri angkatnya. Kisah ini lebih seperti kisah Gabriela yang mencari ayahnya yang menghilang secara misterius dari hidupnya beberapa tahun yang lalu. Ini berbeda dengan film Taken dari Liam Neeson (yang memiliki premise sama) di mana penculikan putrinya hanya merupakan katalis dari film Taken dimulai.

Klimaks dalam film ini terasa jauh lebih sederhana dan tak sebombastis film Rambo First Blood Part II dan Rambo 3 tetapi tetap sanggup menunjukkan kesangaran dan kebrutalan sosok seorang Rambo memasuki usia senjanya. Saya juga suka bagaimana rating R dalam film ini berarti sutradara Adrian Grunberg tidak perlu menahan diri dalam mengumbar kekerasan dan violence yang tentunya dicari-cari oleh penonton bergenre ini. Sebagai bonus bagi mereka-mereka yang sudah menonton film Rambo semenjak awal – jangan beranjak di ending ya sebab credit film ini dijamin akan membuat kalian bernostalgia. Pada akhirnya Rambo: Last Blood punya potensi menjadi film yang berbeda dan revolusioner dibandingkan para prekuelnya tetapi tak berani mencobanya. Toh, siapa peduli? It’s a nice throwback to 80’s Action Movie.

Score: B

Leave a Reply