The Way Back

Bagi saya karir dari Ben Affleck itu sungguh menarik untuk dicermati. Affleck pertama muncul sebagai seorang aktor muda bersama dengan sobatnya Matt Damon, mereka berdua merebut perhatian khayalak Hollywood dengan memenangkan Piala Oscar melalui Good Will Hunting. Kemenangan tersebut meroketkan karir keduanya, Affleck kemudian mendapatkan banyak peran film-film Blockbuster mulai dari Armageddon, Pearl Harbour, sampai Daredevil. Akan tetapi tak lama kemudian karir dari Affleck meredup karena ia membintangi terlalu banyak film flop.

Karir Affleck kembali moncer – kali ini dengan peran duetnya sebagai seorang sutradara melalui film-film macam Gone Baby Gone, The Town, dan mencapai puncak saat ia memenangkan Piala Oscar untuk kali kedua melalui Argo. Tentu saja setelah kembali ada di puncak Hollywood karir Affleck lagi-lagi mandeg, ia menjadi Batman dalam Batman v Superman dan bersambung ke Justice League – menjadi lelucon dan dianggap sebagai salah satu biang kerok kegagalan DCEU. Lebih buruknya lagi, pernikahannya dengan Jennifer Garner ambyar dan ia menjadi seorang alkoholik sebagai pelariannya.

Dalam The Way Back Ben Affleck kembali bekerja sama dengan Gavin O’Connor, sutradara yang mengarahkannya dalam The Accountant. FIlm The Way Back ini berkisah tentang seorang pemain basket Jack Cunningham yang brilian di masa mudanya tetapi kini menjadi seorang alkoholik. Gara-gara dia menjadi seorang alkoholik inilah pekerjaannya seperti berjalan di tempat, hubungan rumah tangga dengan istrinya berantakan, dan upaya keluarganya menolong dia mencari pekerjaan yang lebih stabil terus gagal. Dengan kata singkat: Jack sepertinya berusaha menyabotase kehidupannya sendiri.

Kesempatan kedua diberikan kepada Jack saat ia ditawari menjadi pelatih tim bola basket almamaternya dulu: Sekolah Bishop Hayes. Walaupun pada awalnya Jack ragu untuk menerima posisi ini, ia memutuskan untuk mengambilnya demi melatih para anak-anak. Tim bola basket Bishop Hayes sekarang jauh kualitasnya dari era Jack dulu karena mereka sekarang menjadi bulan-bulanan dari tim lawan. Apakah kehadiran Jack bisa mengubah nasib tim ini dan bisakah Jack melepaskan diri dari hantu alkohol yang terus membayanginya?

Kalau kalian berpikir bahwa The Way Back adalah sebuah kisah klise sekolah underdog yang memenangkan kompetisi bola basket SMU – maka pikir lagi. Ini adalah sebuah kisah drama seorang alkoholik: Jack Cunningham. Kisah bola basket, kisah anak-anak di dalam timnya, semua itu hanyalah latar belakang dari pergumulan setiap hari Jack menghadapi masalah alkoholisme dan keluarga yang ia hadapi. Kisah Jack tak langsung dibuka secara jelas dari depan sehingga sebagai penonton kita awalnya akan menganggap Jack sebagai seorang loser. Tetapi secara perlahan tapi pasti kisah yang ditulis oleh Brad Ingelsby ini mengupas apa-apa saja yang terjadi kepada Jack dan membuat sang tokoh menjadi simpatik di mata penonton.

Sulit untuk tak melihat akting Ben Affleck di sini dan berpikir “Apakah Affleck menerima peran ini karena masalah dalam hidupnya?“. Maklum, kisah di sini benar-benar mirip dengan kehidupan nyata Affleck. Coba kalian baca apa berita paling dominan soal Affleck selepas perannya di Justice League sebagai Batman. Jawabannya ada dua: kisahnya yang berperang dengan alkoholisme (beberapa kali ia masuk terapi demi menghilangkan kecanduannya) dan perceraiannya yang menyakitkan dengan Garner. Dan kedua isu tersebut juga merupakan highlight utama film ini. Saya salut dengan akting Affleck. He’s always at his best ketika dia tampil lebih reserve ketimbang outgoing.

Kalian yang mencari sebuah film olahraga underdog yang inspiratif akan kecewa menonton film ini. Tetapi kalau kalian ingin menonton sebuah film tentang bagaimana seriusnya isu alkoholisme tanpa janji iming-iming penyelesaian masalah yang mudah, tontonlah film ini. The Way Back adalah sebuah kisah menyentuh tentang pergumulan seorang pria yang kehilangan segalanya dan berusaha mengoreksi arah hidupnya kembali.

Score: 8

Leave a Reply