Shenmue

Di tahun 1999 nama besar Sega tinggal kenangan. Beberapa tahun sebelumnya, di masa peralihan generasi 16-bit ke 32-bit, Sega membuat blunder besar, mereka merilis sebuah dua proyek 32-bit di saat yang bersamaan sehingga membingungkan para gamer.

Flashback di tahun 1995, konsol Genesis pada saat itu kewalahan bertanding dengan SNES. Usia Genesis yang uzur terlihat kesulitan bersaing dengan game-game megah yang mengoptimalkan kekuatan SNES, seperti Super Metroid dan Donkey Kong Country. Tidak hanya itu, Sony sudah bersiap akan merilis konsol mereka yang bernama Playstation, menambah ancaman bagi Sega. Sayangnya cabang Sega Amerika dan Jepang menciptakan strategi yang berbeda untuk menghadapi tantangan-tantangan baru ini. Perpecahan antara Sega Jepang dan Sega Amerika membuat strategi kedua perusahaan berjalan sendiri-sendiri. Sega Amerika merilis sebuah konsol upgrade bernama Sega 32x, menjanjikan sebuah upgrade yang bisa mengubah Genesis dari mesin 16-bit menjadi 32-bit. Akan tetapi di saat yang bersamaan Sega Jepang merilis konsol 32-bit yang berdiri sendiri bernama Sega Saturn. Karena fokus Sega terpecah seperti ini, kedua produk tersebut gagal total di pasaran dan mengikis kepercayaan pasar dan gamer terhadap Sega. Baik Sega 32x dan Sega Saturn tidak memiliki koleksi game yang cukup untuk menarik minat gamer dan gagal total bersaing dengan Sony Playstation dan Nintendo 64.

Sega meminta maaf kepada para gamer dan berjanji akan belajar dari kesalahan mereka. Hanya dua tahun dari masa perilisan Sega 32x dan Sega Saturn, Sega menghentikan dukungan untuk kedua platform tersebut dan memfokuskan semua sumber daya mereka untuk perang konsol generasi berikutnya. Di akhir tahun 1998 Sega pun merilis konsol terbaru (dan saat itu, walau tak ada yang menyangka, konsol terakhir mereka): Sega Dreamcast.

Di era di mana semua orang hanya memainkan game dengan kualitas 32-bit dan 64-bit, Sega Dreamcast adalah lompatan teknologi yang luar biasa karena menjanjikan sebuah teknologi 128-bit. Sega juga menjanjikan support belasan game yang bagus – baik dari internal Sega dan dukungan developer pihak ketiga – sehingga ketika Sega Dreamcast dirilis di Amerika pada tahun 1999, banyak gamer (hingga hari ini) mengakui bahwa Dreamcast masih merupakan konsol dengan koleksi titel launch-up yang terbaik sepanjang masa.

Tetapi kejutan terbesar Sega di konsol Dreamcast bagi para gamer tidak datang di masa launching-nya melainkan pada proyek ambisius yang digawangi oleh Yu Suzuki, salah seorang programmer paling berpengaruh di Sega pada era itu. Yu Suzuki adalah seorang designer game kawakan yang sudah menghasilkan banyak hit bagi Sega: Virtua Fighter dan Virtua Cop. Kedua game tersebut adalah titel bonafit bagi Sega di dunia Arcade, menjadi saingan utama dari franchise Tekken dan Time Crisis dari Namco. Bagaimanapun juga Yu Suzuki melihat Dreamcast sebagai platform yang pas untuk mewujudkan hasrat terbesarnya: sebuah epik game multi-episode yang bernama Shenmue.

Ketika Sega memberi Shenmue lampu hijau, budget yang dicurahkan bukan main-main. Shenmue adalah game termahal yang pernah diciptakan di era tersebut dengan budget mencapai 70 Juta USD. Walaupun di jaman sekarang jumlah tersebut mungkin ‘biasa‘ saja, di era 1990an, jumlah tersebut adalah jumlah yang mencengangkan dan tak pernah dicoba sebelumnya. Lebih gila lagi, Yu Suzuki sejak awal dengan terus terang mengatakan bahwa Shenmue akan menjadi game episodik dan Shenmue pertama hanya akan menjadi awal dari petualangan Ryo Hazuki, sang protagonis.

Saya akhirnya berkesempatan memainkan game ini 20 tahun lebih setelah ia dirilis dulu. Di dunia di mana konsep open-world bukan sesuatu yang unik tetapi biasa, apakah Shenmue masih memiliki daya tarik yang sama di masa sekarang?

Shenmue dibuka dengan kematian. Ryo Hazuki yang baru pulang ke rumah / dojo-nya mendapati sang ayah tengah bertarung dengan seorang pria misterius dari Cina. Sang ayah, Iwao Hazuki, menggunakan segala teknik Hazuki untuk mengalahkan sang pria misterius tetapi dia tidak berdaya. Bantuan Ryo tidak berarti banyak dan pria misterius yang diketahui bernama Lan Di ini menghabisi Iwao di hadapan anaknya. Ryo ditelan oleh nafsu dendam kesumat memutuskan untuk mencari tahu siapa Lan Di dan kenapa ayahnya sampai dibunuh.

Petualangan ini pada awalnya bermula dengan kecil. Ryo akan berkeliling di tiga distrik di dekat rumahnya: Yamanose, Sakuragaoka, dan Dobuita. Di ketiga tempat ini pemain bebas mengeksplorasi, berbincang-bincang dengan penduduk setempat, untuk mencari tahu alasan di belakang kedatangan Lan Di ke Dojo Hazuki. Mengingat ada puluhan orang yang tinggal di tiga distrik ini, tentu bukan hal yang mudah untuk mencari informasi, gamer harus sabar bertanya ke tiap-tiap NPC, untuk mendapatkan cukilan-cukilan informasi yang berguna. Dari seorang tukang gosip, Ryo akan mendapatkan info mengenai warga keturunan Cina yang tinggal di daerah itu, membawa Ryo ke informasi-informasi baru untuk menyingkap misteri di balik kematian ayahnya. Perlu diingat bahwa setting Shenmue adalah tahun 1986 sehingga tidak ada HP atau internet untuk memudahkan pencarian Ryo.

Satu hal yang unik dari Shenmue adalah eksplorasi bebas yang diberikan oleh Yu Suzuki oleh pemain. Kerap di dalam game kamu harus menunggu toko-toko tertentu buka. Shenmue sebagai game termasuk cukup realistis. Apabila toko tertentu yang ingin dikunjungi Ryo tutup pada pukul 8 malam, maka Ryo tidak bisa memasukinya lagi jam 9 malam. Jadi? Ia harus menunggu sampai esok hari ketika toko tersebut buka kembali. Lebih uniknya lagi, Shenmue juga tidak memberikan opsi kepada gamer untuk melompati waktu sampai esok hari. Dengan kata lain, Yu Suzuki secara halus mendesak pemain untuk mengeksplorasi distrik yang sudah ia ciptakan dengan penuh detail dan cinta bagi para gamer.

Dan memang ketiga distrik utama ini sangat hidup. Ryo tidak hanya bisa berbincang-bincang dengan orang-orang yang tinggal di sana, ia bisa melatih gerakan bela dirinya di taman atau area parkir yang kosong, ia bisa pergi ke tempat Arcade dan bermain berbagai jenis permainan (termasuk emulator Space Harrier, salah satu game lawas ciptaan Suzuki), bahkan para gamer bisa melakukan gacha dari mainan-mainan Sega seperti Sonic ataupun karakter-karakter Virtua Fighter. Bahkan membeli barang di convenience store atau vending machine pun memiliki detail produknya sendiri. Tidak berlebihan kalau saya mengatakan Shenmue bak sebuah life simulator. Segala kebebasan Ryo dalam bereksplorasi ini membuat waktu berlalu tanpa terasa. Tahu-tahu saja waktu sudah malam dan Ryo sudah harus pulang untuk tidur, bersiap untuk esok hari. Walaupun di era sekarang sudah banyak sekali game dengan tema open-world, saya masih terkesan dengan charm dari suasana Jepang dekade 1980an dalam game ini. Jauh sebelum Stranger Things atau film It melakukan nostalgia 1980an, believe it or not, Shenmue did it first.

Selain mode eksplorasi game ini juga memiliki mode Fighting. Dan percayalah kalau mode Fighting dalam game ini tidak dilakukan dengan asal-asalan saja. Ini bisa dipahami sih sebab Yu Suzuki tentunya sudah pengalaman dengan genre ini. Konon bahkan sosok Ryo sendiri adalah salah satu design dari karakter Virtua Fighter yang tidak jadi dipakai. Untuk karakter game adventure, jurus-jurus yang bisa dieksekusi oleh Ryo tergolong beragam dan kompleks. Ryo menguasai tiga jenis gerakan dasar: jurus pukulan, tendangan, dan bantingan. Masing-masing jurus memiliki variasi sub-jurus lagi, membuat gerakan Ryo menjadi sangat variatif bak seorang karakter game fighting. Tidak cukup? Seiring dengan perjalanan cerita, Ryo bahkan bisa membeli jurus-jurus baru dan belajar gerakan baru dari orang-orang tertentu yang ia temui. Ryo pun memiliki opsi untuk terus melatih diri menggunakan jurus-jurus yang sudah ia pelajari. Bak dunia nyata, semakin Ryo sering melatih diri menggunakan jurus-jurus itu, semakin efektif juga serangannya ketika digunakan di pertarungan yang sebenarnya.

Salah satu sistem unik lain yang diperkenalkan ulang dalam Shenmue adalah QTE alias Quick Time Event. Walau sistem ini sudah pernah ada di game Arcade klasik ala Dragon’s Lair, Shenmue adalah game pertama yang menginkorporasikan ini ke dalam jalan ceritanya, membuat event cutscene sinematik dalam game ini terasa lebih hidup dan interaktif dengan pemain. Sulit dipercaya bahwa pengaruh Shenmue masih hidup hingga hari ini di mana sistem QTE masih banyak dipakai oleh game-game modern jaman sekarang. Sistem QTE Shenmue tidak sempurna dan kadang membuat frustasi, tetapi untung saja game ini mengijinkan pemain me-replay QTE apabila salah meng-input tombol. Beberapa QTE bahkan cukup baik mengijinkan gamer melakukan kesalahan beberapa kali sebelum memaksa gamer mengulang semua sekuens yang ada.

Kualitas grafis dari Shenmue tentu saja sudah tidak bisa dibandingkan dengan jaman sekarang. Akan tetapi apabila diingat bahwa ini adalah sebuah game yang lahir dua dekade lampau, saya masih terkesima. Detail yang dimasukkan oleh Yu Suzuki ke dalamnya sungguh luar biasa. Selain ketiga distrik yang bisa dieksplorasi oleh Ryo di awal petualangannya, Shenmue juga nantinya akan membuka tempat lain yang bisa dieksplorasi Ryo di disc-disc berikutnya (Shenmue terbagi menjadi 4 Disc, 3 Disc permainan dan 1 Disc bonus). Memang kota Liberty City di GTA 3 yang dirilis beberapa tahun kemudian jauh lebih besar daripada Shenmue tetapi detail kota Liberty City masih kalah jauh dengan Shenmue. Tidak hanya itu; coba saja lihat bagaimana Yu Suzuki menciptakan raut muka yang berbeda tidak hanya untuk karakter-karakter penting di Shenmue tetapi juga untuk para NPC-nya. Kerap kali hasil jadi sebuah proyek tak sebanding dengan budget yang dicurahkan untuknya, tetapi itu tidak berlaku untuk Shenmue. Setiap dana yang diberikan Sega kepada Yu Suzuki dimaksimalkan sang designer.

Kalau kualitas grafis Shenmue masih bisa membuat saya terkesima di era sekarang, tidak begitu dengan kualitas voice actingnya. Di pergantian millenium dunia voice acting masih jauh dengan jaman sekarang. Saya ingat benar bahwa di saat itu game yang didubbing ke bahasa Inggris dan kualitasnya sepadan dengan seiyuu Jepang bisa dihitung dengan satu tangan; Metal Gear Solid di Playstation mungkin. Lantas saya tidak tahu apa lagi. Saya tidak tahu bagaimana kualitas seiyuu Shenmue sebab saya tak memainkan versi Jepang-nya tetapi kualitas voice acting Inggris-nya sungguh… mengerikan. Dialog-dialog di Shenmue dibawakan dengan kaku, pelafalan nama-nama orang maupun tempat di China salah total, sampai beberapa dialog yang struktur bahasanya salah. Apakah saya tidak menyukainya? Tidak tuh. Sebutlah ini sebuah faktor nostalgia, tetapi kualitas dubbing yang kacau-balau begini tidak bisa lagi kita temui di jaman modern di mana semuanya dipoles apik tanpa cela. Musik-musik gubahan dari Takenobu Mistuyoshi mengcover banyak genre dan menghidupkan atmosfir game Shenmue. Momen paling bagus dalam game ini datang dalam sebuah montage momen tenang, diiringi lagu J-Pop Easy Listening bergaya lawas, sebelum klimaks game ini dimulai. Di momen itulah saya merasakan keindahan Shenmue dan betapa saya sudah tersedot dalam dunianya, enggan untuk meninggalkannya.

Jadi bagaimanakah Shenmue? Bagi saya ini masih merupakan karya yang legendaris.

Ambisi Yu Suzuki yang begitu besarnya masih terasa hingga hari ini. Bayangkan, 20 tahun sebelum Square Enix mencanangkan akan membuat remake Final Fantasy VII sebagai sebuah game yang episodik, Yu Suzuki sudah menjanjikan saga Shenmue yang takkan selesai hanya dalam satu game. Ending game Shenmue bahkan mengatakan bahwa petualangan Ryo Hazuki BARU AKAN DIMULAI. The whole game I played was just a prologue for Ryo. Saya tidak heran bahwa dua dekade sejak game ini dirilis pun masih banyak gamer yang melihat ke belakang dengan penuh nostalgia dan cinta akannya.

Melihat ending credit Shenmue bergulir, sulit untuk tidak membayangkan sebuah alternate universe yang berbeda. Seandainya saja Shenmue diciptakan di sistem yang lebih beruntung daripada Dreamcast. Bagi yang lupa dengan sejarah video game, Sega menyatakan akan keluar dari bisnis konsol hanya dua bulan setelah Shenmue dirilis di Amerika. Pengumuman tersebut praktis membunuh ketertarikan publik akan game tersebut… sebab siapa orang yang mau membeli sebuah seri yang masa depannya tidak jelas? Apabila sejarah berjalan di alternate universe berbeda, mungkin hari ini lebih banyak gamer yang akan mengenal franchise Shenmue bukan hanya sekedar sebagai franchise niche yang mandeg di seri kedua dan membuat para gamer menanti sampai belasan tahun sebelum mendapatkan seri ketiganya.

Kalau kalian fans Sega atau sekedar pecinta medium Video Game, Shenmue adalah sebuah keharusan untuk dimainkan. This is not just a Video Game but an experience. Jauh sebelum ada franchise Yakuza, jauh sebelum ada Sleeping Dogs, jauh sebelum GTA masuk ke dalam dunia open-worldShenmue was the pioneer.

Score: 8

Note: This review is dedicated to Ikao, who introduced me to this game. Thanks luv.

2 comments

  1. Bahkan teman saya rela meminjamkan Shenmua versi HD PS4-nya buat saya mainkan, tapi saya menolak. Segitu bagus kah? beruntung lah game ini sempat saya mainkan di Xbox One karena tersedia gratis di gamepass. Hal pertama yang saya kesalkan adalah dubbingnya memang parah. Tidak lama memainkan game ini, sih, karena katanya banyak waktu menunggu yg realistis—seperti menenggu toko buka yang tidak ada opsi skip waktu. Maka saya tidak dalam mood untuk melanjutkan. Haha. Maaf generasi milenials, malas menunggu.

    Saya juga tidak suka game modern sekalipun yang game designnya tidak convenience demi kerealistisan, sih. Seperti RDR2… bosan melihat animasi yang lama, cut-scene yang gak bisa diskip, obrolan mundane yang super puanjang, etc.

    • Saya tidak merasa ini game terbaik sepanjang masa atau sejenisnya. After all skor saya 8, bukan 10. Hahaha.

      Anggap saja ini sebuah game yang oldies but goodies. It have its charm, kalau diliat dengan kacamata era di mana dia dirilis. 🙂

Leave a Reply