Finding Paradise

Di tahun 2011 studio Freebird Games merilis sebuah game bernama To the Moon. Indie game tersebut mendapatkan banyak apresiasi dari streamer Youtube, media game, dan juga mendapatkan beberapa penghargaan ajang game bergengsi. Setelahnya studio Freebird Games hiatus dalam waktu lama, tidak merilis satupun game sampai tahun 2017 mereka merilis sekuel dari To the Moon, yang kali ini diberi judul Finding Paradise. Apakah game ini bisa mengulang kesuksesan dari To the Moon?

Dalam To the Moon, gamer mengendalikan dua orang karyawan dari Sigmund Corp. Di dunia To the Moon, Sigmund Corp adalah sebuah perusahaan raksasa yang bisnisnya adalah tentang ‘mengabulkan mimpi’. Di saat orang sudah hampir meninggal dunia (biasanya dalam keadaan koma), teknologi yang dimiliki oleh Sigmund Corp mengijinkan seseorang untuk mengulangi hidupnya kembali dengan mengganti detail-detail yang tidak mereka sukai. Kalian punya penyesalan bertengkar dengan orang tua sebelum mereka meninggal dunia? Tidak masalah, jalani hidup kalian sekali lagi dan berdamailah dengan mereka. Hanya saja teknologi Sigmund Corp ini hanya bisa dilakukan di saat-saat terakhir pasien, yang berarti setelah sang pasien menjalani prosedur ini, dia akan meninggal dunia.

Dalam game pertama, To the Moon, impian dari sang pasien Johnny Wyles adalah pergi ke bulan. Gamer tidak diberi tahu kenapa Johnny ingin pergi ke bulan dan perlahan tapi pasti, dari kacamata dua Dokter / Karyawan Sigmund Corp, kita menjadi tahu lantas bisa berempati dengan keinginan Johnny. Dalam game keduanya kita masih mengendalikan dua Dokter yang sama: Dr Eva Rosalene dan Dr Neil Watts dan pasien yang akan mereka tangani kali ini bernama Colin Reeds. Colin adalah seorang pensiunan Pilot yang memiliki hidup yang bahagia. Ia memiliki seorang istri yang sangat – sangat ia cintai bernama Sofia, dan memiliki seorang anak yang sangat ia hargai bernama Asher. Di atas kertas Colin seharusnya tidak memiliki penyesalan apapun, tetapi entah kenapa batin Colin merasa masih ada sesuatu yang… kurang dengan hidupnya.

Oleh karena itu, Colin pun mendatangi Sigmund Corp dan meminta mereka untuk menjalankan prosedur baginya saat ia koma. Kendati pada awal Sofia dan Asher menentang hal ini, pada akhirnya mereka bisa menerima hal ini demi kebahagiaan terakhir Colin. Uniknya, permintaan Colin tak sejelas Johnny. Johnny memiliki permintaan yang jelas: pergi ke bulan. Di sisi lain Colin tak ingin hidupnya diubah, dia hanya ingin satu hal: dia ingin hidupnya lebih bahagia lagi – dengan detail yang sudah ia jalani selama ini sebisa mungkin sesedikit mungkin diubah. Dengan permintaan seambigu itu, bisakah duet Dokter Eva dan Neil memenuhi keinginan Colin?

Sebelum saya mereview game ini lebih lanjut saya perlu menginformasikan bahwa studio Freebird Games pernah merilis sebuah mini-game bernama A Bird Story di tahun 2014, di tengah-tengah perilisan To the Moon dan Finding Paradise. A Bird Story bisa dibilang merupakan prekuel / prolog dari Finding Paradise karena memiliki karakter utama Colin saat ia masih anak-anak. Memainkan mini-game tersebut bukan keharusan, tetapi akan membantu memberi konteks kepada gamer saat memainkan game ini.

Sebenarnya menyebut Finding Paradise sebuah game pun kurang cocok. Saya lebih sreg menyebutnya sebagai kisah interaktif dalam format video game. Sebagai Eva maupun Neil kamu bisa berjalan mengelilingi dan melihat memori masa lalu dari Collin. Tujuan kamu dalam game ini hanya satu: menemukan beberapa obyek yang disebut sebagai link memori di dalam game. Link Memori tersebut nantinya akan menjadi kunci untuk membuka Memento – benda yang menghubungkan ingatan satu ke ingatan lainnya. Dari setiap memori yang ada Eva dan Neil (juga gamer) akan belajar sedikit lebih banyak lagi detail tentang kehidupan Colin.

Kualitas grafis dari Finding Paradise tak memiliki banyak perubahan dari To the Moon kendati sudah enam tahun berselang sejak perilisan kedua game ini. Saya bisa memahaminya sebab Finding Paradise pada dasarnya dibangun dengan ‘mesin’ dasar yang sama: RPG Maker. Tool ini sudah lawas di tahun 2011 dan makin kentara lawas lagi di era sekarang. Untung saja masih ada charm tersendiri melihat Pixel Art yang ada di layar berinteraksi satu sama lain. Kekreatifan studio Freebird Games dalam menghidupkan tiap-tiap sekuens cerita yang ada membuktikan betapa mereka benar-benar sudah menguasai engine RPG Maker. Seperti halnya To the Moon dan Rakuen, RPG Maker masih punya cukup bensin di tangkinya untuk menyentuh perasaan gamer dengan keindahan Pixel Art yang ia tawarkan.

Duduk sebagai komposer musik di dalam game ini sekali lagi adalah Kan Gao dan Laura Shigihara. Musik adalah salah satu alasan kenapa To the Moon dan Rakuen begitu menyentuh di hati banyak gamer, dan game ini tidak menjadi pengecualian. Saya rasa piece musik di dalam game ini sama evokatifnya dengan kedua game di atas. Range musik di sini pun luar biasa, mulai dari sedih, kalem, sampai kadang riang gembira dan bersemangat. Walaupun tidak ada piece yang semenyentuh For River dari To the Moon, this game still has many beautiful pieces in it.

Pada akhirnya tapi daging dari game ini adalah ceritanya. Gamer tentunya ingin tahu apakah Finding Paradise bisa menciptakan sebuah kisah yang semenohok To the Moon? Jawabannya… sayangnya tidak. Saya tidak mengatakan kalau Finding Paradise memiliki cerita yang jelek – sama sekali tidak. Bahkan saya berani mengatakan bahwa konsep dan kisah yang ingin disampaikan oleh Kan Gao (bagi yang penasaran kenapa nama ini muncul terus, itu karena satu sosok ini bertanggung jawab dalam aspek cerita, musik, produser, dan banyak hal lain dalam game ini, Kan Gao adalah the drive behind this game) lebih kompleks dibandingkan To the Moon. Penulisan Kan Gao pun setajam biasanya tetapi ia sedikit kesulitan mengartikulasikan poin yang hendak ia sampaikan di klimaks game. Apabila To the Moon ditutup dengan sebuah klimaks yang menohok, Finding Paradise sedikit goyah di saat klimaks, dan ini yang membuat kisahnya tak mampu menyamai sang prekuel.

Don’t get me wrong. Saya masih sangat – sangat menyukai Finding Paradise. Ini masih sebuah game yang menohok bagiku, dan pada ending membuatku merenungkan mengenai kehidupanku sendiri dan semua yang sudah kujalani untuk bisa sampai di saat ini. Dialog yang ditulis Kan Gao masih memiliki tone yang pas, kadang lucu dan kadang serius. Musik juga masih sangat apik. Dan kualitas grafis tak pernah menjadi masalah bagiku yang memang suka dengan game ala old-school RPG. Satu-satunya kekurangan Finding Paradise hanya ia datang setelah To the Moon dan mau tak mau sebagai sekuel ia akan dibandingkan dengan prekuelnya. Dan untuk kualifikasi itu, Finding Paradise tampil sedikit di bawah ekspektasiku yang super tinggi. Pun saya masih menantikan sekuel darinya yang mungkin, menurut prediksiku, akan menjadi penutup bagi trilogi Sigmund Corp.

Score: 8

Leave a Reply