Zombieland: Double Tap

Ketika film Zombieland keluar di tahun 2009 dulu genre Zombie belum meledak jadi mainstream seperti sekarang. Kendati trilogi Living Dead sudah jadi cult classic dan di tahun 2004 sutradara muda Zack Snyder mencuri perhatian melalui remake Dawn of the Dead, genre tersebut masih sesuatu yang disukai penggemar-penggemar pop culture secara lebih terbatas. Lansekap dunia Zombie berubah total ketika komik karangan Robert Kirkman diadaptasi oleh stasiun AMC: The Walking Dead. Serial Zombie tersebut langsung laris manis di pasaran dan dengan cepat diikuti berbagai spin-off. Di dunia layar lebar pun film Zombie banyak mendapat film-film baru termasuk World War Z yang mencetak sukses besar di seantero dunia. Hadir sepuluh tahun setelah film orisinilnya, masih bisakah Zombieland: Double Tap menghadirkan sesuatu yang baru?

Tallahassee, Colombus, Wichita, serta Little Rock masih bersama setelah survive bareng-bareng di akhir Zombieland yang pertama. Akan tetapi hubungan keempatnya yang semula dekat bak keluarga mulai menjadi stagnan. Setelah mereka berdiam di White House (yang sudah tidak ditempati) perubahan besar terjadi dalam kehidupan mereka, Wichita dan Little Rock meninggalkan Tallahassee dan Colombus dan memutuskan untuk kembali berangkat dalam perjalanan masing-masing.

Kecewa karena keputusan dari keduanya, kedua cowo ini tak disangka-sangka bertemu dengan seorang survivor lain bernama Madison. Tak lama kemudian Wichita kembali dan mengatakan kalau Little Rock kabur meninggalkan dirinya. Maka kwartet baru ini pun memulai road trip mereka untuk menyelamatkan Little Rock – sambil tentunya tetap bertahan hidup dari serangan para Zombie.

Zombieland: Double Tap pada dasarnya adalah sebuah road trip movie. Kwartet utama dalam film ini masih diperankan dengan apik oleh Woody Harrelson, Jesse Eisenberg, Emma Stone, dan Abigail Breslin. Kalau harus jujur, setelah satu dekade berlalu bisa dibilang karir dari Woody dan Emma jauh lebih moncer ketimbang Jesse, apalagi Abigail yang praktis terlupakan tetapi untung saja sutradara film ini: Ruben Fleischer tetap memberikan porsi yang sepadan pada kwartet ini untuk bersinar. Saya juga bersyukur film ini tidak berusaha menjadi woke / politically correct seperti kebanyakan film di jaman ini dengan berusaha membuat Tallahassee dan Colombus tampil bloon sementara Wichita dan Little Rock menjadi jagoan penyelamat segalanya. Untuk bahan candaan film ini? Secara unik ia tidak banyak berubah dari sisi tone dibandingkan dengan prekuelnya. Lebih uniknya lagi? Joke-joke tersebut – walau beberapa terasa garing – masih masuk dan lucu untuk era sekarang yang kultural lansekapnya sudah berbeda jauh dari sedekade yang lalu. Mungkin itu dikarenakan chemistry para aktor-artis di film ini, baik yang lawas maupun yang baru, terasa bercampur asyik dari awal hingga akhir.

Di luar kwartet ini film ini juga memperkenalkan beberapa karakter baru dan yang utama adalah Madison dan Nevada. Di antara keduanya saya tidak seberapa peduli dengan Nevada walaupun Rosario Dawson memainkannya dengan apik. Kenapa? Jujur saja Nevada sebagai seorang tough dan kick-ass chick sudah muncul terlalu banyak di berbagai film. She’s boring dan stereotypical these days. Di sisi lain saya sangat – sangat suka dengan Madison. Zoey Deutch berakting dengan sangat pas sebagai Madison yang bodoh tetapi sangat lovable dan tulus. Tentu saja bukan namanya Zombieland kalau tidak menghadirkan cameo sosok aktor yang lumayan populer. Bill Murray muncul di film pertamanya, bagaimana dengan film ini? Silahkan simak sendiri!

Sulit percaya bahwa Zombieland pertama sudah dirilis selama sepuluh tahun lebih. WOW. That’s crazy. Itu waktu yang sangat – sangat lama. Sekedar info saja, ketika Zombieland pertama dirilis Chris Evans bahkan belum menjadi Captain America dan Chris Hemsworth belum menjadi Thor! How crazy is that? Di sisi lain permintaan yang tetap antusias akan film ini menunjukkan bahwa Zombieland adalah sebuah film humor / zombie klasik yang tak lekang dimakan jaman. Mengingat sekuelnya tetap sama mengasyikkannya dengan film pertamanya, saya harap kalau memang mau menggenapkan film ini menjadi trilogi – jangan sampai menunggu waktu sepuluh tahun lagi!

Score: B+

2 comments

Leave a Reply