Bloodshot

Tanyakan kepada orang-orang apa peran yang identik dengan Vin Diesel? Jawabannya pasti satu: Dominic Torretto. Vin Diesel sudah begitu ikonik memainkan peranan Dom di serial Fast & Furious sampai-sampai orang pasti akan agak kesulitan kalau mengingat dia berperan apa di film di luar franchise tersebut. Beberapa orang yang jeli mungkin akan ingat kalau Vin Diesel juga ikonik dengan karakter Riddick dan Xander Cage sementara mereka yang gemar dengan MCU tentunya mengenali Vin Diesel sebagai pengisi suara Groot. Toh, bisa dibilang 75 – 80% dari karir Vin Diesel ya menjadi si Dominic Torretto.

Nah, Vin Diesel sekarang mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan peranan aktingnya di sebuah franchise baru: Bloodshot. Bloodshot ini adalah film yang diangkat dari graphic novel berjudul sama. Sebelum kalian terburu-buru melihat apakah ia berasal dari DC atau Marvel, tidak perlu, sebab Bloodshot ini hadir dari penerbit Valiant – sebuah penerbit komik Amerika yang jauh lebih kecil ketimbang The Big Two. Sony membeli hak cipta untuk komik Bloodshot dan berencana menciptakan Valiant Shared Universe – karena hey, Shared Universe sedang ngehype. Rencana ini berantakan karena belum apa-apa hak untuk komik-komik Valiant lainnya sudah lepas dari Sony ke tangan Paramount.

Bloodshot mengisahkan tentang seorang tentara bernama Ray Garrison yang sukses menjalankan misinya menyelamatkan sandera dari tangan teroris. Di saat Ray sedang berlibur dengan istrinya mendadak ia tertangkap dan dipaksa untuk membeberkan rahasia misi-misinya. Tentu saja jiwa patriotik Ray memberontak dan membuat ia engga membocorkan rahasia tersebut. Sial bagi Ray, sang penjahat malah jadi marah dan menghabisi istrinya. Tak ingin mengulang pakem membiarkan sang pahlawan hidup untuk balas dendam, sang penjahat juga menembak dan menghabisi Ray. The End.

Eits, tak semudah itu. Jasad Ray disumbangkan oleh pemerintah Amerika ke sebuah korporat underground raksasa yang bertujuan menciptakan super soldier. Entah bagaimana, mereka sukses menghidupkan Ray, menanamkan sebuah implant teknologi Nanite yang membuat Ray praktis tak bisa mati. Tembak kepala Ray? Tidak masalah sebab milyaran Nanite yang ada di dalam tubuhnya akan langsung membenarkan sel Ray. Selama masih ada Nanite aktif di dalam tubuh Ray ia praktis tak bisa mati. Walaupun pada awalnya Ray kehilangan memorinya ia pelan-pelan bisa mengingat kembali masa lalunya. Dengan kekuatan dirinya sebagai seorang super soldier, Ray siap balas dendam…

Film Bloodshot ini menarik ditonton dari awal hingga tengah. Saya jujur cukup suka dengan ide super soldier balas dendam di film ini. Pun menarik adalah twist yang muncul di pertengahan film dan membuat arah film berbelok ke hal yang tidak saya sangka. It’s a nice twist yang membuat Bloodshot lebih dari sebuah film revenge generik biasanya. Akan tetapi sayang cerita ini kemudian malah mudah ditebak alurnya ke mana begitu twistnya ditampilkan di tengah film… dan sampai akhir film ini tak memiliki kartu As lain yang bisa ia pergunakan untuk menjaga minat saya.

Mengingat ini tidak datang dari properti The Big Two saya paham bahwa studio Sony pun tak ingin mengucurkan banyak dana untuk budgetnya. Sayangnya Bloodshot adalah sebuah film yang hanya bisa prima apabila ia memiliki budget tinggi. Efek-efek CG Vin Diesel di film ini saat Nanite harus bekerja memperbaiki sel-selnya yang rusak kualitasnya tak merata, di awal-awal efek CG terlihat cukup baik tetapi makin lama makin terlihat jelek dan kedodoran. Yang paling parah jelas pertarungan di klimaks yang terlihat bagaikan cutscene video game PS3 (itu bukan typo, karena cutscenenya memang lebih buruk dari video game PS4). Saya acungkan jempol ke atas untuk ambisinya, dua jempol ke bawah untuk pelaksanaannya. Sialnya lagi sutradara debutan David S.F. Wilson pun kurang terampil mengambil pengambilan gambar yang dinamis untuk setpiece aksi di film ini. Kemampuannya boleh untuk pengambilan gambar yang statis di mana orang-orang hanya berbicara di satu ruangan tetapi jatuh berantakan ketika orang-orang tersebut berhenti berbicara dengan mulut dan melanjutkan dialog mereka dengan tinju maupun tembakan senjata. Berbagai efek mulai slow motion, close-up untuk menampilkan CG, sampai rotating camera membuat sang sutradara seperti berusaha mencomot dan mengopi gaya pengambilan gambar para sutradara aksi lain dan gagal total dalam melakukannya.

Tentu saja untuk sebuah standar filmnya Vin Diesel kalian tidak perlu mengharapkan kualitas akting yang baik. Vin Diesel is Vin Diesel. Dia sudah berusaha tapi memang kualitas aktingnya hanya begitu saja. Elza Gonzalez di sini tampil sekedar sebagai pemanis layar dan Toby Kebbell maupun Guy Pearce tampil semaksimal mungkin dengan skrip yang diberikan kepada mereka. Garing.

Jadi bagaimana pendapat saya mengenai Bloodshot? Saya sulit percaya bahwa film seperti ini masih bisa masuk layar lebar. Apabila bukan karena nama Vin Diesel saya yakin ia cuma pantas untuk masuk langsung ke streaming semata. Ironisnya, gara-gara wabah COVID-19 yang melanda seantero dunia, film ini hanya tampil seminggu di layar lebar dan langsung masuk ke pasar home video… yang seharusnya sudah menjadi rumahnya sejak awal. Tak usah bermimpi soal Valiant Shared Universe, Bloodshot 2 pun takkan mungkin dibuat!

Score: 5

Leave a Reply