Bird Box

Di tahun 2018 kemarin film A Quiet Place garapan John Krasinski mendadak menjadi box office hit yang tak disangka oleh banyak orang. Film tersebut mengejutkan banyak orang karena premis-nya yang sederhana tetapi efektif. Bagaimana apabila manusia di dunia diserang oleh monster yang sangat sensitif pada suara atau bunyi-bunyian? Yang unik, di akhir tahun 2018 ada sebuah film dengan premis serupa dirilis di Netflix (layanan streaming): judulnya Bird Box. Film tersebut menjadi salah satu hit terbesar bagi Netflix. Tidak mengherankan melihat deretan artis yang membintangi film tersebut ditambah dengan budget lumayan besar yang digelontorkan Netflix dalam proses produksinya. Mau tahu deretan nama-nama sosok yang membintangi Bird Box? Sandra Bullock, John Malkovich, Rosa Salazar, sampai Sarah Paulson. Seakan tidak cukup, film tersebut juga disutradarai oleh Susanne Bier yang telah memenangkan penghargaan-penghargaan bergengsi mulai piala Golden Globe sampai piala Emmy. Dengan taburan bakat di dalamnya, apakah Bird Box menjadi sebuah film yang apik?

Film Bird Box diawali dengan premis yang menarik: ada makhluk misterius yang menghancurkan tatanan dunia. Makhluk misterius ini mengerikan sebab ia tak bisa dilihat kasat mata. Dan kalau melihatnya orang tidak akan selamat. Mereka akan mendapatkan halusinasi gila dan lantas bunuh diri… atau lebih parahnya akan menjadi pengikut dari makhluk misterius tersebut. Di awal film Sandra Bullock berperan sebagai Malorie Hayes, seorang Ibu dari dua anak yang berusaha meloloskan diri dari kejaran makhluk tersebut dengan menuju sebuah tempat yang konon aman. Yang mengerikan: ketiga orang ini harus melakukan perjalanannya dengan menutup mata mereka supaya tak bisa melihat si makhluk misterius. Film ini kemudian dituturkan dalam dua runutan: kisah masa kini di mana Malorie dan kedua anaknya berusaha mencapai tujuan dan kisah masa lalu yang mengisahkan bagaimana Malorie bisa sampai pada situasinya di awal film.

Walaupun di atas kertas Bird Box terbagi menjadi dua era yang berbeda: flashback dan masa kini, ternyata film ini jauh lebih banyak berfokus pada era flashback ketimbang sekarang (sekitar 70% berbanding dengan 30%). Ini menjadi nilai positif sekaligus negatif untuk film Bird Box. Di satu sisi Sandra Bullock tak harus mengangkat film ini seorang diri ala Gravity. Ia memiliki banyak artis kawakan lain yang bisa menjadi tandemnya dalam beradu. John Malkovich misalnya, menjadi sosok yang sangat menarik perhatian melalui aktingnya di film ini. Di sisi lain kisah dalam flashback pun jadi lebih mudah tertebak siapa-siapa saja yang tewas dan siapa-siapa saja yang bertahan hidup. Logikanya mudah: “Kan orangnya tidak ada dalam masa sekarang, hal buruk pasti menimpanya dalam masa flashback“. Untung saja akting dari Susanne Bier yang lugas ditambah dengan akting mumpuni dari setiap pemain membuat film ini tetap seru ditonton, walau ada bagian-bagian tengah yang terasa dragging.

Bagian mana dari film ini yang paling baik? Jawabannya tentu saja sepertiga awal film di mana karakter Sandra Bullock berusaha meloloskan diri dari serangan para makhluk misterius sementara di sekelilingnya dunia tengah mengalami kiamat sebab semua orang berlaku gila. Ada unsur chaotic yang membuat bulu kuduk merinding. Di momen inilah Bird Box terasa begitu bersinar. Sungguh sayang sisa film ini tidak pernah bisa menaikkan tensinya sampai sedahsyat itu lagi. Jangan salah, saya suka dengan cast ensembel di dalam film ini dan hampir setiap karakter membawa kepribadian dan dinamika mereka tersendiri dalam grup, tetapi pada akhirnya banter antara mereka pun terasa stagnan memasuki sepertiga akhir film.

Memang sangat sulit untuk tidak membandingkan A Quiet Place dengan Bird Box lantaran kedua film ini tak hanya memiliki premis maupun setting yang sama tetapi juga pesan moral terselubung yang sama. Siapapun yang jeli menonton A Quiet Place akan tahu bahwa di balik invasi alien ada pesan mengenai parenting / parenthood yang terselip di dalamnya. Begitu juga dengan Bird Box: di balik kisah Malorie bertahan hidup di dunia yang kacau setelah kemunculan para monster, terselip sebuah pesan bagaimana Malorie yang hamil saat kekacauan invasi terjadi, belajar menjadi seorang Ibu bagi anak-anaknya. Sayangnya, di mata saya, Susanne Bier tak seberapa sukses menyampaikan hal ini, sehingga pesannya terasa kurang nendang ketika mencapai puncaknya di klimaks film.

So my verdict is… Bird Box masih sebuah film yang apik. Utamanya di momen-momen pembuka film ini, Bier mampu menangkap suasana chaotic dan penuh kebingungan yang terjadi. Intensitas yang tergambar pun membuat saya lupa sejenak tak tengah menonton film ini di layar kecil. Beranjak dari sanapun Bier masih mampu menjaga tensi dan drama sepanjang film, membuatnya sebagai sebuah film thriller yang cocok ditonton bersama keluarga di akhir pekan yang santai. Dan memang, ia tak pernah berusaha tampil lebih dari itu.

Score: 7

Leave a Reply