Grand Blue

Masa muda terbaik bagi orang-orang itu biasanya antara dua era: era SMU dan era kuliah. Kebanyakan anime yang saya tonton mengangkat kisah era SMU sehingga ketika menonton Grand Blue saya jadi penasaran apa yang membuat cerita ini berbeda dari serial-serial anime kebanyakan yang saya tonton. Well, settingnya memang ada di masa kuliah tetapi apa jeda satu dua tahun dari masa SMU membuat anime ini bisa tampil beda begitu?

Anime Grand Blue diangkat dari manga yang ditulis oleh Kenji Inoue dan diilustrasikan oleh Kimitake Yoshioka. Sejak penerbitannya di tahun 2014 lalu sudah ada 14 volume manga yang diterbitkan. Kisah ini sangat sukses sehingga tidak hanya animenya saja yang dirilis di tahun 2018 lalu tetapi adaptasi live-actionnya pun sudah siap tayang tahun ini (sebelum terpaksa diundur karena pandemik COVID-19).

Kisah Grand Blue ini dimulai ketika Iori Kitahara mulai menjalani kehidupan kuliahnya di Universitas Izu. Karena Universitas ini tidak sama dengan hometown dari Iori, ia pun menginap di rumah pamannya dan tinggal bersama dua sepupunya: Chisa dan Nanaka. Tempat tinggal sang Paman ini juga adalah tempat diving (menyelam) yang bernama Grand Blue. Pada awalnya Iori tidak suka dengan air (ia bahkan tidak bisa berenang), sehingga ia tidak tertarik ikut aktivitas menyelam. Eh, tak disangka oleh Iori, dua seniornya di Universitas Izu malahan sukses ‘memaksa’nya untuk ikut dalam klub selam Universitas: Peek-a-Boo Diving Club.

Iori yang tak mau menjadi korban sendiri berhasil menyeret seorang mahasiswa baru: Kohei Imamura untuk masuk ke dalam klub Peek-a-Boo bersamanya. Siapa yang menyangka bahwa ternyata klub Peek-a-Boo ini akan mengubah hidup mereka… tidak hanya dengan aktivitas Diving saja tetapi juga dengan aktivitas minum-minum yang kerap mereka lakukan?

Ya kalian tidak salah baca. Saya terkejut bahwa Grand Blue ternyata banyak memiliki elemen dewasa di dalam anime ini. Dan saya tidak bermaksud mengatakan ia dewasa karena mengandung banyak ecchi di dalamnya. Anime ini dewasa karena ia menggambarkan masa kuliah dengan lebih realistis ketimbang anime-anime kebanyakan. Kerap kali Iori dan Kohei minum-minum bersama dengan kedua seniornya: Shinji dan Ryujiro sampai mereka pass out karena terlalu mabuk. Saya terkejut melihat fakta seperti ini tidak disensor di sini. Mungkin anime ini juga dianggap cukup kontroversial sehingga setiap kali sebelum sebuah episode dimulai ada peringatan yang mengingatkan penonton bahwa aktivitas minum-minum yang dilakukan oleh karakter di dalam film ini dilakukan oleh mereka yang cukup umur. Dan inilah yang membuat saya sadar; anime ini berbeda dengan slice of life kehidupan SMU biasanya.

Apa yang membuat saya terkesan dengan anime ini selain dengan kelugasannya adalah betapa lucunya anime ini. Dari episode satu saya sudah dibuat tertawa terpingkal-pingkal dengan ulah dari Shinji dan Ryujiro yang super polos. Rivalitas sekaligus persahabatan dari Iori dan Kohei kemudian menjadi fokus di episode-episode berikutnya. Dan kendati Grand Blue adalah anime tentang klub Diving, aktivitas Diving tidak banyak terjadi di sini – kecuali menjelang tiga hingga empat episode terakhirnya. Jadi apa dong yang dilakukan oleh para protagonis anime ini? Jawabannya ya itu tadi: berpesta, minum-minum, hangout dengan teman, dan menikmati masa kuliah yang takkan terulang lagi! Dan seperti yang kalian tahu masa-masa seperti itu melahirkan banyak momen-momen memorable. Menonton Grand Blue kerap mengingatkanku pada masa-masa kuliahku sendiri, nostalgia nih ceritanya.

Bagi saya anime yang bagus tidak hanya harus memiliki jalan cerita yang bagus tetapi juga harus memiliki karakter yang memorable. Dan Grand Blue memilikinya. Seperti yang saya katakan tadi Iori dan Kohei adalah tandem karakter yang kelakuannya selalu bikin tertawa. Masing-masing karakter di dalam anime ini memang stereotipe dari banyak stok anime lain, saya tidak tahu apakah mereka akan mengalami pertumbuhan karakter atau tidak di season-season berikutnya, tetapi toh itu tidak penting. Kenapa? Karena walaupun mereka hanya stereotipe, mereka digambarkan dengan sangat baik dan tidak pernah hanya datar dua dimensi saja. Walau setiap karakter stereotipe, mereka memiliki kedalaman karakter yang terkadang bisa mengagetkan ketika cerita berfokus kepada mereka. Karakter favorit saya jelas adalah Aina Yoshiwara, yang pada awalnya tampak paling gila tetapi kemudian justru akan jadi karakter paling ‘normal’ di anime ini.

Versi animasi yang dibuat oleh Studio anime Zero-G memiliki kualitas yang solid, tetapi tidak luar biasa. Ini terlihat dalam penurunan ketajaman dan detail animasi di episode-episode tertentu. Tadinya saya menyangka bahwa studio ini mungkin menyimpan sumber daya mereka untuk klimaksnya. Sayangnya ketika masuk di episode-episode penghujung season pun kualitas animasinya tetap begitu-begitu saja. Memang tidak lagi naik turun kualitasnya tetapi juga tidak mencengangkan, saya agak kecewa karena dunia bawah laut harusnya sangat indah kalau memang dieksplorasi dengan benar.

Tapi itu terbayarkan dengan kualitas lagu dalam serial ini. Baik lagu Opening dan Endingnya semuanya memorable. Lagu opening yang berjudul Grand Blue dinyanyikan oleh Shonan no Kaze langsung menghentak dan membuat badan ini ingin bergoyang mendengarkan iramanya. Gara-gara mendengarkan lagu Openingnya ini saya jadi tertarik menonton anime Grand Blue sampai habis. Di sisi lain lagu Konpeki no al Fine yang menutup anime ini adalah lagu yang pas menggambarkan keabsurdan dari anime ini.

Secara keseluruhan kalau kalian ingin tontonan anime yang lucu, seru, tetapi juga kaya dengan hati, you won’t go wrong with this anime. Grand Blue adalah salah satu anime pelepas stress terbaik tahun ini, sungguh tak sabar menantikan season keduanya dirilis.

Score: 9

Leave a Reply