Super Metroid

Franchise Metroid dirilis dari tahun 1986 oleh Nintendo dan sekuelnya di tahun 1991 di platform Gameboy. Keduanya adalah game yang dicintai oleh para gamer karena tingkat kesulitannya yang cukup tinggi sekaligus nuansanya yang berbeda dari game-game maskot Nintendo lainnya. Akan tetapi entri yang membuat franchise ini menjadi begitu terpuji dan dicintai oleh banyak sekali gamer adalah entri ketiganya di konsol SNES: Super Metroid. Super Metroid dirilis di tahun 1994 oleh Nintendo dan dipuji sebagai salah satu game terbaik di platform SNES. Dan tidak hanya itu, Super Metroid begitu berpengaruhnya ia bahkan mengubah jalan dari franchise lainnya: Castlevania, melahirkan sebuah genre yang sekarang disebut orang sebagai Metroidvania. Saya pribadi tidak pernah berkesempatan memainkan Super Metroid di era 16-bit dulu sebab saya lebih tergolong anak Genesis daripada anak SNES. Setelah seperempat abad lebih sejak ia dulu dirilis, saya akhirnya berkesempatan memainkan Super Metroid di handheld retro saya. Apakah Super Metroid mampu membuktikan diri tahan terhadap ujian waktu? Ataukah ia sekarang menjadi sebuah game yang sudah perlu diremake sebagaimana halnya dua game pertama dalam franchise ini: Metroid pertama (diremake menjadi Metroid: Zero Mission) dan kedua (diremake menjadi Metroid: Samus Returns)?

Super Metroid dirilis di tahun 1994 dan julukan ‘Super’ layak disematkan di titel ini. Yoshio Sakamoto yang adalah co-creator dari Metroid pertama kali ini duduk sebagai designer utama dalam game ini. Dalam wawancara, Sakamoto mengatakan bahwa Super Metroid memakan waktu tiga tahun dalam penciptaannya, di mana setahun pertama praktis dihabiskan oleh Sakamoto dan tim developer game ini hanya untuk mempelajari infrastruktur SNES dan menggali semua kemampuannya. Dua tahun berikutnya mereka gunakan untuk menciptakan sebuah dunia super masif untuk dijelajahi oleh pemain. Ini bukan planet Zebes seperti halnya Metroid pertama. Ini adalah planet Zebes raksasa yang jauh lebih besar dan terdiri dari berbagai jenis lingkungan berbeda. Ingat, Metroid pertama (bukan Zero Mission) bisa dibilang lebih besar ‘hanya’ karena game tersebut memaksa pemain melakukan banyak backtracking dan mengulang menjelajahi tempat yang sudah-sudah dijelajahi oleh pemain. Tidak dengan Super Metroid. Sektor-sektor planet mulai dari Brinstar, Norfair, Crateria, dan banyak lagi… semuanya luas, penuh dengan musuh-musuh yang unik dan rahasia-rahasia yang terkandung di dalamnya.

Tapi mari kita mulai dulu dari ceritanya, Super Metroid mengambil sebuah keputusan yang berani ketika mereka merilis sebuah game yang merupakan sekuel dari dua game Metroid sebelumnya. Kenapa berani? Tidakkah franchise Mario dan Zelda juga melakukan hal yang sama? Ya… dan tidak. Game Mario tidak memiliki jalan cerita apapun selain menyelamatkan Princess Peach setiap kali diculik oleh Bowser. Cerita bukan elemen pokok dalam franchise tersebut. Setali tiga uang dengan The Legend of Zelda. Walaupun Ganondorf, Zelda, Link, serta Tri-force adalah elemen yang selalu ada dalam game ini, setiap inkarnasi The Legend of Zelda biasa memiliki cerita stand-alone masing-masing yang tak butuh gamer memahami game sebelumnya. Tidak demikian dengan franchise Metroid. Dalam Metroid pertama Samus Aran ditugasi untuk menghancurkan kubu Space Pirate yang ingin menggunakan makhluk bernama Metroid untuk mengacaukan galaksi. Dalam game kedua, Samus Aran berangkat ke planet SR3888 dan melakukan genocide, menghabisi seluruh ras Metroid dengan tujuan bahwa mereka tidak bisa digunakan untuk kepentingan jahat lagi. Akan tetapi di saat Samus sudah membunuh Queen Metroid, dia tidak tega membunuh telur Metroid yang terakhir. Ketika bayi Metroid itu menetas, ia lahir dan menganggap Samus sebagai ibunya… dan mengikuti Samus keluar dari planet SR3888.

Samus percaya bahwa kiprahnya dengan Metroid sudah usai semenjak itu. Ia menyerahkan Metroid bayi kepada para ilmuwan yang menemukan bahwa mereka bisa menggunakan kekuatan Metroid untuk kebaikan – membangkitkan energi. Samus puas dan pergi memulai misi barunya. Akan tetapi belum lama ia pergi dari pusat riset, sebuah alarm permintaan tolong datang kepadanya dari tempat riset yang baru saja ia tinggalkan. Samus kembali dan melihat bahwa semua ilmuwan sudah mati. Tepat di depan matanya, Ripley sang jendral dari Space Pirate, mengambil sang bayi Metroid. Samus tidak berdaya menghentikan Ripley. Murka akan keadaan ini, Samus pun tancap gas ke planet Zebes di mana para Space Pirate yang tersisa dari game pertama sudah membangun kembali kekuatan mereka diam-diam. Bisakah Samus menyelamatkan sang bayi Metroid?

Salah satu hal yang akan disadari oleh pemain ketika pertama kali bermain Super Metroid – terutama kalau baru selesai memainkan Metroid pertama dan kedua – adalah betapa fleksibelnya Samus. Kali ini Samus tidak hanya bisa menembak sambil berlutut tetapi juga bisa menembakkan senjatanya ke delapan arah, untuk pertama kalinya! Kontrol Samus yang jauh lebih enak ini memang diperlukan sebab petualangannya ini akan lebih panjang dan menantang. Sebagai Samus pemain akan mendapatkan beberapa upgrade yang memang ‘ditunjukkan’ oleh game ini. Akan tetapi 80% lebih upgrade tambahan yang bisa diperoleh Samus hanya bisa didapatkan kalau pemain rajin mengeksplorasi. Ada banyak sekali lorong tersembunyi, dinding tersembunyi, bahkan segmen-segmen khusus yang hanya bisa diakses oleh pemain yang gesit menggunakan semua kemampuan Samus. Super Metroid juga game pertama yang memperkenalkan konsep yang disebut ‘Sequence Breaking‘. Maksudnya? Dalam Super Metroid pemain memiliki jalur yang sudah dipersiapkan oleh developer game ini: pergi ke area A – dapatkan upgrade 1 – gunakan upgrade kemampuan itu untuk mengakses area B – dapatkan upgrade 2 – gunakan upgrade kemampuan itu mengakses area C – dan begitu seterusnya. Akan tetapi pemain yang jeli dan sudah berpengalaman memainkan Super Metroid berulang kali akan bisa melompati area-area tertentu, misal dari area A yang langsung melompat ke area F – melewati area B sampai E yang seharusnya ia lalui terlebih dahulu. Kebebasan ini seakan-akan merupakan hadiah dari developer game ini, seakan mengatakan kepada pemain “Hey, kalian sudah menajamkan insting permainan kalian sampai sebegitu handalnya, maka sebagai hadiahnya seluruh planet Zebes ini jadikanlah tempat bermain kalian“. Konon begitu berpengaruhnya Super Metroid, kultur Speedrun semula berawal dari game ini di mana para gamer amatir maupun profesional berlomba-lomba menyelesaikan game ini secepat mungkin dengan skill mereka.

And the Boss… oh my the Boss! Setiap pertarungan Boss dalam Super Metroid bagiku adalah epik tersendiri. Saya bisa mengingat hampir semua Boss di dalam game ini, terutama keempat Komandan dari Space Pirate yang harus dihadapi Samus karena mereka semua memiliki pertarungan yang brutal. Tidak peduli seberapa banyak upgrade Samus yang bisa saya temukan ketika menghadapi mereka, saya selalu menemukan health Samus kritis pas-pasan ketika bisa mengalahkan mereka. They are brutal dan keempatnya memiliki cara masing-masing yang unik untuk menghabisi mereka. Ridley, kepala dari empat Komandan Space Pirate serta Mother Brain boleh jadi musuh Samus Aran yang paling ikonik, tetapi ketiga Komandan Space Pirate yang lain pun memiliki duel dengan Samus yang tak kalah memorable-nya.

Karena Super Metroid digarap dalam grafik 2D maka kualitas grafisnya secara unik semakin bertambahnya usia semakin cantik. Pixel Art dari game ini memang mendorong kemampuan SNES sejauh mungkin, membuat ia menjadi game SNES terbesar saat dirilis dulu dan harus dimuat dalam cartridge 24-bit, SNES bahkan mempromosikannya sebagai game 24-bit di sistem konsol 16-bit, sesuatu yang sangat signifikan di era perang bit-bitan era Sega vs Nintendo dulu. Sampai hari inipun saya masih bisa mengapresiasi betapa bagusnya grafis dari Super Metroid dengan segala kekayaan detail di latar belakang dan sosok Samus. Saya masih terkesan dengan bagaimana sekuens Samus melarikan diri di awal game yang sangat sinematik untuk masanya, saya masih terkesan dengan duel melawan Kraid raksasa yang besarnya membuat saya melongo bahkan di era sekarang, dan saya masih tersentuh dengan klimaks game yang langsung masuk dalam salah satu klimaks game favoritku sepanjang masa. Lucu, walaupun Metroid: Other M (game 3D Metroid terakhir) rilis hanya tahun 2010 kemarin, ia malah kelihatan lebih usang secara grafis ketimbang Super Metroid!

Seakan turut menyempurnakan Super Metroid, musik dari game ini diciptakan oleh duet Kenji Yamamoto dan Minako Hamano yang menghidupkan tiap sektor dengan musik yang berbeda-beda. Saya sangat suka dengan ciptaan musik keduanya yang merefleksikan sektor-sektor yang didatangi oleh Samus. Ambil contoh bagaimana berbedanya musik di Lower Norfair dan Lower Maridia, lalu bandingkan bagaimana berbedanya dua segmen yang dijelajahi oleh Samus tersebut. Harap diingat bahwa semua musik ini hadir di dalam format cartridge yang kemampuannya lebih terbatas dibandingkan musik-musik di era 32-bit nantinya yang mayoritas akan memakai format CD yang memiliki ruang penampungan data jauh lebih masif. Bahwa Super Metroid masuk dalam jajaran soundtrack terbaik game SNES saya rasa bukan sebuah statement yang berlebihan.

Jadi bagaimanakah Super Metroid di mataku? Melanjutkan penilaian positifku akan Metroid: Zero Mission, Super Metroid bukan hanya game Metroid terbaik tetapi juga salah satu game terbaik di SNES. Terlepas dari beberapa hal minor (tingkat kesulitan yang cukup tinggi, kontrol Grapple Beam yang sedikit lebih sulit dibandingkan arsenal Samus lainnya), Super Metroid adalah puncak dari genre eksplorasi 2D… menduduki posisi tersebut bersama dengan Castlevania: Symphony of the Night. Konon setelah Super Metroid Nintendo vakum di franchise Metroid selama delapan tahun lamanya karena mereka tidak tahu mau membuat game seperti apa lagi yang bisa melebihi Super Metroid. It’s that good! Kalau kalian fans dari genre Metroidvania, be sure to play the game that birthed this genre.

Score: 9

Leave a Reply