American Factory

Di era globalisasi sekarang jarak antar dunia semakin dipersempit. Ada begitu banyak perusahaan di Amerika yang membuka pabrik di Cina sana, seperti Apple, Nike, dan banyak lagi. Bagaimana sebaliknya? Rupa-rupanya ada juga perusahaan di Cina yang sekarang membuka pabrik di Amerika. Salah satu perusahaan tersebut adalah Fuyao yang membuka pabrik di kota Dayton, Ohio. Kota Dayton beberapa tahun lalu mengalami pukulan besar bagi ekonomi mereka ketika pabrik GM yang menjadi salah satu nadi ekonomi bangkrut dan membuat ribuan orang kehilangan pekerjaan mereka. Kedatangan Fuyao di tahun 2015 bak sebuah harapan cerah yang baru bagi kota Dayton… tetapi apakah tabrakan kultur antara adat timur dan adat barat mengancam harapan ini?

Film dokumenter yang disutradarai oleh Steven Bognar dan Julia Reichert ini adalah salah satu dokumenter terbaik yang saya tonton tahun ini. Saya terkejut bahwa film ini (yang didanai oleh keluarga Obama) bahkan bisa diproduksi mengingat isinya bisa dibilang kontroversial. Akan tetapi saya senang bahwa kedua sutradara: Bognar dan Reichert tak berusaha memihak dalam mengedit narasi film ini. Sangat mudah bagi mereka untuk menggambarkan para pekerja Amerika (blue-collar workers) sebagai pemalas dan bos-bos di China sebagai sosok yang otoriter. Pada kenyataannya, dunia kerja tak semudah hitam – putih. Di satu sisi kita ditunjukkan sisi pekerja Amerika yang sudah terbiasa dengan standar keamanan saat bekerja dan standar permintaan kerja yang… lebih santai. Ini tentu kontras dengan pekerja-pekerja di negeri Cina yang karena adalah negara bekas komunis, orang-orangnya sudah terbiasa lebih giat bekerja dan lebih serius dalam pekerjaan mereka.

Narasi dalam film ini adalah bagaimana beberapa pekerja di Fuyao makin lama makin merasa tidak puas bekerja di sana dan memutuskan untuk mencoba membuat sebuah Worker Union (Serikat Pekerja). Tanyakan kepada pemilik bisnis di manapun di dunia ini kata apa yang mereka takuti dan saya jamin selain Pajak jawaban yang akan kalian dapat adalah Serikat Pekerja. Begitu juga dengan sang pemilik usaha Fuyao. Ia dengan tegas menyatakan bahwa kalau Serikat Pekerja dibentuk maka efisiensi kerja akan terhambat dan perusahaan takkan mendapatkan keuntungan. Dan kalau sudah begitu caranya lebih baik ia menutup pabrik di Amerika dan berfokus di China saja. Sedikit ironis melihat kenyataan bahwa China sekarang lebih menerima sistem Kapitalisme dibandingkan Amerika yang malahan sibuk memperjuangkan hak buruh mereka (sesuatu yang dahulunya sinonim dengan sosialisme / komunisme).

Akan tetapi tak semua hal yang ditunjukkan dalam film American Factory semata-mata kelabu dan penuh permusuhan. Kendati memiliki kultur yang berbeda dan kadang bahkan kesulitan memahami bahasa masing-masing, beberapa karyawan Fuyao Amerika bisa bersahabat baik dengan Fuyao China, momen-momen kecil ini sangat membantu dalam memanusiawikan dan mengingatkan pada penonton bahwa tak peduli dari negara apapun, mereka semua pekerja yang berjuang mencari nafkah hidup. Di sisi lain ada sisi-sisi kecil yang saya tangkap dari film ini dan mungkin tak disadari oleh Bognar dan Reichert. Salah satu ‘pemimpin’ pekerja membuat Serikat Pekerja disyut dengan nasib malang sepanjang film. Ia digambarkan kehilangan pekerjaannya dan harus menumpang di rumah saudaranya. Ia merasa gajinya sedikit walau sudah mendapat pekerjaan baru dan ia mau berjuang untuk tambahan-tambahan keuntungan lain bekerja di Fuyao. Yang menggelikan? Tak lama setelah ia mendapatkan pekerjaan baru rupanya ia langsung pindah ke apartemen baru. Narasi mengatakan bahwa apartemennya sempit dan ia takut harus kembali ke basement saudaranya lagi, tapi saya melihat ia sudah ‘mampu’ membuang-buang uang untuk menghias apartemennya dengan hiasan Natal dan pohon Natal. Menunjukkan betapa banyaknya orang Amerika yang buta pendidikan finansial. Tak heran kaum blue-collar workers rata-rata melarat.

American Factory adalah salah satu film terbaik di tahun 2019 lalu. Ini adalah sebuah film yang patut kalian tonton untuk tahu benar tantangan yang dihadapi oleh Indonesia. Banyak orang Indonesia yang mengeluhkan kalau investor luar negeri jarang mau datang ke sini. Kenapa mereka mau kalau pekerja-pekerja di negara lain seperti China dan Vietnam jauh lebih mudah diatur dibandingkan Indonesia? Kalaupun mereka mendirikan pabrik di Indonesia dan pekerjanya rupanya sulit diatur, apa yang akan menghalangi mereka melakukan sistem mesinisasi seperti yang dilakukan Fuyao Amerika ketika karyawannya semakin ‘sulit’ diatur? Ini adalah sebuah pertanyaan yang perlu direnungkan, didiskusikan, dan dicari jalan keluarnya. A movie that made us think and talk. Now that’s a movie worth to praise.

Score: 9

Leave a Reply