Ip Man 4: The Finale

Ketika franchise Ip Man pertama kali muncul di tahun 2008 tidak ada orang yang menyangka film ini bakalan menjadi franchise Kung Fu paling terkenal di Hong Kong selama satu dekade terakhir. Film ini juga mengangkat nama Donnie Yen yang tadinya dikenal sebagai aktor laga kelas dua di belakang Jackie Chan dan Jet Li menjadi aktor laga Hong Kong yang paling terkenal. Sementara Jackie Chan dan Jet Li sudah semakin tua dan makin enggan melakukan film-film martial arts lagi, Donnie Yen justru identik dengan film laga di dekade terakhir. Tak hanya itu, Ip Man pun membuka jalan bagi Donnie Yen ke panggung Hollywood.

Ip Man yang tadinya saya sangka hanya akan ada satu film saja kemudian berlanjut dengan sekuel: Ip Man 2 di tahun 2010 dan Ip Man 3 di tahun 2015. Awalnya banyak pihak merasa bahwa Ip Man 3 seharusnya menjadi pamungkas dari franchise ini, menutup trilogi Ip Man. Bahkan Donnie Yen pun menyatakan keengganannya untuk melanjutkan kisah ini lagi karena merasa sosok Ip Man sudah oversaturated di pasaran. Tapi ternyata entah karena iming-iming uang atau skrip yang kuat, Donnie Yen kembali untuk terakhir kalinya dalam film keempat. Kali ini benar-benar sudah pengakhiran, terbukti dengan tajuknya: The Finale.

Di akhir Ip Man 3 sang maha guru Wing Chun ini harus kehilangan istrinya karena sakit. Seiring bertambahnya usia Ip Man, hubungannya dengan sang anak pun makin merenggang karena tak adanya sang istri. Sang anak ingin belajar Wing Chun sementara sang ayah lebih ingin anaknya menempuh pendidikan formal di sekolah. Keduanya pun terlibat dalam perang dingin. Di saat yang bersamaan murid Ip Man yang paling terkenal: Bruce Lee, membuat geger publik Amerika karena kemauannya berbagi rahasia Kung Fu kepada orang asing. Langkah Bruce Lee ini mengundang polemik di kalangan orang Cina Perantauan Amerika yang merasa bahwa Kung Fu seharusnya menjadi rahasia dari negara Cina bukan untuk disebar-sebarkan kepada orang Amerika yang rasis.

Ip Man 4: The Finale adalah sebuah film penutup saga Ip Man yang sangat mengecewakan. Selama ini setiap entri film Ip Man memiliki ciri khasnya sendiri yang membuatnya tetap enjoyable untuk diikuti. Film pertama Ip Man mengobarkan patriotisme negeri Cina di masa penjajahan Jepang. Film kedua Ip Man berkisah mengenai bagaimana Hong Kong di bawah kolonialisme Inggris perlahan belajar untuk berdiri sendiri. Film ketiga Ip Man berusaha untuk tidak tampil politis ala dua film sebelumnya dan mengedepankan hubungan Ip Man dengan istrinya. Menonton Ip Man 4: The Finale ini terasa mengecewakan dikarenakan ia seperti pengulangan persis dari film kedua dengan tone rasisme yang berlebihan.]

Film ini mengangkat tema-tema pendatang di Amerika (dalam hal ini orang Cina) dan bagaimana orang Cina yang datang ke Amerika dibully dan diperlakukan secara tidak adil oleh ras kulit putih. Sementara hal itu mungkin ada benarnya, patut dilihat juga bagaimana kelakuan dari orang Cina di sana. Banyak di antara mereka juga sama-sama berlaku rasis – terbukti dengan bagaimana asosiasi rakyat Cina di sana menentang Bruce Lee yang dianggap buka rahasia Kung Fu kepada orang Amerika. Walhasil film Ip Man 4 ini jadi munafik – menuding orang kulit putih rasis sementara mereka sendiri sama rasisnya. Yang lebih parah adalah bagaimana sepanjang film tak digambarkan satupun sosok kulit putih yang simpatik dengan Kung Fu – padahal mereka belajar Karate yang asalnya dari Jepang! Asal tahu saja, di masa itu orang Amerika bakalan kesulitan membedakan siapa orang Jepang dan siapa orang Cina. Bagi mereka semua orang Asia Timur sama saja!

Donnie Yen di film ini didampingi oleh beberapa aktor campuran dari belia dan tua: Untuk mereka yang muda ada sosok Vaness Wu mantan anggota F4, Vanda Margraf yang paras cantiknya mencuri perhatian banyak orang, dan tentu saja Danny Chan yang tampil sebagai Bruce Lee (dan mirip dengan Bruce Lee muda!). Di sisi lain dari spektrum umur yang dewasa ada Wu Yue yang menjadi rival dari Ip Man (mengisi posisi Sammo Hung di film Ip Man 2). Bagaimana dengan sosok antagonisnya? Apabila film Ip Man 2 punya Darren Shahlavi dan Ip Man 3 punya Mike Tyson maka Ip Man 4 punya Scott Adkins. Bagi kalian-kalian yang suka dengan film Martial Arts Amerika seharusnya sudah kenal Scott Adkins yang muncul dalam film-film genre tersebut. Di sini Adkins tampil one-note jadi penjahat menyebalkan. Yah sekali lagi, saya hanya bisa mengelus dada. Saya mencoba membayangkan perasaan Scott Adkins yang di dalam skrip tampil sebagai seorang rasis yang brengsek padahal aslinya tentu tidak begitu. Adkins adalah seorang aktor yang sangat hormat dengan Martial Arts dari Asia Timur, sampai-sampai ia mempelajari berbagai jenis Martial Arts. Pantaskah ia diberi peranan seperti ini?

Saya bermimpi seandainya saja Ip Man 4: The Finale memiliki skrip yang lebih baik, ia seharusnya mengambil tema “Martial Arts“. Bagaimana Ip Man selama hidupnya begitu mencintai Wing Chun dan refleksi mengenai kenapa ia begitu mencintai Wing Chun. Apabila saja refleksi itu yang dilakukan maka akan menjadi sebuah penutup yang pas untuk saga Martial Arts terapik dekade lalu. Sungguh sebuah kesempatan yang tersia-siakan. Jadi apakah Ip Man 4: The Finale film yang bagus? Tidak. Saya bahkan tak menyarankan penonton melihatnya dan menutup saga Ip Man di film ketiganya saja. Koreografi pertarungan masih seru dan Donnie Yen masih tampil apik walau usianya sudah 56 tahun… but this is not the finale I was expecting.

Score: 4

Leave a Reply