The Next Person You Meet in Heaven

Sebagai seorang penulis buku, Mitch Albom sudah menulis beberapa New York Bestseller selama karirnya. Akan tetapi kalau kalian bertanya kepada mayoritas pembaca buku Albom mereka akan mengatakan bahwa dua buku terbaik yang ia tulis adalah dua buku pertama dalam karirnya: Tuesdays with Morrie dan The Five People You Meet in Heaven. Saya tidak bilang kalau buku-buku Albom berikutnya buruk (saya secara pribadi lebih suka For One More Day ketimbang Tuesdays with Morrie) tetapi begitulah pendapat orang pada umumnya. Nah, setelah 15 tahun berlalu sejak The Five People You Meet in Heaven, Albom menulis sekuel dari buku ini dengan judul The Next Person You Meet in Heaven. Apakah buku ini bisa menangkap esensi magis yang membuat prekuelnya begitu dicintai?

Bagi mereka yang lupa dengan The Five People You Meet in Heaven, ini mengisahkan tentang bagaimana pria tua bernama Eddie meninggal dunia di Theme Park Ruby Pier. Ia mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan seorang gadis kecil bernama Annie dari kecelakaan. Saat jiwa Eddie pergi ke surga ia bertemu dengan lima orang yang membantunya merefleksikan kehidupannya – bahkan belajar akan tragedi kehidupannya – sebelum jiwanya bisa tenang. Sekuelnya, The Next Person You Meet in Heaven, berkisah tentang Annie.

Kehidupan Annie setelah kecelakaan itu tidak mudah. Eddie memang menyelamatkan Annie tetapi sang gadis tidak selamat total, tangannya terluka parah dan seumur hidup Annie harus menjadi gadis yang cacat dengan tangannya yang terluka tak bisa normal kembali. Cacat yang diderita Annie ini membuat dirinya memiliki inferiority complex, ia jadi seorang introvert yang malu bergaul dengan orang-orang lain. Membuat Annie makin kesulitan bergaul dengan orang lain? Sang Ibu yang merasa berdosa karena lalai menjaga Annie mengkompensasi kesalahannya di masa lalu itu dengan menjadi sosok yang super overprotektif terhadap Annie, membuat sang anak merasa terkekang.

Kesalahan demi kesalahan kecil yang dilakukan Annie kian lama kian menumpuk karena pemberontakannya kepada sang Ibu sampai ketika ia bertemu dengan seorang pria charming bernama Paulo. Paulo menjadi seorang kekasih yang baik hati dan mampu menyapu Annie jatuh ke pangkuannya. Sayangnya sebuah reaksi impulsif dari Annie dalam bulan madu bersama Paulo akan menjadi kesalahan paling fatal bagi Annie, kesalahan fatal yang membuatnya meregang nyawa dan pergi ke surga di usia yang relatif muda – 31 tahun. Siapakah sosok-sosok yang akan ditemui Annie di surga? Dan pelajaran apa yang akan ia dapat darinya?

Dalam buku ini Mitch Albom masih mempertahankan ciri khasnya. Pembaca lama Albom sepertinya sudah familiar dengan gaya menulis Albom. Ia menggunakan bahasa yang sederhana dan lugas, terkadang dengan permainan kata yang indah bak puisi dalam menulis kisahnya. Itu selalu menjadi kekuatan Albom dari dulu: bahasanya tidak ribet dan bisa dimengerti orang yang bahkan bahasa Inggris-nya pas-pasan. Akan tetapi gaya penulisan dari Albom terasa… terlalu familiar di sini. Bahkan gaya dan style penulisan Albom dalam memecah chapter-chapter yang ada terasa mirip dengan buku-buku Albom sebelumnya. Oleh karenanya The Next Person You Meet in Heaven tidak lagi terasa sefresh prekuelnya.

Buku Albom ini tipis, tak lebih dari 200 halaman, sehingga pembaca yang cepat bisa menyelesaikannya dalam satu – dua kali bacaan saja. Pesan yang ditawarkan Albom manis, terkadang malah kelewat manis, tetapi apa salahnya? Saya sudah membaca terlalu banyak artikel berita di mana hal-hal negatif dan sinis saling serang menyerang di dunia ini. Membaca buku ini mengingatkanku bahwa kendati ada begitu banyak hal buruk di dunia – there are still good and sweet things that are worth living for.

Jadi apakah The Next Person You Meet in Heaven layak dibaca? Jawabannya adalah ya. Saya sedikit bosan dengan gaya penulisan Albom setelah buku ketiganya (For One More Day) dan saya merasa bahwa buku ini mampu menangkas esensi magis dari buku-buku di awal karirnya melalui bukunya ini. Walau tak sampai sebrilian konsep dalam The Five People You Meet in Heaven, Albom membuktikan bahwa konsep lima orang ini masih bisa didaur ulang di sini. Yah, yang penting tak perlu digenapkan jadi trilogi ya!

Score: 8.0

Leave a Reply