Trolls

Salah satu mainan yang populer di Amerika adalah Trolls. Mainan ini sudah ada semenjak tahun 1950an dan entah bagaimana popularitasnya tetap bertahan sampai di era sekarang – walau sempat mengalami naik turun dan pergantian kepemilikan beberapa kali. Terakhir di tahun 2013 merk ini dibeli oleh studio Dreamworks. Dreamworks bergerak cepat dan langsung memproduksi film animasi seputar boneka ini. Di tahun 2016 dirilislah Trolls. Berhasilkah pertaruhan Dreamworks yang membeli merk ini?

Trolls adalah sebuah ras yang bahagia yang hidupnya selalu positif dan ceria. Walaupun kehidupan di sekeliling mereka bisa suram, Trolls selalu menemukan cara mereka sendiri untuk terus tertawa, bernyanyi, dan berpesta. Hal ini sangat berkebalikan dengan ras Bergens, ras raksasa yang hanya bisa menemukan kebahagiaan mereka dengan memakan para Troll. Maka hiduplah para Troll dalam ketakutan sebab kaum Bergens menciptakan pemukiman mengelilingi mereka. Mengingat kaum Bergens jauh lebih besar, mereka bisa dengan mudah menangkap para Troll yang berusaha kabur. Maka hiduplah kaum Troll dalam opresi para Bergens. Muak dengan penindasan ini, raja Troll Peppy, merancang rencana kabur. Sukses. Para Trolls pun sukses kabur dari penindasan kaum Bergens. 20 tahun berlalu dan ketakutan akan para Bergens mulai sirna dari benak para Trolls.

… kecuali untuk seorang Troll bernama Branch. Branch adalah satu-satunya Troll yang paranoid. Sementara para Troll lain selalu berdansa, berpelukan, bercanda ria serta berpesta, Branch selalu menyiapkan diri untuk skenario terburuk – bahwa Bergens akan datang untuk memangsa mereka kembali. Sifatnya ini sangat bertolak belakang dengan anak Raja Peppy: Putri Poppy. Idealisme keduanya yang selalu bertentangan memuncak ketika Bergen benar-benar menemukan tempat tinggal para Trolls yang baru. Walau tak bisa menangkap semua Troll yang ada, sang Bergen bernama Chef mampu menangkap beberapa sahabat Poppy. Raja Peppy tak ingin menyelamatkan para Troll yang tertangkap sebab ia harus melindungi para Troll lainnya sehingga Poppy akhirnya meminta bantuan Branch untuk menyelamatkan sahabat-sahabatnya. Terpaksa mau, duet Branch dan Poppy harus bekerja sama untuk pergi ke kota para Bergen dan menyelamatkan sahabat mereka. Bisakah?

Film Trolls garapan sutradara Mike Mitchell ini familiar sekaligus baru. Apabila kalian sering membaca kisah dongeng jaman cilik dulu saya yakin akan familiar dengan dua jalan cerita yang menjadi basis film ini: Jack and the Beanstalks serta Cinderella. Tetapi terlepas dari inspirasi dari dua kisah dongeng ini, Trolls juga tampil sebagai film animasi yang musical. Mirip dengan Sing (yang juga dirilis di tahun yang sama) film ini banyak dihiasi dengan lagu-lagu berbagai genre yang easy listening. Jangan kaget kalau kalian mendadak saja turut bersenandung dengan lagu-lagu jaman 80an September, Total Eclipse of the Heart, sampai Hello yang dinyanyikan oleh para Trolls ataupun Bergens di film ini. Sayangnya, lagu-lagu lama yang dicover dalam film ini kok rasanya jauh lebih memorable ketimbang lagu-lagu baru yang ada. Untungnya ada satu pengecualian: lagu utama film yang digubah oleh Justin Timberlake: “Can’t Stop the Feeling“, which is a really great song yang mengundang orang berdansa bersamanya.

Satu hal lain yang saya suka dari Trolls adalah animasinya yang penuh warna. Trolls adalah salah satu film animasi paling cantik yang saya tonton karena kayanya semburat warna ala pastel sepanjang film. Saya cukup salut dengan pengarahan teknisnya sebab kalau saja semburat warnanya terlalu berlebihan maka ia akan kelihatan norak. Sebaliknya kalau semburat warnanya terlalu kurang maka esensi Trolls yang mainannya memiliki berbagai macam warna rambut yang berbeda takkan terasa. Salut bagi film ini karena mampu menemukan kombinasi serta kontras warna yang pas. This is a great movie to watch, apalagi kalau menontonnya dalam versi HD.

Jadi apakah film ini sempurna? Tidak juga. Jalan ceritanya cukup klise walaupun tertolong dengan performa voice acting yang bagus dari dua lead utamanya: Anna Kendrick serta Justin Timberlake. Pesan moralnya cukup menyentuh baik untuk anak-anak maupun orang tua yang menemani mereka, walaupun sayangnya saya kecewa konklusi film ini terasa terlalu dimudahkan untuk film yang berani mengangkat tema yang cukup dark di awalnya, bayangkan karakter film ini DIMAKAN, berapa banyak film animasi modern yang masih memiliki tema seperti itu? Jadi pada akhirnya, Trolls punya potensi untuk jadi luar biasa tetapi sepertinya ia cukup puas untuk menjadi cukup baik – dan itu sesuatu yang saya sayangkan.

Score: 8

Leave a Reply