Metroid Fusion

Setelah kesuksesan dari Super Metroid di tahun 1994 franchise ini kemudian tertidur lama. Samus Aran memang masih aktif di Nintendo, hadir melalui game kolaborasi Super Smash Brothers, tetapi bagi mereka yang ingin petualangan sendiri Samus harus gigit jari kecewa. Dan mungkin akhir dari cerita Samus memang sudah dituliskan. Sebagaimana kebanyakan film berakhir dengan trilogi, begitu juga Metroid sudah melengkapi triloginya dengan Super Metroid di SNES. Lagipula they have gone out with a bang, apa perlu kembali lagi ke franchise ini?

Jawabannya adalah: perlu. Diam-diam Nintendo sudah menyiapkan sebuah kejutan bagi para gamer melalui DUA game yang akan mereka rilis secara berturut-turut di tahun 2002. Game pertama didesign oleh Rare Studio (studio di belakang lahirnya Donkey Kong Country) dan menjadi petualangan pertama Samus Aran dalam dunia 3D. Setting cerita dari game bernama Metroid Prime itu ada di antara Metroid 1 dan 2, secara kronologi berarti membuat game ini seperti Metroid 1.5. Akan tetapi Metroid Prime bukan satu-satunya game yang disiapkan oleh Nintendo. Nintendo sepertinya khawatir fans tidak bisa menerima peralihan Samus Aran dari 2D ke 3D (hal yang tak perlu dikhawatirkan sebenarnya sebab Metroid Prime menjadi game yang sangat sukses) dan menugaskan Yoshio Sakamoto untuk menciptakan sebuah game Metroid 2D yang baru.

Di era ini label Metroidvania sudah bukan sesuatu yang unik lagi bagi Metroid. Setelah Super Metroid, franchise Castlevania sudah meniru konsep ini tiga kali: melalui Symphony of the Night dan dua kali lagi di handheld GBA: Circle of the Moon dan Harmony of the Dissonance. Ini tidak membuat Yoshio Sakamoto takut. Proyek Metroid Fusion pun digarap dan dirilis di GBA di tahun 2002, hanya beberapa bulan berselang setelah perilisan dari Harmony of Dissonance. Ini bukan remake dari Metroid pertama atau kedua, maupun port dari Super Metroid. Yoshio Sakamoto memutuskan untuk memberikan kepada gamer… Metroid 4, yang diberi tajuk: Fusion.

Keberanian Sakamoto tidak mengambil jalan mudah sekedar meremake game lawas atau memport game SNES saya acungi jempol. Metroid Fusion adalah cerita lanjutan dari Super Metroid. Di opening cerita Samus Aran kembali ditugasi pergi ke planet SR388, planet yang ia kunjungi di Metroid 2 tempat ia menghabisi spesies para Metroid. Setelah Metroid punah, rantai makanan dari SR388 terganggu dan muncullah makhluk berbahaya baru bernama X-Parasite. X-Parasite ini menginvasi tubuh Samus dan membuat sang Bounty Hunter perkasa ini tak berdaya.

Jatuh dalam koma, para ilmuwan berjuang menyelamatkan Samus dengan menyuntikkan DNA Metroid ke dalam tubuh Samus. Karena DNA Metroid dan X-Parasite yang bertentangan tubuh Samus mampu melawan infeksi X-Parasite di dalam tubuhnya. Samus pun selamat tetapi struktur Power Suit dan semua upgradenya dari Super Metroid harus dilepas sebab tak lagi kompatibel dengan dirinya. Sementara itu Samus tak bisa lama-lama beristirahat, ia kembali ditugasi ke stasiun luar angkasa B.S.L. , sebuah stasiun luar angkasa yang mengorbit di luar planet SR388. Sebuah outbreak X-Parasite telah terjadi dan hanya Samus yang bisa menghentikan mereka.

Walaupun Samus kehilangan kebanyakan power-up dari Super Metroid, ia juga mendapatkan satu kemampuan baru, bergantungan dari ujung sebuah platform. Tambahan ini membantu fleksibilitas Samus. Semua gerakan kontrol lama Samus dari Super Metroid juga masih dipertahankan, di mana kamu masih bisa menembak ke delapan arah, Samus bisa berjongkok, dan manuver lompatannya luwes. Yang membuat Metroid Fusion berbeda ketimbang Super Metroid adalah struktur dunia yang jauh lebih linear dan kecil. Saya tidak bisa menyalahkan hal ini, pasalnya game ini bersetting di sebuah stasiun luar angkasa, berbeda dengan game sebelumnya yang mengambil setting di dua planet berbeda. Toh tim developer di Nintendo masih bisa mengakali perbedaan environment di dalam B.S.L. dengan menyebutkan bahwa setiap sektor merupakan simulasi dari lingkungan yang berbeda-beda. Dengan kata lain setiap Samus Aran memasuki sektor yang baru, habitat yang ia kunjungi juga berbeda. Ada habitat Air, ada habitat Magma, ada habitat Es, dan lain sebagainya.

Kebebasan bereksplorasi pun tidak diberikan kepada Samus dalam game ini. Di dalam game ini Samus ‘dipaksa’ untuk menerima perintah dari AI komputer yang mendampinginya. Tidak hanya menerima perintah, AI juga lah yang memutuskan kapan Samus ‘boleh’ mendapatkan upgrade kekuatannya dengan mendownload upgrade bagi suit Samus di ruangan-ruangan data khusus. Oleh karena itu, game ini bisa secara ‘sengaja’ menghalangi ke mana Samus bisa pergi hanya karena game tak mengijinkan Samus pergi ke sana. Ini tentunya akan sangat menganggu bagi mereka yang memainkan Super Metroid di SNES tetapi saya anggap sebagai unsur kesengajaan dari Sakamoto untuk membedakan Fusion dari Metroid-Metroid sebelumnya.

X-Parasite, walau hanya duduk di peringkat kedua makhluk paling berbahaya di SR388, tidak berarti kalah berbahaya dari Metroid. Dalam bentuk biasanya X-Parasite tidak terlalu menakutkan sebab tubuh Samus yang memiliki DNA Metroid di dalamnya kini bisa menyerap mereka. Yang mengerikan adalah X-Parasite memiliki kemampuan memimik makhluk-makhluk lain. Dan fasilitas B.S.L. adalah sebuah laboratorium luar angkasa yang memiliki banyak makhluk berbahaya di dalamnya. Ketika X-Parasite menguasai makhluk-makhluk tersebut, X-Parasite mengubah perangai mereka menjadi buas, memaksa Samus untuk bertarung dan membunuh makhluk-makhluk tersebut. Tapi itupun bukan ancaman terbesar yang harus dihadapi oleh Samus.

Ingat ketika Samus Aran terinfeksi oleh X-Parasite di opening game ini? Ilmuwan menolong Samus dengan melepas paksa Power Suit yang menjadi bagian dari jubah diri Samus. Power Suit yang dilepas tersebut dibawa ke B.S.L. dan ketika infestasi X-Parasite, jubah Samus pun diinfestasi… melahirkan cermin kegelapan Samus yang bernama SA-X. SA-X adalah Samus saat full power di Super Metroid dengan satu tujuan: menghabisi Samus Aran yang asli. Ini membuat Metroid Fusion terkadang terasa seperti game horor di mana setiap kamu tak sengaja bertemu dengan SA-X, pertemuan itu selalu menjadi momen yang intens. Samus bak seekor tikus yang harus lari ketakutan dari serangan sang kucing. Saya tahu apa yang ada di benak kalian: kalau trilogi Metroid yang pertama mengambil elemen Alien di dalamnya, Fusion menambahkan pengaruh sci-fi terkenal lain: Terminator.

Tentu saja bukan namanya Metroid apabila game ini tidak memberikan upgrade-upgrade kepada Samus. Di akhir game nanti Samus akan mendapatkan mayoritas power-upnya kembali dan menjadi hampir setangguh dirinya semula. Tetapi jalan sampai ke sana tidak mudah. Metroid Fusion, walau tidak pernah sesulit Metroid pertama, merupakan game yang jauh lebih sulit daripada Super Metroid. Kondisi Samus yang lemah tanpa Power Suit (dia memakai Fusion Suit) membuat serangan setiap musuh jauh lebih mematikan. Tidak hanya itu, di game ini kalau kamu membunuh musuh kamu ia tidak serta merta menjadi bola energi yang bisa diambil Samus begitu saja. X-Parasite adalah makhluk yang survival rate-nya tinggi. Apabila ia tidak cepat-cepat diserap Samus, X-Parasite bisa menempel ke inang baru dan menjadi musuh yang harus dilawan oleh Samus lagi! Lebih mengerikannya, kadang ia bisa menyatu dengan X-Parasite lain, membentuk mutasi monster yang jauh lebih sulit dikalahkan ketimbang X-Parasite satuan. Semua tantangan ini membuat Metroid Fusion menjadi game yang sulit – tetapi tenang saja… tidak terlampau sulit. Gamer yang sudah berpengalaman di seri Metroid saya jamin tetap bisa menamatkannya.

Metroid Fusion pada akhirnya tidak bisa menyamai Super Metroid. Sebagai sebuah sekuel saya mengapresiasi Sakamoto yang kali ini ingin berfokus lebih ke aspek cerita ketimbang eksplorasi. Tambahan unsur SA-X dan design dunia yang lebih linear membantu aspek cerita sekaligus background dari Samus Aran lebih tergali, akan tetapi saya merasa aspek eksplorasi terlalu banyak dikorbankan oleh Yoshio Sakamoto, sedikit lebih balancing dalam Metroid Fusion tentunya akan membuatnya lebih baik. Tanpa adanya terlalu banyak daerah yang bisa dieksplorasi, nilai replayability game ini pun jadi turun karena gamer tak memiliki banyak insentif memainkannya ulang – kecuali untuk melakukan speed run menyelesaikannya secepat mungkin. Toh kualitas grafis 2D Metroid Fusion tetap cantik dilihat di hari ini dan musik gubahan Minako Hamano (separuh dari komposer Super Metroid) yang memorable menjaga atmosfir game intens sepanjang permainan, menjadikan game ini tetap sebuah must play bagi fans franchise Metroid. This is not an absolute classic, but it is still a good game.

Score: 7

Leave a Reply