Finding Chika

Mitch Albom adalah penulis yang silih berganti menulis kisah fiktif dan biografi, dan ia cukup sukses di kedua genre yang berbeda itu. Baik Tuesday with Morrie dan Five People You Meet in Heaven, Albom sukses menyentuh jutaan hati pembacanya. Itu tidak berbeda dengan Finding Chika, buku yang ia tulis untuk mengenang Chika, gadis Haiti yang dirawat oleh Panti Asuhan yang didirikan oleh Albom di Port-au-Prince, ibukota Haiti.

Haiti adalah sebuah negara yang mengenaskan, ini adalah salah satu negara yang terletak di kepulauan Karibia tetapi keadaan ekonominya sangat – sangat miskin. Jangan bayangkan pantai dan pulau yang indah di tempat ini. Yang ada adalah kamu bisa ditembak mati kalau tidak hati-hati menjelajahi kota Port-au-Prince. Apakah kalian bisa menebak apa yang kemudian terjadi setelah Haiti diguncang oleh sebuah gempa bumi yang luar biasa dahsyat sedekade lampau? Ribuan orang meninggal dunia, banyak bangunan infrastruktur hancur, dan penduduk yang tadinya sudah miskin menjadi tambah miskin lagi. Haiti terancam menjadi sebuah negara tanpa hukum. Bahkan bantuan-bantuan dari luar negeri pun tidak bisa menolong banyak kondisi di tempat tersebut.

Di saat itulah tempat Panti Asuhan Mitch Albom kedatangan seorang gadis bernama Chika. Tak lama setelah gempa bumi terjadi Ibu dari Chika meninggal dunia dan Godmother (ibu asuh) sang bayi menyerah merawat anak tersebut dan menitipkannya kepada Panti Asuhan. Setelah beberapa bulan pertama, Chika tumbuh dengan baik sebagaimana anak-anak lain di tempat tersebut. Baik itu relatif, tetapi paling tidak keadaan Chika jauh lebih lumayan daripada anak-anak yang tak bisa ditampung di Panti Asuhan tersebut, akan tetapi sebuah masalah kemudian timbul kembali.

Dalam usia relatif muda, jaringan otak dari Chika rupanya mengalami kerusakan yang parah: sebuah mutasi dalam otaknya yaitu Tumor. Kebingungan dengan kondisi Chika membuat Mitch Albom dan istrinya membawa sang anak datang ke Amerika. Di sana mereka dihadapkan pada suatu fakta yang pahit: tumor Chika adalah tumor ganas yang mencapai stadium lanjut. Usia dari Chika tak diharapkan bisa lebih dari empat bulan saja. Tak ingin menyerah kalah dengan tumor, dimulailah perjuangan dari Albom, istrinya, dan Chika untuk melawan tumor tersebut.

Tidak ada keajaiban yang terjadi di buku ini. Mitch Albom sudah menyatakan itu di awal buku. Chika pada akhirnya kalah menghadapi tumor yang dideritanya – sebagaimana begitu banyak pejuang kanker / tumor lainnya. Akan tetapi ini tak membuat buku ini lantas sia-sia untuk dibaca. Sebab di dalam buku ini Albom mencurahkan semua perasaannya di atas kertas. Segala kebahagiaan yang membuncah di hatinya ketika ia mendapati Chika masuk dalam hidup ia dan istrinya. Sebagai tambahan informasi saja; Albom dan istrinya menikah ketika usia mereka sudah cukup terlambat dan ini membuat kehamilan menjadi hal yang sulit bagi mereka. Bisa dibayangkan betapa remuknya hati Albom ketika melihat Chika, yang perlahan tapi pasti ia anggap sebagai anaknya sendiri, makin lemah karena penyakit tumor yang dideritanya.

Yang membuat memoir akan Chika ini terasa lebih apik lagi adalah bagaimana Albom menarik pelajaran hidup dari dua memoir yang ia tulis sebelumnya: Tuesday with Morrie dan Have a Little Faith di dalam buku ini. Di saat masa-masa susah makin memberatkan langkahnya, pelajaran yang Albom dapat dari sang Profesor dan Rabi-nya sangat membantu Albom (dan istrinya) untuk melangkah maju menghadapi masalah-masalah itu. Itu termasuk ketika bocah Chika meraung-raung menghadapi kemoterapi-nya bahkan pertikaian antara Albom dan istrinya ketika beradu argumen mengenai apa metode pengobatan terbaik yang harus diberikan untuk Chika.

Satu-satunya hal yang saya kurang sreg dari buku ini adalah bagaimana format penulisan novel ini oleh Albom. Saya suka dengan bagian penuturan Albom mengenai hari-harinya dengan Chika, tetapi sayangnya ada ciri khas Albom menuliskan kisah dengan elemen supernatural yang tak dapat ia lepaskan. Format penulisan dalam cerita ini adalah: Albom seakan merasakan keberadaan dari arwah Chika yang sudah meninggal berbicara dengannya dan meminta Albom menuliskan cerita mengenai dirinya. Bukannya menyentuh, saya malahan merasa bagian ini sangat cringe, tidak masuk akal, dan menganggu kenikmatanku membacanya. Untung saja bagian fiktif macam ini tak memakan banyak halaman buku. Saya suka dengan karya-karya fiktif Albom yang menggunakan metode ini (For One More Day adalah salah satu karya favoritku dari Albom yang menggunakan metode yang serupa tapi tak sama) tetapi menuliskannya untuk kisah nyata berbentuk memoir jelas bukan buku yang tepat memakai metode penulisan ini.

Pada akhirnya terlepas dari kekurangan minor tersebut, Finding Chika adalah sebuah buku bagus yang berkisah mengenai bagaimana keluarga itu tak selalu harus terkoneksi dengan darah. Yes, you can totally find family even if you are not related by blood. Ini sebuah buku yang uplifting di mana kamu bisa menemukan sebuah keluarga dan juga buku yang sangat relatable bagi kalian yang pernah kehilangan anak atau orang terkasih dalam kehidupanmu. Dan pencapaian terhebat yang dilakukan oleh Albom dengan buku ini? Ia berhasil menuliskan sebuah kisah yang paling personal baginya tetapi di saat bersamaan juga sukses membuatnya relatable bagi para pembaca.

Score: 8

Leave a Reply