Stone Age

Salah satu mekanisme permainan yang paling terkenal di dunia Board Games adalah Worker Placement. Mekanisme meletakkan salah satu Meeple / Pekerja kita di papan permainan, lantas mengambil aksi sesuai dengan tempat yang bersangkutan menjadi salah satu mekanisme utama di belakang banyak sekali Board Games yang populer. Lihat saja betapa banyak varian dari Worker Placement yang ada di pasaran. Lords of Waterdeep, Viticulture, Agricola, dan banyak – banyak lagi. Salah satu Board Games paling populer dengan mekanik ini adalah Stone Age, sebuah Board Games lawas karya Bernd Brunnhofer.

Sebelum kalian menyangka bahwa Board Game ini datang dari jaman purba (no pun intended), jangan khawatir. Ia tak selawas itu. Board Games ini diterbitkan di tahun 2008 tetapi kesuksesannya membuat ia sudah mendapatkan beberapa kali reprint. Walaupun sekarang sudah ada sangat banyak Board Games yang memakai sistem Worker Placement, patut diingat bahwa di tahun 2008 dulu Board Games yang memakai sistem ini belum sebanyak itu. Lantas kenapa Stone Age masih sangat populer sampai sekarang?

Dalam Board Games ini kamu adalah pemimpin dari suku manusia purba yang harus mengembangkan sukumu. Itu bisa kamu lakukan dengan memajukan teknologimu sambil tetap menjaga sukumu tetap cukup makannya. Game ini terdiri dari tiga fase untuk setiap rondenya.

Fase pertama game ini adalah Worker Placement alias penempatan pekerja kamu. Di game ini kamu bisa mengalokasikan orang di sukumu untuk melakukan berbagai hal. Ada tiga hal utama yang bisa kamu lakukan untuk menaikkan ‘kekuatan’ dari suku kamu: kamu bisa membuat peralatan (tool) baru, menghasilkan keturunan (untuk menambah jumlah Worker di turn berikutnya), dan belajar bercocok tanam untuk bisa menghasilkan pangan. Selain meningkatkan kekuatan dari suku kamu, kamu bisa mengirimkan pekerja kamu untuk mengumpulkan berbagai jenis Resource. Game ini memiliki empat jenis Resource: Kayu, Tanah Liat, Batu, serta Emas. Terakhir, kamu juga bisa mendapatkan salah satu tile bangunan atau kartu yang biasanya akan menjadi VP kamu, baik kamu dapatkan secara langsung atau di akhir permainan.

Fase kedua game ini adalah penarikan pekerja. Di mana Worker yang sudah kamu tempatkan di fase pertama kembali kamu tarik pulang ke desamu. Setiap pekerja yang sudah kamu kirimkan akan pulang membawa Resource masing-masing sesuai dengan tempat di mana kamu mengirimkan mereka. Akan tetapi ada kalanya mereka juga bisa pulang dengan tangan hampa. Kok bisa? Di sini Stone Age menerapkan risk / reward dalam sistem pengumpulan Resource. Seperti yang saya katakan sebelumnya game ini memiliki empat jenis Resource, tetapi kelangkaannya berbeda-beda. Kayu jauh lebih mudah ditemukan ketimbang Batu atau Emas. Game ini menyiasatinya dengan dadu. Setiap pekerjamu direpresentasikan dengan dadu dan ketika kamu menarik mereka dari tempat di mana mereka mencari Resource kamu akan menggulirkan dadu untuk melihat berapa Resource yang mereka dapatkan. Kayu dibagi dengan 3, Tanah Liat dibagi 4, Batu dibagi 5, sementara Emas dibagi 6.

Ambil contoh kamu mengirimkan dua orang pekerja untuk mengumpulkan Kayu dan dua orang pekerja untuk mengumpulkan Emas. Saat kamu mengambil dua orang pekerjamu di sektor Kayu, kamu menggulirkan dadu dan mendapatkan hasil 4 dan 5. Total angkanya adalah 9 yang berarti kamu mendapatkan 3 (9 : 3) Kayu. Setelah itu kamu akan menggulirkan dadu lagi di sektor Emas dan mendapatkan angka 2 dan 5. Totalnya adalah 7 yang berarti kamu hanya mendapatkan 1 (7 : 6, sisa tidak dihitung) Emas saja. Resource-Resource yang kamu kumpulkan ini nantinya akan bisa ditukar dengan Bangunan maupun Kartu yang bernilai sebagai VP, dan siapa yang mendapatkan VP paling besar di akhir permainan akan menjadi pemenangnya.

Setelah kedua fase ini selesai, fase ketiga yang disebut Upkeep dimulai. Pemain perlu melihat jumlah pekerja yang mereka miliki dan memberi mereka makan. Setiap satu pekerja yang kamu punya harus diberi satu makanan di tiap giliran mereka sehingga terkadang kamu perlu mengalokasikan orangmu untuk berburu. Berburu mirip dengan mencari Resource, hanya saja kamu membagi hasil guliran dadumu dengan 2. Kamu juga bisa mengurangi jumlah makanan yang diperlukan semakin tinggi kemampuan agraris dari sukumu.

Stone Age adalah salah satu game Worker Placement yang paling populer, ia juga termasuk game Worker Placement yang cukup sederhana. Salah satu hal yang saya suka dari game ini adalah ia tidak dominan dengan teks, tidak seperti Everdell dan Viticulture: Essential Edition, dua game Worker Placement favorit saya lainnya. Oleh karena itu, saya lebih mudah menerangkan dan memperkenalkan game ini kepada orang-orang, kendati mereka tidak bisa berbahasa Inggris. Alur permainan game ini pun cukup sederhana; kumpulkan resource, tukar resource itu dengan VP, pastikan kamu memiliki makanan yang cukup untuk orang-orangmu kalau tidak mau mereka kelaparan dan membuat poinmu berkurang (sebanyak 10 poin!). Kalau kamu sudah paham dengan mekanisme Stone Age, game ini termasuk point salad yang menghasilkan banyak poin bagi tiap-tiap pemain yang ada.

Stone Age juga salah satu Board Game ‘awal’ yang memperkenalkan komponen berkualitas apik dalam permainannya. Gambar dalam Board Gamenya terasa hidup dan saya juga sangat suka dengan Gelas Kulit yang digunakan untuk mengocok dadu, membantu nilai tematik dari game ini. Satu-satunya kekurangan minor game ini mungkin ada pada dadunya yang generik hanya berangka 1 – 6 saja. But hey, it serves its purpose, jadi tak semua perlu gimmick kan?

Pada akhirnya Stone Age adalah sebuah Board Game klasik… for a reason. Ini masih Board Game yang akan saya rekomendasikan bagi orang yang ingin mengenal mekanisme Worker Placement. Alurnya enak, para gamer pemula bisa cepat menangkap apa yang perlu mereka lakukan (sebab obyektif game ini cukup straightforward), sementara para gamer veteran pun masih bisa merasakan kompetisi di dalam game ini dengan mengeluarkan kombo-kombo dengan kartu-kartu yang mereka dapatkan sepanjang permainan. Highly recommended.

Score: 8

Leave a Reply