Fire Emblem: Three Houses

Setelah entri Fire Emblem: Awakening, mendadak franchise Fire Emblem menjadi salah satu franchise andalan Nintendo di Amerika. Hal ini unik dikarenakan sebelum game tersebut Fire Emblem tidak pernah bisa memasuki pasar Amerika. Banyak yang mengatakan bahwa tingkat kesulitan dalam Fire Emblem: Awakening yang lebih rendah, ditambah dengan nama baik yang mulai dibangun Intelligent System dengan franchise Advance Wars di GBA menjadi kunci bagi kesuksesan game tersebut. Fire Emblem melanjutkan dominasinya di Nintendo 3DS dengan satu game besar yang dibagi dalam tiga entri: Fire Emblem Fates yang dibagi dalam Birthright, Conquest, dan Revelations. Bagaimanapun suksesnya Awakening dan Fates, para gamer masih menanti, kapankah Fire Emblem akan hadir dalam format konsol dan bukan handheld semata?

Jawabannya datang di dalam konsol Nintendo Switch. Saat Nintendo Switch diumumkan, orang tahu bahwa kedatangan Fire Emblem tinggal menunggu waktu saja. Benar saja, sebuah entri bernama Three Houses diumumkan. Di dalam game ini karakter utama kamu yang bernama Byleth akan bisa menjadi guru dari sekolah militer Garegg Mach Monastery. Pilihanmu akan jatuh pada salah satu dari tiga ‘rumah’ atau faksi yang ada:

  1. Black Eagle, rumah di mana anak-anak Noble dan Commoner dari Kekaisaran Adrestian bersekolah.
  2. Blue Eagle, rumah di mana anak-anak Noble dan Commoner dari Kerajaan Faerghus bersekolah.
  3. Golden Deer, rumah di mana anak-anak Noble dan Commoner dari Leicester Alliance bersekolah.

Perhatikan bahwa saya menyebutkan kata Noble (Bangsawan) dan Commoner (orang biasa) di dalam deskripsi di atas. Ini dikarenakan benua Fodlan, lokasi dari ketiga kekuatan ini memiliki pembagian strata kelas antara para Bangsawan dan orang biasa. Bangsawan atau Ningrat biasanya dianugerahi dengan simbol Crest di tubuhnya, sebuah simbol yang dalam permainan akan memampukan mereka menggunakan senjata tertentu atau menggunakan sihir tertentu yang tak bisa dipakai orang biasa. Ini juga membuat interaksi antara para Bangsawan dan orang biasa berbeda. Ada murid-murid Bangsawan yang easygoing alias mau bergaul dengan orang-orang biasa, sementara ada juga para Bangsawan yang secara angkuh mengakui bahwa mereka hanya ingin bergaul dengan kaum Ningrat lainnya.

Terlepas dari adanya ketegangan antar kelas sosial di Fodlan, situasi politik juga makin kompleks karena hubungan damai yang semu antara ketiganya. Kekaisaran Adrestian merasa benci dengan Kerajaan Faerghus dan Leicester Alliance karena dahulu kala kedua kekuatan tersebut adalah bagian dari mereka – sebelum kemudian memberontak dan lantas memisah-misahkan diri. Membuat keadaan lebih kompleks, sejarah di balik benua Fodlan pun beberapa disimpan rapat oleh Gereja Seiros, salah satu faksi netral dalam pertikaian ketiga kekuatan politik – tetapi memiliki pasukan dan kekuatan cukup besar untuk dianggap sebagai kekuatan politik sendiri. Dengan begitu banyaknya kekuatan yang ada dan ketegangan di bawah permukaan – tidak mengherankan bahwa kamu dan anak-anak di Garegg Mach Monastery akan terbawa dalam perang yang menentukan masa depan benua Fodlan.

Jalan cerita dalam Fire Emblem: Three Houses menawarkan replayability yang cukup tinggi. Seperti yang ada pada judulnya kamu bisa memilih tiga jalan cerita utama dengan menjadi guru kelas-kelas yang berbeda. Tetapi selain tiga rumah itu, kamu juga bisa beraliansi dengan kekuatan keempat: Gereja Seiros. Itu berarti untuk benar-benar mengapresiasi jalan cerita dari game ini, kamu harus menyelesaikannya sampai empat kali. Mengingat satu playthrough bisa memakan waktu sekitar 50 jam (semakin berkurang untuk New Game+) maka total jendral jangan heran kamu bisa membuang lebih dari ratusan jam menyelesaikannya… dan ini belum dengan memainkan DLC tambahan yang sudah dirilis oleh Nintendo (menambahkan fitur House keempat, the Fourth House).

Untung saja game ini memiliki begitu banyak hal yang bisa dilakukan sehingga memainkannya berulang tidak pernah terasa membosankan. Game ini memiliki lebih dari 20 karakter di mana kamu bisa membangun relasi bersama mereka. Waktu-waktu personal ngobrol dengan mereka membantu kamu untuk tahu background story setiap karakter tersebut. Siapa sangka gadis muda yang sepertinya galak-galak tsundere diam-diam menyimpan penyakit yang membuat usia hidupnya tak panjang lagi? Atau siapa sangka pria playboy itu sebenarnya melakukannya karena perasaannya sudah ‘mati’ sebab selama hidupnya ia hanya dihargai karena Crest yang ia miliki – bukan karena dirinya? Banyak backstory dari setiap karakter membuat murid-murid yang kamu ajar itu semakin ‘hidup’. Bahkan, kalau kalian menjalin hubungan yang baik dengan murid dari kelas lain, mereka bisa minta untuk dipindah ke dalam kelasmu dan bertarung untukmu.

Di setiap hari Minggu kamu juga bebas melakukan hal apa saja. Bila di hari Senin – Sabtu kamu melakukan tugas kamu untuk mengajar murid-murid (meningkatkan skill mereka di bagian-bagian tertentu), hari Minggu adalah waktu di mana kamu bisa melakukan satu dari empat aktivitas utama ini:

  1. Explore: Kamu bisa mengeksplorasi Garegg Mach Monastery, belajar meningkatkan skill kamu sebagai pengajar, menangkap ikan, berkebun, menjalin relasi dengan murid-murid atau staf pengajar lain, sampai menikmati waktu minum teh bersama dengan mereka.
  2. Seminar: Kamu bisa menghadiri seminar yang dilakukan oleh guru-guru lain untuk meningkatkan skill kamu secara lebih signifikan daripada biasanya.
  3. Battle: Adalah saat di mana kamu bisa menjalankan sidequest Battle di luar cerita utama (biasanya untuk mendapatkan equipment lebih kuat, atau mendapatkan background cerita yang lebih dalam untuk karakter-karakter tertentu).
  4. Rest: Opsi ini sangat tidak disarankan karena praktis kamu hanya akan beristirahat, memulihkan staminamu dan mereparasi salah satu senjata paling kuat di dalam game, tetapi bisa untuk melakukan hal lain.

Setelah satu bulan selesai (biasanya terdiri dari 3 – 4 hari Minggu Free Time yang bisa kamu pakai) jalan cerita akan bergerak maju menjelang pengakhiran bulan di mana kamu akan memulai Battle ‘besar’. Berbeda dengan Battle-Battle yang kamu jalani di pertengahan bulan dan skalanya relatif kecil, setiap Battle yang harus kamu lakukan di akhir bulan selalu berasa epik dan masif. Adalah kepuasan tersendiri melihat semua hasil didikanmu selama sebulan, baik dari meningkatkan level, meningkatkan skill dari para murid, sampai mendapatkan equipment-equipment terbaik membuahkan hasil di saat pertarungan akbar dimulai. Fire Emblem adalah sebuah game franchise yang sangat ditentukan oleh taktik dan strategi, dan Three Houses bukan pengecualian. Persiapan yang baik selama sebulan adalah kunci kemenanganmu di akhir bulan!

Kunci lain dari kemenangan kamu adalah bagaimana kamu membangun Job Class dari karakter-karakter yang kamu pakai. Setiap karakter ‘biasa’nya memiliki template tertentu. Menjadi seorang Swordsman, Black Mage, Lancer, White Mage, dan sebagainya. Akan tetapi kalau kamu mau kreatif ada cara tertentu untuk bisa menggabungkan kemampuan-kemampuan mereka. Kamu bisa memperkuat skill Magic dari seorang Swordsman dan mengevolusi mereka menjadi seorang Mortal Savant misalnya, yakni seorang yang kuat dengan ilmu pedang tetapi juga maut menggunakan sihirnya menghabisi musuh. Kebebasan bereksplorasi ini membuat gamer akan tertarik menciptakan pasukan terkuat mereka masing-masing. Akan tetapi kalau ada satu kelemahan di dalam game ini, saya menilai bahwa unit ‘Flying’ atau terbang terlalu kuat. Bagi penunggang Pegasus maupun Wyvern bisa mengeksplorasi Map jauh lebih cepat daripada mereka yang hanya menunggang kuda atau jalan kaki. Dengan tambahan mereka bisa bergerak lagi setelah menyerang, ini membuat unit ‘Flying’ selalu menjadi Job kesukaanku.

Mengingat Fire Emblem: Three Houses ini dirilis di Nintendo Switch, tidak mengherankan bahwa ini juga menjadi game Fire Emblem yang paling cantik dan luas. Belum pernah titel Fire Emblem sebelumnya memberi kesempatan kamu mengeksplorasi base kamu secara detail mulai dari ruangan Chapel paling atas sampai deretan kios Merchant di ujung. Dalam playthrough pertama dan keduaku saya masih asik mencari beberapa sidequest dan item khusus yang disembunyikan di playground yang besar ini. Bagi kalian yang cinta dengan voice acting dalam bahasa Jepang pun tak perlu khawatir karena game ini menyematkan opsi dua bahasa: Inggris dan Jepang dalam dialognya. Saya suka keduanya dan merasa bahwa keduanya digarap dengan sangat profesional. Musik dalam Fire Emblem: Three Houses ditangani oleh tiga komposer: Takeru Kanazaki, Hiroki Morishita, dan Rei Kondoh dan gubahan musik mereka sangat berkesan. Mulai dari theme Battle yang seru sampai theme Minum teh bersama yang playful, range musik yang dimasukkan dalam Fire Emblem: Three Houses luar biasa memanjakan telinga.

Ada yang bilang bahwa setting dan cerita Fire Emblem: Three Houses adalah elemen terkuatnya. Saya… tidak merasa demikian. Maklum, setting dengan elemen murid yang harus berperang sudah pernah saya mainkan sebelumnya (and no, it is NOT Harry Potter the Game). Saya sudah pernah memainkan game yang mengangkat tema serupa dalam Trails of Cold Steel dan Valkyria Chronicles II. Keduanya memiliki jalan cerita yang mirip: kisah para murid di akademi militer yang terpanggil dalam perang. Bahkan untuk kasus Trails of Cold Steel mereka juga mengangkat tema pembagian strata untuk kaum Bangsawan dan orang biasa seperti halnya Fire Emblem: Three Houses. Still, Fire Emblem: Three Houses melakukan tugasnya dengan baik. Saya hanya tidak suka kalau orang menyatakan seakan-akan ia adalah game pertama yang melakukan hal ini. It isn’t.

Pada akhirnya ijinkan saya menutup review ini dengan sebuah statement: kalau kamu punya Nintendo Switch maka Fire Emblem: Three Houses adalah sebuah game yang wajib kamu mainkan dan wajib masuk dalam koleksimu. Untuk sebuah entri Fire Emblem ia tergolong mudah (lebih mudah dibandingkan Awakening) dan beginner-friendly sehingga tak perlu takut kewalahan memainkannya. Dan bagi penggemar Strategy RPG yang belum punya Switch, kalau kalian ingin sebuah alasan membeli sistem Nintendo itu, I can’t give you a much better reason than this game. Definitely one of the best game on the Switch.

Score: 9

Leave a Reply