Kimetsu no Yaiba

Manga ini aslinya kalau ditranslasikan bukan berarti Demon Slayer tetapi Blade of Demon Destruction. Info yang menarik bukan? Ehem, anyway… manga karangan dari Koyoharu Gotoge ini naik pamor semenjak tahun 2018. Manga ini memang sudah memiliki pembaca yang solid semenjak serialisasinya dimulai di tahun 2016 tetapi sepertinya mengalami ledakan popularitas ketika adaptasi animenya ditayangkan di tahun 2018 (kualitas animasi yang mencengangkan dari Ufotable dan lagu opening Gurenge yang super kick-ass dari LiSa pasti merupakan salah satu alasannya). Di tahun 2019 kemarin Kimetsu no Yaiba bahkan sempat menggeser manga One Piece sebagai manga terlaris di Jepang, sebuah pencapaian yang tak disangka-sangka. Lebih mengejutkannya lagi, manga yang tengah ada di puncak popularitasnya ini mendadak diumumkan akan berakhir di chapter 205 – tergolong pendek untuk ukuran sebuah Shounen Manga yang populer (mungkin hanya ada 22 tankoubon saja totalnya). Apa yang membuat manga ini begitu fenomenal and is it worthy of its praise?

Awal dari cerita ini adalah ketika keluarga Tanjiro Kamado dibunuh oleh Demon. Di luar seorang adiknya, Nezuko, semua keluarga Tanjiro terbantai secara brutal. Lebih menyesakkan lagi bagi Tanjiro, Nezuko pun berubah mengalami transformasi menjadi Demon – walaupun ingatannya sebagai manusia membuat Nezuko tak sepenuhnya kehilangan kemanusiaannya. Tanjiro pun memulai perjalanannya untuk belajar menjadi pembunuh para Demon dan mencari tahu penyebab kenapa keluarganya dibantai secara brutal. Dalam perjalanannya Tanjiro harus menghadapi berbagai macam Demon, bertemu dengan para Demon Slayer lainnya, sekaligus menemukan bagaimana ia dan Nezuko terhubung dengan Muzan, sang Demon yang menghabisi keluarganya.

Pada awalnya Kimetsu no Yaiba tampak sebagai kisah Shounen biasanya yang berputar dalam satu tema tertentu. Kalau Naruto berputar soal Ninja dan One Piece berputar soal Bajak Laut, maka Kimetsu no Yaiba berputar tentang Demon Slayer. Hal ini tentunya membuat manga ini langsung dibandingkan dengan Bleach. Well, perbandingannya tak sepenuhnya salah sih. Kalau saya diminta mendeskripsikan manga ini dalam satu kalimat: Ini adalah Bleach dengan setting era jaman Rurouni Kenshin (jaman feudal Jepang sebelum mereka sepenuhnya modern).

Apa yang membuat Kimetsu no Yaiba menjadi apik dan menarik minat banyak orang adalah Tanjiro Kamado selaku protagonisnya. Berbeda dengan Luffy, Naruto, Ichigo yang semuanya berkesan gahar dan sangar (sebagaimana template protagonis biasanya), Tanjiro lebih mirip dengan Deku (dari Boku no Hero Academia, salah satu manga shounen terkenal lainnya) di mana ia lebih lemah lembut dan bisa berempati dengan karakter lainnya. Bagaimana Tanjiro bisa selalu berempati dengan musuh-musuhnya, walau Demon sekalipun, sangat membantu memanusiawikan para Demon yang pada awal berkesan bak monster yang tak punya perasaan lagi.

Saya juga suka dengan karakter-karakter sekunder lainnya dalam manga ini sebab Koyoharu Gotoge memberi mereka momen untuk bersinar. Di luar Tanjiro dan Nezuko dua karakter yang mendapatkan cukup banyak spotlight di manga ini adalah Zenitsu Agatsuma (my personal favorite) dan Inosuka Hashibira. Kedua karakter Demon Slayer lainnya ini perlahan tapi pasti membentuk ikatan brotherhood yang kuat dengan Tanjiro dan menjadi trio yang sepak terjangnya seru dilihat sepanjang petualangannya. Tentu saja terlepas dari itu ada banyak karakter lain yang mencuri perhatian. Di luar deretan para bawahan Muzan, ada juga para Demon Slayer yang terkuat yang merupakan para Hashira / Pillars. Sekali lagi para Hashira ini mirip sekali bila dibandingkan dengan grup para Kapten Gotei 13 dari Shinigami-nya Bleach.

Salah satu hal yang saya sukai di dalam Kimetsu no Yaiba adalah bagaimana pertarungan dalam manga ini dilakukan, sering kali dalam Shounen Manga yang saya baca akan ada pertarungan dalam format turnamen (Yu Yu Hakusho, Naruto, Flame of Recca) atau eliminasi (Saint Seiya, Naruto). Dalam jalan cerita ini biasanya yang terjadi adalah para grup pahlawan kita harus bertarung satu lawan satu dengan musuh mereka. Saya suka-suka saja dengan format seperti ini sebab ini biasanya merupakan momen setiap karakter sekunder untuk bersinar. Formatnya bagaimanapun lama-lama mudah ditebak: karakter A akan bertarung dengan karakter musuh. Setelah karakter musuh kalah karakter A akan terlalu terluka untuk membantu temannya bertarung dengan karakter musuh berikutnya.

Kimetsu no Yaiba mengubah paradigma ini memasuki Story Arc-Story Arc di bagian tengahnya. Gotoge dengan tegas menunjukkan bahwa para Demon yang ada di manga ini selalu lebih superior ketimbang para Demon Slayer yang ada dan acap kali para Demon Slayer (kecuali para Hashira) harus bekerja sama satu sama lain untuk mengalahkan musuh yang ada. Pertarungan bergaya keroyokan ini sekilas terlihat tidak jantan – tetapi hey, siapa yang peduli soal jantan tidak jantan dalam pertarungan hidup mati begini? Lagipula pertarungan beberapa orang mengeroyok satu atau dua musuh ini memberi Gotoge kebebasan berkreasi dalam pertarungannya. Setiap pertarungan melawan musuh pamungkas selalu terasa seperti pertarungan hidup mati di mana Tanjiro dan teman-temannya harus habis-habisan.

Artwork dari Gotoge juga terus mengalami peningkatan dari satu Story Arc ke Story Arc lainnya, dan bagi saya Kimetsu no Yaiba mulai mencapai puncak kualitasnya saat memasuki Story Arc Mugen Train (yang belum difilmkan dalam bentuk animasi). Kualitas Gotoge terus terjaga sampai memasuki Final Battle Arc di mana pacing dari manga ini kemudian menjadi sedikit kacau. Saya sempat membaca bahwa konon Gotoge mengalami permasalahan dengan keluarganya dan itu berdampak pada dia harus menamatkan kisah Kimetsu no Yaiba lebih cepat lantas kemudian meninggalkan Tokyo. Saya tidak tahu seberapa benar rumor tersebut tetapi saya memang melihat ada penurunan kualitas memasuki chapter-chapter pengakhiran dari Kimetsu no Yaiba, sesuatu yang bagi saya agak mengecewakan sebab sampai sebelumnya manga ini sungguh berada pada top form.

Pun demikian saya tidak bermaksud mengatakan bahwa ending dari Kimetsu no Yaiba mengecewakan bak Game of Thrones ataupun How I Met Your Mother. Jauh dari itu. Saya merasa bahwa ending dari Kimetsu no Yaiba bisa lebih bagus, dan saya juga merasa epilog di Chapter 205 sama sekali tidak penting, tetapi saya percaya bahwa Kimetsu no Yaiba sudah menutup ceritanya dengan manis. Sudah tidak ada lagi plot yang akan membuat para pembaca penasaran, semua musuh yang ada berhasil diselesaikan Tanjiro dan kawan-kawannya dan saya tidak akan spoiler tetapi ini Gotoge bukan mangaka yang segan membunuh karakternya apabila dia percaya itu perlu dilakukan. It is a solid ending… but it can… and should have been better.

Pada akhirnya, saya tak menyesal membaca manga Kimetsu no Yaiba. It has been a great read. Ia tak sempurna. Beberapa Story Arc awal hingga Mugen Train bagiku terasa generik dan membosankan. Sementara 20 – 30 Chapter klimaksnya tak sanggup mengimbangi kualitas di tengah cerita. Kelemahan-kelemahan tersebut membuatku terpaksa tak bisa memasukkan manga ini ke dalam deretan manga-manga Shounen terbaik sepanjang masa yang saya baca seperti Rurouni Kenshin dan Full Metal Alchemist. Sayang!

Score: 8

4 comments

  1. Ralat bang, animenya tayang tahun 2019, bukan 2018 wkwk
    Oalah bang Denis juga suka ama Zenitsu yak, padahal banyak yang gak demen (ane juga demen kok sama si idiot kuning itu wkwk)
    Overall emang solid battle shonen, sayang emang pas finale-nya emang pacing-nya rada kacau. Pas final battle ngelawan si Muzan agak terlalu kepanjangan dan kemudian ditutup dengan agak tergesa-gesa. Like your said, that’s holding back this title become a classic ~

  2. Ralat bang, animenya tayang tahun 2019, bukan 2018 wkwk
    Oalah bang Denis juga suka ama Zenitsu yak, padahal banyak yang gak demen (ane juga demen kok sama si idiot kuning itu wkwk)
    Overall emang solid battle shonen, sayang emang pas finale-nya emang pacing-nya rada kacau. Pas final battle ngelawan si Muzan agak terlalu kepanjangan dan kemudian ditutup dengan agak tergesa-gesa. Like your said, that’s holding back this title become a classic ~

Leave a Reply