Kuroko no Basket

Di Indonesia setahu saya ada dua manga bertema basket yang terkenal. Yang pertama adalah Slam Dunk karya Takehiko Inoue dan yang kedua adalah Harlem Beat. Keduanya adalah manga yang lumayan tenar di masa rilisnya dulu. Akan tetapi setelah itu terjadi vakum yang cukup lama. Berbagai manga bertema olahraga memang ngetop tetapi tidak mengangkat tema Basket. Sebut saja Prince of Tennis yang mengangkat tema Tenis, Haikyuu tentang bola Voli, atau Eyeshield 21 yang mengangkat tema American Football. Akan tetapi di Jepang sendiri ada sebuah manga bertema bola basket yang cukup ‘nendang’ – walau tak sampai seheboh Slam Dunk. Judulnya adalah Kuroko no Basket.

Kuroko no Basket mengisahkan perjuangan dari SMU Seirin untuk menjadi SMU terbaik di Liga SMU Jepang. Ini tidak mudah dikarenakan klub bola basket dari SMU Seirin termasuk baru dibentuk dua tahun yang lalu. Dengan kata lain mereka bahkan tidak punya anggota yang kelas 3! Pun begitu hanya dengan anggota yang semuanya kelas 1 saja, SMU Seirin mampu masuk ke jajaran final propinsi mereka sebelum akhirnya gagal merebut tiket ke kancah nasional. Di tahun yang baru ini mereka ingin mengejar mimpi untuk masuk ke kancah nasional dan menjadi SMU terbaik seantero Jepang! Bisakah?

Kuroko no Basket sendiri berfokus kepada dua karakter utama: Tetsuya Kuroko dan Taiga Kagami. Taiga adalah seorang pemain basket dari Amerika yang baru pulang ke Jepang dan ingin melanjutkan bermain basket. Di sisi lain Kuroko adalah bagian dari The Generation of Miracles di SMP Teiko, SMP yang sangat kuat karena mampu memenangkan penghargaan SMP terbaik di Jepang selama tiga tahun berturut-turut. Semua itu memungkinkan karena Teiko memiliki lima orang pemain super hebat yang disebut The Generation of Miracles. Kuroko sendiri bukan bagian dari kelima orang tersebut tetapi dia disebut The Phantom Sixth Man – alias orang keenamnya.

Di masa SMU keenam pemain dari The Generation of Miracles ini terpisah ke sekolah SMU yang berbeda-beda dan semua mencanangkan untuk membawa SMU mereka menjadi yang terbaik di Jepang. Bisakah SMU Seirin menumbangkan mereka satu per satu dan membuktikan bahwa merekalah yang layak menjadi SMU terbaik di Jepang?

Hal pertama yang harus kalian ketahui dalam membaca Kuroko no Basket: ini bukan manga tentang olahraga yang realistik. Dalam manga olahraga ada berbagai tingkat kerealistikan dalam penggambarannya. Ambil contoh Slam Dunk dan Offside yang tergambar secara cukup realistik. Di sisi lain Captain Tsubasa, Eyeshield 21, dan Prince of Tennis jelas fiktif. Di luar itu ada juga beberapa manga yang fiktif tetapi masih believable: Haikyuu dan Shoot termasuk dalam golongan ini… dan begitu juga Kuroko no Basket.

Apa sih bagian fiktif dari Kuroko no Basket? Satu hal yang pasti adalah setiap kemampuan dari Generation of Miracle yang harus dihadapi SMU Seirin. Ada satu pemain yang memiliki kemampuan menembak 3 poin dari manapun di lapangan, ada satu pemain yang memiliki kemampuan meniru kemampuan pemain lain secara sempurna, ada lagi pemain yang bisa melihat masa depan (what the hell?), dan banyak lagi. Akan tetapi di luar kemampuan dari para Generation of Miracle yang terang-terangan fiktif alur cerita dalam Kuroko no Basket tergolong cukup realistik.

Toh manga tentang olahraga tak melulu harus berfokus kepada olahraganya saja tetapi juga pada karakter-karakternya. Dan di sini Kuroko no Basket cukup berhasil. Perlu diingat bahwa setiap manga bertema olahraga yang berhasil adalah mereka yang mampu membuat klub protagonisnya menjadi endearing. Bukan rahasia kenapa saya sampai hari ini masih bisa menyebut (hampir) setiap anggota di klub SMU Kakegawa-nya Shoot dan tim Deimon Devil Bats disebabkan karena kecintaanku terhadap tim tersebut! SMU Seirin sedikit terlambat dalam hal ini karena hampir selama 10 volume pertamanya ia terlalu sibuk membahas mengenai hubungan antara Kuroko dengan Taiga dan rivalitas mereka dengan para anggota Generation of Miracles. Baru setelah itu karakter-karakter SMU Seirin yang lain mulai mendapatkan kesempatan mereka untuk bersinar. Itu semua membawa SMU Seirin dalam klimaks yang sangat seru ketika semua pemain utama DAN cadangan memiliki momen-momen mereka sendiri untuk bersinar di dalam permainan.

Satu hal lain yang saya juga suka dari Kuroko no Basket adalah betapa bersih dan jelasnya paneling yang dilakukan oleh sang mangaka Tadatoshi Fujimaki. Basket adalah sebuah olahraga tim dan terkadang menggambarkan ‘flow’ cerita bisa menjadi hal yang sulit untuk dilakukan. Akan tetapi Fujimaki mampu menggambarkan momen-momen yang terjadi di lapangan dengan jelas sehingga pembaca tak pernah kesulitan mengikuti flow cerita dan ritme pertandingan yang ada.

Secara keseluruhan Kuroko no Basket yang berjumlah 30 volume / tankoubon bukan sebuah manga serian yang super panjang. Ia berakhir TEPAT sebelum ia menjadi membosankan dan kepanjangan. Manga ini tak pernah sampai pada level legendaris macam Slam Dunk dan Shoot tetapi secara keseluruhan, this is still an enjoyable manga to read from start to finish. Kalau suka basket, give it a try.

Score: 7

Leave a Reply