1917

Teknik pengambilan film One Shot adalah sebuah teknik pengambilan film yang terkenal dilakukan dalam banyak film dan serial TV. Teknik ini seringkali dipuji karena tingkat kesulitannya yang tinggi, tidak heran karena itu juga ada banyak serial TV dan film menjadi terkenal karena memakai teknik ini. Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir saja saya bisa ingat beberapa contohnya. Dalam serial TV True Detective memakai cara ini di klimaks salah satu episode di season pertamanya. Dalam film bioskop ada dua film yang saya ingat memakai cara ini: Birdman yang memenangkan penghargaan Oscar beberapa tahun silam serta One Cut of the Dead yang merupakan satu dari film favoritku tahun 2018 lalu.

Walaupun sudah ada beberapa contoh yang spektakuler di beberapa tahun terakhir saya tetap saja tertarik untuk menonton 1917 begitu mendengar sutradara Sam Mendes memakai cara ini untuk menyutradarai film epik perang terbarunya: 1917. Tanpa berusaha merendahkan film-film lain, benak saya merasa tak percaya kalau strategi pengambilan gambar seperti ini bisa diaplikasikan dalam film perang. Bagaimanakah hasilnya?

Bisa ditebak dari judulnya film 1917 mengambil setting di tahun 1917, tepatnya salah satu momen penentuan di Perang Dunia I. Selama beberapa tahun terakhir pasukan dari Inggris dan Jerman terlibat dalam sebuah perang di mana kedua belah pihak tidak dapat maju dan tidak dapat juga mundur. Tak disangka-sangka suatu hari tentara Jerman memutuskan mundur dari garis pertahanan mereka. Momen ini disiapkan oleh tentara Inggris untuk melakukan serangan pengejaran musuh yang mundur dengan harapan mereka bisa memenangkan perang secara absolut. Yang tidak disangka oleh pasukan Inggris adalah pasukan Jerman sebenarnya sudah menyiapkan lini pertahanan yang lebih kuat di belakang untuk menjebak dan membantai pasukan Inggris. Lebih buruk lagi, lini belakang pasukan Inggris sudah tak dapat menghubungi lini depan dikarenakan saluran telepon bawah tanah mereka diputus oleh tentara Jerman. Dalam kondisi ini terpaksa dua orang tentara ditugaskan untuk membawa berita ini ke garis depan.

Tema film ini sebenarnya sangat sederhana: delivery mission. Jadi apa yang membuatnya begitu spektakuler sampai memenangkan penghargaan di mana-mana? Jawabannya: karena pencapaian teknis DAN akting para karakter di dalamnya. Orang semua memuja-muji bagaimana pengambilan one take film ini terlihat sangat rapi dan memang begitu adanya. Saya hanya bisa melihat ada empat sampai lima transisi yang ‘kentara’ diputus walaupun Mendes mengatakan film ini sebenarnya memiliki lebih dari 40 take yang disambung menjadi satu kesatuan – menunjukkan editing yang luar biasa rapi. Akan tetapi pengambilan sinematografi yang bagus bukan satu-satunya alasan kenapa film ini apik. Mendes juga sangat jago membangun tensi cerita. Walaupun bagi orang yang tidak tahu banyak mengenai Perang Dunia I, cara karakter-karakter yang ada membicarakan mengenai No Man’s Land dan bahaya menginjakkan kaki di luar trench (atau gorong-gorong yang digali tentara untuk bertahan) membuat penonton sadar betapa seriusnya misi ini. Itulah kenapa ada tensi yang sangat jelas di bioskop di mana saya menonton ketika misi keduanya dimulai. Mendes tak melulu memakai serangan baku tembak untuk membangun ketegangan yang ada, cukup dari atmosfir penceritaan saja.

Sementara paruh pertama film ini terasa menegangkan, adalah paruh keduanya ketika waktu memasuki malam hari di mana film ini menunjukkan keunggulan teknisnya. Mulai dari teknik pengambilan one shot yang terus diterapkan sampai bagaimana lighting mewarnai langit malam dicampur dengan bayangan dan siluet orang… it’s just a great moment begging to be experienced in the big screen. Dan saya tak mau banyak bicara soal klimaks film ini. Ada yang mengatakan bahwa film ini adalah magnum opus dari sinematografer Roger Deakins, saya pribadi berpendapat ia HARUS memenangkan piala untuk kategori sinematografi di Oscar tahun 2020. Awas kalau tidak!

Sedari tadi saya berbicara soal teknis dari film ini tetapi sebenarnya akting dari kedua aktor utama yang terbilang ‘nobodies‘ pun baik. George MacKay dan Dean Charles Chapman menginjeksikan humanity dalam film ini yang membuat kita peduli dengan keduanya. Ini yang membedakan 1917 dari film perang Dunkirk dari Christopher Nolan. Saya merasa biasa dengan Dunkirk walaupun film tersebut juga terbilang luar biasa dari sisi teknisnya, dikarenakan saya tak merasa peduli dengan tentara-tentara di dalam film ini. Sebaliknya dalam 1917, akting dan banter dari kedua aktor muda ini langsung membuat saya relate dengan mereka, membuat saya turut berdoa dan berharap-harap cemas akan keselamatan mereka. Tambahan lagi 1917 bertabur cameo bintang-bintang terkenal Inggris. Apakah kalian bisa menemukan Colin Firth, Mark Strong, Richard Madden sampai Benedict Cumberbatch nongol di film ini?

Apakah 1917 adalah sebuah film yang sempurna? Tidak. Ada beberapa momen di film di mana potongan scene ke scene masih terlihat jelas (tiga yang tak terlalu terlihat kentara dan dua yang sangat jelas). Ada beberapa momen juga di film ini yang terasa dragging dan ada saat di mana pengambilan gambar film ini membuat pusing orang yang menonton – terutama mereka yang tak terbiasa memainkan game FPS. Tapi terlepas dari itu semua, Sam Mendes menuturkan sebuah epik perang secara sederhana dan personal (konon film ini berbasis cerita yang ia dengar dari Kakeknya yang adalah seorang Veteran Perang Dunia I). This is a movie that needs to be experienced in the big screen.

Score: 8

Leave a Reply