Dungeon ni Deai wo Motomeru no wa Machigatteiru Darou ka II

Sebuah pengakuan: Saya tidak hafal judul Jepang anime ini. Bahkan judul Inggrisnya pun sangat membingungkan bagi saya: Is It Wrong to Pick Up Girl in a Dungeon? Jadi mari kita singkat dengan namanya yang sudah duhafal oleh semua orang saja: DanMachi.

Saya pertama menonton anime DanMachi di tahun 2015 ketika seorang sahabat merekomendasikannya kepada saya. Serial animasi ini pada awalnya mengingatkanku akan anime Sword Art Online, salah satu serial anime yang lumayan kusukai pada masa itu dan saya memberi DanMachi kesempatan. Walaupun memiliki start yang terbilang lambat, saya makin lama makin suka dengan serial ini, terutama memasuki tiga hingga empat episode terakhirnya. Saya merasa bahwa dua episode terakhir serial ini memiliki pembangunan hingga klimaks yang sangat bagus – dan sangat membuatku menanti-nantikan season berikutnya.

Sayangnya harapan itu tak kunjung datang. Ada rumor bahwa DanMachi tidak mendapatkan rating yang cukup baik sehingga serialnya tidak dilanjutkan (seperti yang terjadi pada No Game No Life) dan itu membuat saya sedikit kecewa. Harapan sempat timbul ketika di tahun 2017 ada serial spin-off dari animasi ini dibuat, Sword Oratoria, yang berfokus pada karakter Ais Wallenstein. Dan ternyata harapan itu tidak tinggal harapan, empat tahun setelah season 1 nya berakhir, DanMachi kembali dengan season 2. Ke mana petualangan kali ini akan membawa Familia Hestia?

Anime ini memiliki setting di kota Orario di mana ia merupakan satu-satunya kota yang memiliki Dungeon di dalamnya. Para petualang bebas untuk memasuki Dungeon di dalam kota ini, yang berbentuk sebuah Tower / Menara yang menjulang tinggi. Nah, yang membuat kota Orario ini unik adalah ini merupakan satu-satunya kota di mana para Dewa tinggal bersama dengan manusia dan membentuk klan mereka (disebut Familia). Para Dewa (kebanyakan dari Yunani) memiliki banyak petualang yang turut bersama mereka. Ada Loki Familia, Apollo Familia, Ares Familia, Hermes Familia, dan banyak lagi – bagi kalian yang pernah membaca Percy Jackson… ini hampir sama. Karakter utama dalam anime ini adalah Bell Cranel, satu-satunya anggota dalam Hestia Familia. Seiring dengan perjalanannya di season pertama, Bell dan Hestia yang merupakan underdog mulai mendapatkan hormat dari anggota-anggota Familia lain, dikarenakan keteguhan dan semangat Bell mendaki dungeon Menara Babel.

Di season kedua ini fokus cerita berubah dari penjelajahan Dungeon menjadi politik antar para Familia di Orario. Seperti yang bisa ditebak setiap Dewa-Dewi di kota Orario ini memiliki sifat nyentrik mereka sendiri-sendiri. Itu membuat keluarga-keluarga tertentu terkadang bertikai. Dalam season ini keluarga Hestia terlibat pertikaian dengan dua keluarga Dewa-Dewi besar di Orario: Apollo dan Ishtar. Setelah dua story arc ini (masing-masing terdiri dari empat sampai lima episode), jalan cerita dari DanMachi season 2 kemudian berfokus pada hubungan antara Hestia dan Bell.

Bagi saya season kedua dari DanMachi adalah penurunan dari season pertamanya. Sebenarnya saya tidak masalah dengan anime yang berusaha membedakan season pertama dan kedua, toh kalau jalan ceritanya sama terus pasti penonton juga jenuh dan bosan. Masalahnya season kedua dan season pertama ini memiliki jalan cerita yang benar-benar berbeda – dan kehilangan spirit DanMachi. Praktis Bell tidak menjelajahi Dungeon sama sekali di season ini dan malah terlibat konflik yang, bagi saya, tidak penting dengan keluarga-keluarga Dewa lainnya. Satu hal yang lebih menjengkelkan adalah pertikaian dengan keluarga Ishtar yang memiliki tujuan menyelamatkan karakter dari keluarga tersebut. Ini mengingatkan saya dengan jalan cerita di season pertama yang diulang kembali oleh DanMachi.

Di akhir season pertama sebenarnya sudah ada hint-hint yang menunjukkan sosok Bell bukan sekedar seorang Adventurer biasa. Akan tetapi lagi-lagi saya harus gigit jari melihat ide tersebut tidak dieksplorasi lebih lanjut di sini. Malahan, seakan mengejek kita, season 2 kembali menyebar sedikit hint-hint lagi mengenai dunia Orario yang jauh lebih menarik ketimbang jalan cerita utamanya (rivalisme keluarga Hestia versus Apollo dan Ishtar).

Tak hanya kualitas cerita saja yang menurun di season ini tetapi juga kualitas animasinya. Studio J.C. Staff yang bertanggung jawab untuk season pertama anime ini kembali lagi di sini tetapi secara keseluruhan detail dan gerakan animasi di season ini masih di bawah dari season pertamanya – kendati sudah ada jeda empat tahun antaranya. Untung saja paling tidak lagu opening dan ending season ini: Hello to Dream dan Sasayaka na Shukusai masih enak didengar.

To be honest, saya harus mengaku kalau DanMachi Season 2 adalah sekuel yang mengecewakan dari anime yang sudah saya harap-harapkan selama empat tahun. Saya masih akan mengikuti season ketiganya (akan dirilis Summer 2020 nanti) karena sudah kepalang tanggung menonton serial ini dan saya masih berharap mereka akan membuka lebih banyak tabir misteri dunia Orario di season ketiga, tetapi saya tak berharap banyak darinya lagi.

Score: 5.0

One comment

Leave a Reply