Tsujou Kogeki ga Zentai Kogeki deni Kai Kogeki no Oka-san wa Suki Desuka?

Satu lagi anime yang diangkat dari light novel dan memiliki tema Isekai. Saya sendiri pada awalnya sudah ogah-ogahan menontonnya. Maklum, saya sudah bosan dengan anime yang bertipe Isekai dan dengan tokoh protagonis yang ‘biasanya’ overpower. Entah sudah berapa anime bertipe Isekai memiliki karakter protagonis yang super kuat sampai selama petualangannya tak pernah mengalami tantangan? Dan apa bedanya anime ini dibandingkan dengan anime-anime Isekai lainnya? Karena saran temanku yang mengatakan bahwa anime ini berbeda, saya pun menjajal menontonnya.

Masato Oosuki adalah seorang pria yang… biasa-biasa saja. Ia tidak cerdas tetapi tidak bodoh. Ia tidak badung tetapi bukan juga anak baik. Bisa dibilang dia seorang anak yang tidak menonjol. Yang kerap membuat Masato geram adalah sang Ibu: Mamako Oosuki kerap sekali mengganggunya dan terlalu over perhatiannya. Hal ini membuat Masato menjadi jengah. Oleh sebab itu ketika ia mendapatkan tawaran masuk ke dalam dunia game VR buat beta testing (menjajal sebuah game sebelum dirilis), Masato langsung mengiyakannya. Ia ingin meloloskan diri ke sebuah dunia baru dan pulang sebagai sosok yang lebih mandiri dan dewasa. Sial bagi Masato, sang Ibu malah ikutan masuk ke dalam dunia game ini. Lebih sial lagi bagi Masato… kesempatannya untuk unjuk gigi langsung kandas sebab sang Ibu jauh lebih fasih dan jago memainkan game ini ketimbangnya.

Dalam petualangannya barulah Masato menyadari bahwa game Virtual RPG yang ia mainkan adalah sebuah game khusus yang diciptakan untuk mendekatkan hubungan dari anak dan ibu yang renggang. Bisakah Masato dan Mamako menolong hubungan ibu-anak yang lain? Dan bisakah Masato menyadari kata-kata klasik bahwa “Kasih ibu itu sepanjang masa“?

Serial ini sebenarnya memiliki pesan yang baik dan jalan cerita yang cukup relatable. Siapa anak yang tidak pernah merasa begitu geram sampai menyumpahi ibunya supaya mati saja? Atau banyak Ibu yang saya yakin merasakan yang namanya kebebasan hidup mereka hilang direnggut oleh anak yang baru lahir sehingga kebebasannya sendiri jadi terbelenggu. Hal-hal seperti itu adalah hal-hal yang serius dan sebenarnya menarik untuk dipelajari lebih dalam.

Sungguh sayang anime ini tak pernah memberi kesempatan isu-isu yang serius ini dikaji secara lebih mendalam. Isu-isu ini hanya diangkat begitu saja lewat sempalan-sempalan dialog secara lintas lalu kemudian semuanya diselesaikan melalui serangan-serangan dan humor-humor absurd (yang kebanyakan tidak lucu dan norak). Saya juga merasa sangat terganggu dengan jumlah fanservice yang berlebihan di dalam game ini. Ada kalanya fanservice dalam sebuah anime bisa saya toleransi apabila memang jalan ceritanya bagus: contohnya seperti Shokugeki no Soma (season pertama). Tetapi apabila jalan ceritanya saja sudah biasa-biasa dan mereka berusaha menggali tawa penonton dari fanservice yang menawarkan belahan dada, pantat, sampai paha wanita dalam bikini, rasanya sangat menganggu. Lebih disturbing lagi? Obyek fantasi dari serial ini adalah Mamako! Dengan asumsi bahwa umur Masato sekitar 17 – 18 tahun, itu berarti Mamako sudah berumur paling sedikit 40 tahun. Satu hal yang pasti: jauhkan anime ini ditonton oleh anak-anak bawah umur.

J.C. Staff adalah sebuah studio animasi kawakan yang sudah ada di industri ini selama belasan tahun. Saya tak heran kalau kualitas animasi mereka baik, akan tetapi saya rasa bahwa lambat-laun J.C. Staff sepertinya ingin dikenal sebagai studio yang menjadi pencipta anime bergenre ecchi. Shokugeki no Soma, Shimoneta, DanMachi, dan sekarang Okaa-san Online semua mengukuhkan posisi mereka sebagai studio penghasil anime segudang fanservice. Kalau memang itu yang kalian cari dari sebuah anime maka kalian akan puas dengan Okaa-san Online (apalagi kalau kalian penggemar genre Isekai). Akan tetapi kalau kalian ingin sebuah tontonan yang berkualitas, bermakna dan bukannya Isekai lagi… Isekai lagi… maka jauhilah anime ini. Pesan moralnya baik, jalan ceritanya datar, penyampaian dan eksekusinya ambyar.

Score: 3

4 comments

    • Haha, terima kasih. Tapi kalau anime sampah entah juga ya gan. Mungkin saja saya bukan target pangsa pasar bagi anime ini. 🙂

  1. jujur saya gak ngerti banget anime ini. saya tau light novelnya cukup laku dan bisa sampai dibuatkan animenya aja bikin saya bingung kok bisa yah. jujur aja cerita kaya gini tuh udah cocoknya di light novel atau cukup ero doujin aja, gak usah sampai dibikin animenya lah.

    kayaknya animenya hanya untuk menjadi alat promosi light novelnya biar tambah laku saja

  2. Terima kasih reviewnya, saya jadi semakin yakin enggak mau nonton. Filenya udah ada di lappy, tapi entah kenapa masih males nonton. Dan sekarang setelah baca review ini, fixlah saya hapus.

Leave a Reply