Castlevania: Circle of the Moon

Di tahun 1997 Konami mengubah apa yang kita kenal dari franchise Castlevania dengan perilisan Symphony of the Night. Dengan karakter utama Alucard, game ini tidak memiliki level game seperti Castlevania pada era 8-bit, 16-bit, maupun portabel (di Gameboy). Sebaliknya rilisan Symphony of the Night mengubah Castlevania menjadi sebuah petualangan di kastil raksasa Dracula, serupa dengan apa yang ditawarkan oleh Super Metroid. Campuran antara Platform 2D dan RPG ini mendapatkan pujian banyak orang. Begitu dicintainya format ini sampai-sampai para gamer tak bisa ‘pindah hati’ pada game Castlevania berformat 3D yang hadir di Nintendo 64.

Empat tahun kemudian Nintendo merilis handheld bernama GBA. Handheld ini merupakan penerus sesungguhnya dari handheld Gameboy yang ketika itu usianya sudah sedekade lebih (Gameboy Color bisa dibilang hanya merupakan update semata dari Gameboy). Di antara sekian banyak launch title untuk GBA, adalah Circle of the Moon yang menarik perhatian banyak orang. Konami melalui divisi KCEK (sekarang sudah tidak eksis lagi) menjanjikan sebuah petualangan sedahsyat Symphony of the Night – tetapi di portabel GBA. Bisakah mereka melakukan tugas sehebat itu? Melihatnya sekarang jawabannya jelas berhasil dan itulah kenapa ada lima seri Castlevania hadir dengan format serupa baik di GBA (dua lagi setelah Circle of the Moon dan tiga di Nintendo DS). Saya sudah memainkan lima game tersebut dan kurang memainkan Circle of the Moon saja. Hampir 20 tahun setelah game ini dirilis, saya berkesempatan memainkannya. Does it hold up?

Karakter dalam Circle of the Moon tidak datang dari franchise-franchise Castlevania yang lawas, bahkan settingnya sebenarnya ada di alternate universe: sebuah game dalam format Gaiden Universe, karena itu tak perlu heran kenapa karakter-karakter khas Castlevania seperti keluarga Belmont maupun Belnades tak ada di sini. Sebagai penggantinya saat Dracula dibangkitkan oleh laskarnya yang bernama Camilla: adalah trio Morris, Hugh, dan Nathan berusaha menghentikannya. Morris yang merupakan sesepuh dan pernah mengalahkan Dracula dulu langsung tertangkap sementara Hugh dan Nathan dilempar oleh Dracula ke basement kastilnya. Lebih gawatnya lagi Hugh tak mau bekerja sama dengan Nathan dan memutuskan untuk menjelajahi kastil seorang diri. Bisakah keduanya mengesampingkan perbedaan mereka dan lantas menyelamatkan Morris serta mengalahkan Dracula?

Cerita tidak pernah menjadi poin kuat dalam Castlevania kecuali di seri-seri tertentu (bagi saya cerita terbaik Castlevania hanya di Symphony of the Night dan Aria of Sorrow saja) dan Circle of the Moon bukan pengecualian. Bisa dibilang cerita ini hanya sekedar alasan saja untuk Nathan berkeliling di kastil Dracula seorang diri. Toh siapa yang main Castlevania untuk cerita bukan? Satu hal yang mengejutkanku adalah betapa impresifnya Circle of the Moon, bahkan untuk rilisan tahun 2001. Ada puluhan variasi musuh yang harus dihadapi oleh Nathan di dalam petualangannya dan semuanya memiliki pola serangan dan jurus yang berbeda-beda. Dan itu semua tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan boss fight yang dihadapi Nathan. Boss di dalam Circle of the Moon tidak banyak – jumlahnya kurang dari 10 – tetapi kekurangannya dalam kuantitas ditutupi dengan kualitas. Dengan pengecualian dua boss, setiap boss di dalam game ini minimal membuat saya Game Over satu kali. Oleh karena itu setiap pertarungan terasa ganas, brutal, serta epik. Kamu praktis masuk dalam pertarungan hidup dan mati setiap kali menghadapi Boss, apalagi untuk Boss terakhirnya. Ada orang yang bilang Order of Ecclesia adalah Castlevania ala Metroidvania yang tersulit. Seusai menamatkan Circle of the Moon saya tertawa terbahak-bahak akan statement tersebut. Ya, Order of Ecclesia mungkin masih game Metroidvania kedua yang tersulit, tetapi kalau menilai tingkat kesulitan Circle of the Moon di skala 10 maka Order of Ecclesia hanya skala 3.5 saja (yang lainnya berkisar antara skala 1 – 2). Yes, this game will KICK YOUR ASS.

Better say YES!

Salah satu alasan kenapa Circle of the Moon sangat sulit adalah kontrol dari game ini. Saya tidak mengatakan kalau kontrol game ini buruk karena kontrolnya sangat responsif. Yang menjadi masalah adalah game ini memang didesign untuk sosok Nathan bergerak lebih kaku dibandingkan Alucard, Juste, Soma, dan para protagonis Castlevania lainnya. Pergerakan dari Nathan sekaku Simon Belmont dari Castlevania klasik non-Metroidvania. Dengan kata lain kamu tak bisa sekedar mengandalkan reflek kecepatan kamu saja saat bermain tetapi juga harus menghafalkan pola serangan musuh. Jangankan menghadapi Boss… menghadapi beberapa musuh yang ‘biasa’ saja saya kerap kewalahan menghindari serangan mereka. Dengan tambahan tidak adanya toko di Castlevania ini, semakin sulit lagilah eksplorasi di kastil Dracula.

Tingkat kesulitan yang tinggi di game ini tak berarti menjadikannya jelek. Sebaliknya saya justru merasa tertantang dengan Circle of the Moon. Mengalahkan setiap Boss memberikan sensasi kepuasan sendiri, terutama setelah saya harus melakukan grinding belasan menit untuk menaikkan level Nathan supaya mencukupi dalam melawan mereka. Circle of the Moon juga memperkenalkan sistem kartu yang bernama DSS alias Dual Set-up System. Dalam game ini ada dua jenis kartu yang bisa kamu dapatkan dari musuh (tergantung jenis musuhnya dan drop rate tiap kartu juga berbeda-beda): ACTION dan ATTRIBUTE. Nah, setiap kartu ACTION bisa kamu kombinasikan dengan ATTRIBUTE untuk menghasilkan efek yang berbeda-beda bagi Nathan. Mengingat ada 10 kartu ACTION dan 10 kartu ATTRIBUTE, itu berarti kamu bisa mendapatkan 100 efek berbeda dalam game! Bisa dibilang ini merupakan cikal bakal dari sistem-sistem unik yang diimplementasikan di setiap Castlevania berikutnya seperti Soul System dalam Aria of Sorrow.

Bedanya tingkat kesulitan yang tinggi di Circle of the Moon ‘memaksa’ gamer untuk menjadi kreatif. Kalau kamu ingin melalui bagian-bagian tertentu dalam game, kamu harus memakai set-up yang unik. Saya pernah kewalahan di sebuah arena bernama Clock Tower karena serangan musuh begitu random dan sulit dijangkau dengan Cambuk (senjata utama Nathan), tetapi area ini menjadi jauh lebih mudah begitu saya mendapatkan kartu yang bisa saya kombo untuk mengubah senjata Cambuk-ku menjadi Pedang raksasa. Kekreatifan dan keberanian untuk bereksperimen menjadi kunci Nathan (dan gamer) untuk selamat dari serangan para makhluk kegelapan di game ini. Replayability game ini pun tinggi. Ada satu segmen di dalam game ini yang areanya didedikasikan untuk Battle Arena di mana kamu menguji skill kamu menghadapi musuh demi musuh. Dan walaupun Circle of the Moon tak memiliki sistem kastil ganda ala Symphony of the Night, ada belasan daerah dan musuh tersembunyi yang akan mengusik jiwamu untuk mengeksplorasinya hingga 100 persen. Sudah menamatkannya? Kalian yang ingin tantangan berbeda bisa memainkannya lagi! Kali ini dengan mode lain seperti Magician yang memberi Nathan stat yang berbeda – memaksa kalian mengadaptasi gaya bermain kamu di playthrough yang baru.

Circle of the Moon tak memiliki banyak musik baru di dalamnya karena mereka memilih untuk mendaur ulang beberapa theme lama Castlevania (termasuk Vampire Killer bagi mereka yang ingin bernostalgia), akan tetapi untuk beberapa musik theme orisinil yang dia miliki, hasilnya sangat memorable. Saya terkesima mendengar musik ‘Awake‘ (‘Catacombs‘) langsung berdentam seru begitu Nathan memulai eksplorasinya di kastil Dracula. Saya hanya bisa membayangkan ekspresi para gamer di tahun 2001 begitu menyadari betapa kick-assnya musik yang bisa dihasilkan dari handheld mungil GBA di saat itu.

Overall, saya percaya bahwa Circle of the Moon adalah sebuah game Castlevania yang layak untuk dimainkan kalian-kalian yang gemar dengan franchise ini. In many ways it combines the best of the both worlds of Castlevania: versi eksplorasi yang diperkenalkan of Symphony of the Night dan kesulitan level tinggi yang merupakan ciri khas Castlevania klasik. Dan ya, it still holds up 20 years later!

Score: 9

Leave a Reply