Trolls World Tour

Wabah Virus Corona ini memang sudah mengacaukan banyak aspek kehidupan. Coba lihat, sudah berapa aspek hiburan yang terganggu karena hal ini. Kasino dan Las Vegas: kota yang konon tidak pernah mati sampai tutup semua dan jadi gelap. Liga-liga sepakbola sampai bola basket NBA di seantero Eropa sampai ditunda sampai waktu yang tak ditentukan. Begitu juga untuk hiburan live musik. BTS, para K-pop Idol yang begitu ternama, sampai harus membatalkan konser yang sudah mereka jadwalkan guna mempromosikan album terbaru mereka. Tentu saja industri perfilman tak lolos dari dampak Corona. Banyak sekali syuting film-film blockbuster dihentikan sampai waktu yang belum ditentukan. Bioskop di seantero dunia pun tutup serentak. Jadi bagaimana?

Di saat inilah Universal mencoba mengambil sebuah langkah yang berbeda. Mereka merilis film Trolls World Tour di layanan streaming dan rental VOD (Video On Demand). Ini merupakan sebuah langkah yang berani. Oke, beberapa film layar lebar yang tayang di bulan Januari dan Februari 2020 memang sudah hadir via layanan-layanan digital seperti Birds of Prey, Doctor Dolittle, Sonic, Onwards, dan Bloodshot. Tetapi film-film ini sudah sempat tayang beberapa minggu di layar lebar sebelum ‘dipaksa’ turun. Ini membuat film-film ini mau tidak mau dirilis di format home entertainment. Tapi berbeda dengan Trolls World Tour, film ini sebenarnya masih memiliki opsi untuk beredar di layar lebar nanti saat wabah Corona mereda. Ini adalah sebuah pertaruhan besar bagi Universal. Bisakah mereka ‘menjual’ Trolls World Tour? Atau jangan-jangan Universal tidak pede dengan kualitas sekuelnya sehingga menggunakan kesempatan ini untuk ‘membuang’ film tersebut?

Trolls World Tour adalah sekuel dari film sukses Dreamworks di tahun 2016 lalu tetapi kali ini mengambil proses bercerita yang berbeda. Dalam film ini ternyata ras Trolls tidak hanya satu tetapi enam. Dan keenamnya mewakili genre musik yang berbeda-beda. Kaum Trolls yang kita kenal di film pertama adalah bagian dari Pop Trolls. Tetapi di luar kaum Pop Trolls masih ada kaum-kaum Trolls yang lain: Classical Music Trolls, EDM (Electronic Digital Music) Trolls, Funk Trolls, dan lain-lain. Yang jadi masalah adalah ketika negara Api datang menyerang dan merusak keseimbangan elemen-elemen yang ada.

Eh, maaf. Itu kan ceritanya Avatar: The Last Airbender. Maksud saya Rock Trolls yang mewakili genre Rock dan Hard Rock memutuskan untuk menjajah musik Trolls yang lain. Mereka ingin mengambil dawai musik yang mewakili identitas para Trolls dan mengubah selera musik mereka semua menjadi sama: semua menjadi Rock. Bisakah Poppy dan Branch menggagalkan ambisi dari grup Rock Trolls di bawah pimpinan Ratu Barb?

Akan ada dua grup orang yang saya percaya suka dengan film ini. Yang pertama adalah anak-anak sebab Trolls World Tour masih mempertahankan dunia animasi mereka yang kaya warna. Setiap dunia Trolls yang berbeda memiliki ciri khasnya sendiri seperti EDM Trolls dalam dunia bawah air dan Country Trolls yang bersetting ala kota Wild West Amerika jaman koboi. Tidak hanya itu, musik dan lagu dalam film ini juga merepresentasikan setiap Trolls yang berbeda-beda… dan di sini saya merasa adalah di mana grup kedua akan suka dengan Trolls World Tour: pecinta musik – terutama genre Rock. Memang sih aliran musik Rock di sini dijadikan antagonis utama, tetapi gara-gara itu jadi banyak lagu Rock yang ditampilkan di sini. Penggemar Rock pasti puas. Akan tetapi Trolls World Tour tidak pilih kasih kok karena genre-genre lain juga mendapatkan kesempatan untuk bersinar. Satu-satunya yang saya sayangkan hanya Classical Music Trolls yang agak terpinggirkan walaupun keputusan tersebut masuk akal, sebab musik mereka paling sulit nyampur dengan genre musik lainnya.

Trolls World Tour memiliki pesan moral yang bagus walaupun klise. Sayangnya dibandingkan sang prekuel saya kok merasa kalau ia kurang menggigit. Petualangan dari Poppy dan Branch kali ini lebih terasa seperti rehash dari film pertamanya dan tidak adanya sosok simpatik seperti Bridget mengurangi rasa attachment saya terhadap film ini. Dan karena tema ceritanya, klimaks dari film ini memiliki lagu campuran berbagai genre musik yang kurang menyatu… yah, jauh deh levelnya dari Can’t Stop the Feeling! yang langsung menjadi instant classic itu. Overall, film Trolls World Tour masih hiburan yang menyenangkan untuk ditonton di masa kelabu seperti ini. Everyone do need a little song and adventure to spice up their life, even if the quality is a step beneath its prequel.

Score: 7

Leave a Reply