Superman: Red Son

Saya masih ingat kata-kata foreword sebelum membaca Superman: Red Son.

‘Good writing challenges the way you think. Great writing changes the way you think.’

Dan di saat itulah saya sadar saya akan membaca sesuatu yang spesial. Superman: Red Son adalah karya Mark Millar ketika sang penulis muda (pada masa itu) belum bekerja untuk Marvel dan terkenal dengan karya The Ultimates-nya (komik tersebut akan menjadi basis bagi Phase 1 dari MCU). Superman: Red Son adalah bagian dari karya Elseworld milik DC dan merupakan komik Amerika pertama yang saya baca secara serius memasuki usia dewasaku (baca: sesudah lulus kuliah). Saya sangat terkesan dengan apa yang saya baca untuk kemudian menjadi seorang pembaca buku komik yang fanatik selama belasan tahun setelahnya. Ketika Superman: Red Son diadaptasi menjadi karya film DC Animated Universe, saya sedikit deg-degan. Berbeda dengan karya-karya yang lain, Superman: Red Son adalah karya yang personal bagi saya dan saya khawatir kalau film animasinya tidak bisa merepresentasikan pesan komiknya dengan baik.

Basis dari cerita Superman: Red Son adalah pertanyaan apa jadinya kalau Superman tidak pernah mendarat di Kansas dan menjadi Clark Kent. Bagaimana kalau Superman ternyata mendarat di sebuah ladang pertanian kecil di Uni Soviet dan tumbuh di sana (bila di komik disebutkan bahwa ia mendarat di Ukraina). Mengingat Superman mendarat di dekade 1940an ia kemudian tumbuh menjadi pemuda dewasa di dekade 1960an – tepat pada masa di mana Perang Dingin antara Amerika dan Uni Soviet tengah mencapai puncaknya. Amerika tentu saja ketakutan akan kalah menghadapi Perang Dingin dikarenakan kekuatan dari Superman membuat poros keseimbangan kekuatan barat dan timur runtuh. Guna menghadapi kekuatan dari Superman, Amerika kemudian meminta bantuan dari Lex Luthor, ilmuwan paling jenius Amerika. Duel antara Lex dan Superman selama berdekade-dekade menjadi kunci dari cerita Superman: Red Son.

Superman: Red Son menjadi kisah yang unik di komik karena ia menuturkan jalan cerita dari dunia paralel yang berbeda. Sekilas lalu kisah ini mirip dengan Watchmen. Seperti halnya Watchmen memasukkan elemen-elemen dunia nyata (seperti Perang Vietnam) dalam kisahnya, Superman: Red Son memakai backdrop Perang Dingin terutama dari era 1950 – 1970an (setelahnya dunia berubah terlalu jauh karena interferensi Superman, membuat sejarah di 1980an berbeda total dengan yang kita kenal). Tidak hanya Superman saja yang mengalami perubahan di sini tetapi juga karakter-karakter lain. Yang unik, masing-masing masih mempertahankan ciri khas mereka. Lana Lang, misalnya, di sini berubah menjadi seorang gadis Ukraina bernama Svetlana, masih teman kecil yang pertama menyadari kekuatan Superman. Dan peranannya pun sama. Lana Lang adalah gadis pertama yang mendorong Superman menunjukkan kekuatannya kepada dunia dan peran tersebut juga dijalani secara simbolik oleh Svetlana di sini. Dari antara semua reimajinasi yang ada, favorit saya adalah Batman. Saya ingat benar bagaimana saya pertama kali jatuh cinta kepada sosok Batman adalah di dalam komik ini, sosok yang disebut Anarchy in Black. Untung saja peranan Batman dalam komik ini tidak banyak berubah.

Sementara jalan cerita utama dalam versi animasinya ini masih sama, saya agak kecewa bahwa sosok Wonder Woman di sini banyak diubah oleh DC. Saya paham kalau karakter Wonder Woman dalam versi komiknya memang sedikit kasar dan tak sesuai dengan gambaran idealis seorang Wonder Woman lazimnya. Akan tetapi itu juga yang terjadi pada karakter Superman dan Batman (dalam komiknya). Kenapa ketika adaptasi filmnya dibuat sosok Superman dan Batman dengan segala flaw mereka dipertahankan sementara sosok Wonder Woman seakan mau ‘disucikan’ dosanya? Saya hanya tertawa masam. Kekuatan feminisme di balik layar kembali bekerja, sepertinya. Satu lagi perubahan besar yang dilakukan dalam komik ini adalah pada momen endingnya. Dalam endingnya film ini memiliki momen yang manis yang menggambarkan hubungan Superman dan Lex Luthor – momen tersebut tak pernah bisa direalisasikan secara maksimal di dalam film ini. Dari semua perubahan versi animasinya, perubahan inilah yang saya nilai paling mengecewakan.

Secara keseluruhan, Superman: Red Son versi animasi adalah film yang bagus, tertolong karena source material yang memang luar biasa. Kualitas pengisi suaranya top notch di mana Jason Clarke mampu membawakan logat Russia Superman dengan meyakinkan. Adegan aksi – walaupun bukan bagian besar dari film ini – tetapi dikoreografi secara maksimal. Dan yang terpenting: 80% jalan cerita dalam komiknya mampu direalisasikan di dalam film ini, untuk itu saja saya sudah patut bersyukur dan mengacungkan jempol kepada sutradara Sam Liu. Buat yang ingin tontonan Superman yang berbeda dari biasanya, Superman: Red Son boleh jadi pilihan.

Score: 7

2 comments

Leave a Reply