Onward

Setelah tahun 2010 film-film Pixar kerap menjadi hit and miss di mata saya. Hilang sudah daya magis Pixar yang setiap tahunnya mampu menghiburku dengan setiap film yang mereka rilis. Dulu menantikan film Pixar adalah even tahunan di mana mereka memusatkan semua ide dan tenaga kreatif mereka dalam sebuah film. Hasilnya adalah film-film masterpiece yang menghibur mayoritas penonton dan mampu menyabet penghargaan-penghargaan bergengsi. Akan tetapi setelah tahun 2010 sepertinya studio Pixar mulai kehabisan ide-ide orisinil untuk digarap tiap tahunnya lantas secara bergantian mengeluarkan film orisinil dan sekuel dari film-film mereka sebelumnya. Frekwensi film mereka pun meningkat. Kini penonton tak perlu harus menunggu setahun lamanya untuk sebuah film baru, terkadang ada dua film Pixar yang dirilis dalam waktu setahun. Sayangnya frekwensi yang meningkat ini tidak sama dengan kualitas yang terjaga.

Baru delapan bulan setelah Toy Story 4 dirilis di Amerika, studio Pixar kembali mengeluarkan film berjudul Onward. Di atas kertas film ini punya semua resep untuk sukses. Jalan ceritanya terlihat orisinil, pengisi suaranya bintang-bintang film ngetop dalam Chris Pratt dan Tom Holland, sampai kualitas animasi yang cantik ala standar Pixar biasanya. Pun begitu sebenarnya saya sudah harus curiga. Film Pixar jarang memakai artis terkenal untuk film-film mereka karena mereka percaya dengan kekuatan brand mereka sendiri. Kenapa kali ini justru aspek yang paling dipasarkan dari Pixar adalah nama kedua pengisi suaranya? Dan pertanyaan kedua: kenapa film ini dirilis di bulan Maret dan bukannya liburan musim panas ataupun musim dingin yang menjadi momen rilis andalan Pixar biasanya? Jawabannya: karena Onward rupa-rupanya adalah sebuah karya mediocre dari Pixar.

Kisah Onward adalah kisah dari dua kakak-adik makhluk Elf: Ian dan Barley yang hidup di dunia di mana sihir ada. Akan tetapi sihir sudah begitu lama tak pernah dipakai semenjak kemajuan teknologi sampai-sampai rata-rata orang sudah lupa bagaimana cara memakai sihir. Ian tak peduli dengan sihir tetapi Barley masih sangat menyukainya. Karena sihir rata-rata sudah dilupakan oleh orang maka Barley sekarang hanya main game macam Dungeon & Dragons untuk memuaskan fantasinya bermain sihir (kalau dalam dunia sekarang hobi LARP). Suatu hari saat Ian berusia 16 tahun, ia mendapatkan alat sihir yang konon bisa membawa kembali ayahnya untuk satu hari. Sial bagi Ian, ketika ia tengah melakukan sihirnya hasilnya tidak sempurna dan Ian tidak bisa membawa ayahnya kembali secara utuh – hanya setengah dari badan sang ayah saja. Mengingat sihir sudah dijalankan maka waktu 24 jam pun mulai berdetik, Ian dan Barley harus mencari cara untuk mengembalikan sang ayah menjadi utuh sebelum 24 jam berlalu – dan untuk bisa menghabiskan waktu yang tersisa dengan ayah mereka.

Walaupun judulnya orisinil ternyata cerita yang diangkat oleh Pixar kali ini tidak. Tema kisah road trip sudah pernah diangkat di film lain, tak hanya di luar studio Pixar (The Croods) tetapi bahkan dalam Pixar sendiri (Finding Nemo, Toy Story 2, banyak lagi). Yang saya sayangkan adalah Onwards memiliki ide yang sebenarnya menarik – menggabungkan nuansa fantasi dengan realitas, tetapi tak pernah benar-benar sukses dalam world building-nya. Salah satu hal yang paling menganggu saat menonton? Bagaimana mungkin hampir semua orang di dunia ini sudah lupa caranya menggunakan sihir? Walaupun mungkin rata-rata mayoritas orang sudah melupakannya, seharusnya masih cukup banyak orang yang fasih menggunakan sihir – apalagi mengingat sihir (di film ini) mampu melakukan hal-hal yang teknologi tak bisa lakukan. Ambil contoh dunia manusia sekarang: banyak orang sudah tidak menggunakan TV sebab rata-rata orang bisa melakukan streaming lewat telepon genggam, apakah orang lupa caranya menggunakan TV? Apakah orang lupa caranya memakai HP dengan keypad angka kendati sekarang 95% produksi HP sudah memakai layar sentuh?

Karakterisasi dari dua tokoh utama di film ini juga sangat – sangat klise. Ian adalah sosok yang serius dan sedikit introvert sementara Barley adalah si kakak yang outgoing tetapi kerap memalukan. Dari karakterisasi kedua tokoh utama ini saya yakin kalian sudah bisa memikirkan sendiri apa konflik (wajib) yang akan terjadi antara keduanya nanti. Dan celakanya lagi – tak seperti film Pixar lainnya, film ini tak menawarkan twist apapun yang membuat saya terkejut menontonnya. It all goes on as predicted. Tentu saja mengingat ini film Pixar saya masih terhibur dengan dialognya yang terkadang lucu, humor situational yang terkadang bisa mengocok perut, sampai perkembangan hubungan antara Ian dan Barley di film ini. It’s a solid but ultimately forgettable movie.

Pada akhirnya jangan berharap banyak dari Onward. Ini bukan film Pixar yang buruk dan kalian yang ingin sebuah hiburan ringan di bawah dua jam masih akan mendapatkannya di sini. Akan tetapi beberapa tahun dari sekarang film ini akan masuk dalam kategori yang sama dengan The Good Dinosaur, film Pixar yang dilupakan dari memori banyak orang. This is not a step onwards Pixar, this is a step backwards.

Score: 6

Leave a Reply