Sands of Destruction

Masa-masa saya paling aktif bermain game adalah di tahun 2004 – 2009. Itu adalah era di mana GBA disusul dengan Nintendo DS dan PSP tengah mencapai masa keemasan mereka. Di kala itu hampir setiap bulan muncul JRPG, salah satu genre favorit saya, yang bisa kumainkan. Beberapa dari mereka sampai hari ini masih saya anggap sebagai game-game favorit yang pernah saya mainkan. Sebut saja titel seperti The World Ends With You, Final Fantasy VII: Crisis Core, sampai Jeanne D’Arc. Akan tetapi begitu banyaknya game handheld yang hadir di saat itu membuat beberapa JRPG kemudian luput untuk bisa saya mainkan, salah satunya adalah Sands of Destruction.

Sekarang era Nintendo DS dan bahkan penyusulnya Nintendo 3DS sudah tewas. Akan tetapi dengan adanya perlambatan ekonomi (curhat colongan), saya memiliki lebih banyak waktu menganggur dan karenanya bisa mencicipi game-game yang saya dulu lewatkan. Salah satunya adalah Sands of Destruction. Game ini dirilis di tahun 2010 – di akhir era Nintendo DS dan peralihan ke Nintendo 3DS. Saat itu saya sudah sibuk memainkan Nintendo 3DS sehingga game-game di handheld pendahulunya itu tak lagi saya perhatikan. Padahal Sands of Destruction hadir dari tim developer yang cukup legendaris: imageepoch. Tim ini sudah cukup berpengalaman menggarap berbagai macam JRPG seperti seri Luminous Arc (yang lumayan saya suka) di Nintendo DS. Tak hanya itu, Sands of Destruction memiliki cerita yang ditulis oleh Masato Kato, penulis yang bertanggung jawab menulis kisah Chrono Trigger, Chrono Cross, dan juga Xenogears. That’s a great resume! Seakan melengkapi kolaborasi ini musik dalam Sands of Destruction juga digubah oleh rekan Kato: the legendary Yasunori Mitsuda. Pas sudah.

Premis cerita dalam Sands of Destruction sendiri menarik. Dalam kebanyakan JRPG kamu bertanggung jawab untuk menyelamatkan dunia. Tidak kali ini. Di sini Kyrie, sang karakter utama, justru bertanggung jawab untuk kehancuran dari desanya. Setelah menghancurkan desanya Kyrie kemudian direkrut oleh Morte – seorang gadis yang tergabung dalam World Annihilation Front, sebuah grup radikal yang ingin menghancurkan dunia. Alasan dari WAF sangat sederhana: dunia yang ditempati Kyrie, Morte dan lain-lainnya adalah sebuah dunia yang tatanannya rusak: ras manusia di dunia ini dianggap inferior oleh ras feral (ras yang berwujud binatang) dan kebanyakan manusia dijadikan budak. Ketimbang membiarkan dunia terus seperti ini, Morte punya mimpi untuk sekalian membuat dunia kiamat saja dengan cara membunuh empat pilar elemen dunia ini. Bisakah Kyrie dan Morte melaksanakan tugas mereka dan menghancurkan dunia?

Sands of Destruction adalah sebuah JRPG yang… sangat mengecewakan. Terlepas dari premis cerita yang orisinil, tak ada satupun hal baru yang ditawarkan oleh RPG ini. Mari kita bedah satu per satu aspek-aspek yang ada di dalam RPG ini.

Yang pertama: gameplay. Kendati game ini dirilis di Amerika di tahun 2010, ia awalnya sudah dipublikasikan dulu di Jepang di tahun 2008 dan gameplay game ini sungguh terlihat uzur saat ini. Saya sangat jengkel dengan rate Random Encounter di dalam game ini. Rasanya baru lima sampai enam kali melangkah saya bertemu musuh, beberapa kali lagi melangkah sudah bertemu musuh lagi. Padahal dungeon-dungeon di Sands of Destruction terbilang sulit dan memerlukan fokus penuh untuk menavigasinya. Memecah perhatian menavigasi dungeon untuk berubah ke battle mode dan kembali lagi pada mode penjelajahan sangatlah menganggu.

Sistem Battle dari game ini sendiri sebenarnya cukup menarik di mana setiap karakter memiliki dua mode Attack yang berbeda dan bisa dirangkai menjadi Kombo yang lebih mematikan. Selain itu setiap karakter memiliki Special Attack mereka masing-masing. Yang saya sayangkan adalah untuk enam karakter yang bisa kamu pakai tak semuanya memiliki kekuatan yang berimbang. Ada karakter-karakter tertentu seperti Rhi’a yang terasa overpowered sementara karakter lain macam Taupy atau Morte terasa sangat underpowered. Pun begitu secara keseluruhan sistem Battle dalam Sands of Destruction saya anggap passable. Tidak ada yang spesial – tetapi tidak juga membuat saya frustasi. Bagi para newbie dunia JRPG mungkin akan mengalami sedikit kesulitan di bagian-bagian akhir game, terutama kalau kalian tidak rajin untuk grinding selama permainan.

Faktor kedua adalah segi audio visualnya. Sands of Destruction sangat mengecewakan dalam hal ini. Tentu saja Nintendo DS bukan sebuah handheld yang powerful dan tidak logis bagi saya mengharapkan grafik yang sekeren game JRPG era sekarang seperti Fire Emblem: Three Houses. Tapi bahkan untuk JRPG di era itu pun Sands of Destruction terasa sangat hambar secara visual. Design dunia dan karakter-karakter yang ada terasa sangat biasa. Dominan warna kuning mengingat dunia mau kiamat terasa membosankan di mata. Setali tiga uang dengan warna-warna di dungeon yang kerap kali one note dan dominan dengan satu warna tertentu. Dungeon merah? Dungeon biru? Dungeon hijau? Ada.

Segi Audio-nya? Kalau ada orang yang mengatakan kalau ini musik gubahan Yasunori Mitsuda saya pasti tidak percaya. Dari awal sampai akhir tidak ada satupun musik yang menggugah hati. Semuanya hanya musik generik RPG yang maaf saja – bikin sakit telinga. Di luar dugaan malahan voice acting dari tiap-tiap karakter game ini lumayan baik, walaupun tidak adanya opsi dua bahasa antara Jepang dan Inggris lagi-lagi merupakan nilai minus dari game ini.

Terakhir adalah Play Time dalam game ini. Sands of Destruction adalah sebuah game yang sangat – sangat – sangat pendek. Total jalan cerita utamanya mungkin bisa dituturkan hanya dalam lima sampai enam jam saja. Saya curiga bahwa game ini memiliki begitu banyak Random Battle dan Dungeon yang sulit untuk dinavigasi (ditambah Cutscene yang TIDAK BISA dipercepat) adalah untuk ‘menambah lemak’ alias memperpanjang waktu permainan game ini. Bahkan dengan segala tambahan itu saja saya masih bisa menyelesaikan game ini di bawah waktu 25 jam. Para kompletionist yang ingin menyelesaikan semua sub-quest yang ada (tidak banyak) pun saya rasa masih bisa menyelesaikan game ini di bawah 30 jam.

NIh dapat pantat saja.

Jadi my final verdict is… Skip it. Keputusan saya untuk dulu melewati Sands of Destruction sudah benar. Hampir tidak ada nilai positif dalam game ini. Jalan cerita yang makin ke belakang makin tidak jelas, gameplay yang sudah uzur, sampai audio visual yang generik membuat game ini ingin saya destruct saja.

Score: 3

Leave a Reply