The Last Dance

Ada berapa dinasti tim bola basket yang terkenal di dunia? Tidak banyak. Kita harus mendefinisikan terlebih dahulu apa artinya sebuah dinasti. Bagi saya itu adalah satu kesatuan unit yang memenangkan paling tidak empat sampai lima titel untuk menunjukkan kekuatan dan keberingasan mereka di dunia NBA. Kalau kita memakai kategori seperti itu maka tidak banyak dinasti bola basket yang legendaris. Ada Boston Celtics dan Los Angeles Lakers, dua tim yang selalu menjadi kekuatan dominan di NBA sejak 1960an dan ada juga San Antonio Spurs yang secara konsisten mampu masuk ke ajang Playoff selama dua dekade lebih. Akan tetapi tidak ada satupun dinasti yang lebih terkenal daripada Chicago Bulls, sebuah dinasti basket di dekade 1990an. Dan di balik Chicago Bulls ada seorang atlet olahraga yang adalah atlet olahraga paling terkenal sepanjang masa: Michael Jordan.

Dokumenter The Last Dance adalah dokumenter mengenai kejuaraan terakhir yang dimenangkan oleh Chicago Bulls di tahun 1998, tetapi juga merupakan rekap bagi karir Michael Jordan sejak ia awal masuk NBA di tahun 1984 sampai masa pensiunnya kali kedua di tahun 1998. Selama 15 tahun lamanya Michael Jordan bermain untuk satu tim yang sama: Chicago Bulls (dengan pengecualian sekitar satu setengah tahun saat ia pensiun kali pertama) dan memenangkan enam gelar NBA dalam rentang waktu itu. Akan tetapi kebanyakan fans bola basket tentu tahu bahwa usai memenangkan titel keenam mereka mendadak saja dinasti Bulls berakhir. Semua komponen penting yang memenangkan titel Bulls memutuskan untuk pensiun (Michael Jordan), berhenti melatih Bulls (Phil Jackson), sampai ditukar ke tim lain (Scottie Pippen dan Steve Kerr). Apa gerangan yang terjadi di balik layar?

Format penceritaan The Last Dance dalam sepuluh episode semuanya memiliki kesamaan: tiap episodenya biasanya memiliki dua jalan cerita: era di tahun 1998 dan era flashback. Di episode pertama misalnya akan mengisahkan awal dari musim NBA 1998 saat Jordan dan rekan-rekannya baru selesai menjuarai NBA kali kelima sementara flashbacknya akan mengisahkan tentang bagaimana Jordan pertama kali memasuki NBA secara rookie. Episode kedua melanjutkan cerita di masa kini tentang bagaimana ada ketegangan dalam tubuh Chicago Bulls saat memasuki musim terakhir tersebut sementara flashbacknya akan melanjutkan kisah tahun kedua dan ketiga Michael Jordan di NBA dan bagaimana ia beradaptasi dengan kehidupan di NBA. Pelan tapi pasti jalan cerita ini maju sampai mencapai klimaksnya di episode 10 saat Michael Jordan dan Chicago Bulls menghadapi lawan di puncak final NBA.

Walaupun The Last Dance disebut sebagai dokumenter Chicago Bulls memenangkan kejuaraan tahun 1998, saya kok tidak sepenuhnya setuju dengan sebutan dokumenter. Kenapa? Karena dokumenter seharusnya memberitakan kisah dengan obyektif. The Last Dance diproduksi oleh Michael Jordan dan kisah dalam miniseri ini lebih banyak berfokus kepadanya. Beberapa orang yang tak ingin turut berperan dalam dokumenter ini pun tak mendapatkan fokus. Salah satu elemen penting yang fokusnya banyak kurang dari miniseri ini adalah Toni Kukoc. Kukoc adalah salah satu elemen penting mengapa Chicago Bulls memenangkan gelar NBA sebanyak tiga kali berturut-turut kali kedua, tetapi perannya di sini banyak diminimalisasi. Saya percaya itu terjadi dikarenakan sejak awal masuknya Kukoc ke NBA, Jordan tidak pernah seratus persen menyukainya.

Satu hal yang saya suka dari dokumenter ini adalah bagaimana Jordan tidak menutupi kearoganannya. Sebagai pemain yang disebut sebagai GOAT (Greatest of All Time), Michael Jordan adalah figur legendaris, tidak hanya di dunia basket tetapi di dunia olahraga. Ketika Jordan ada di puncak popularitasnya tidak ada satupun orang di dunia yang tidak mengenalnya, tidak peduli bila mereka tahu akan bola basket atau tidak. Saya tanyakan kepada kalian: siapa pemain olahraga lain yang bisa mencapai popularitas seperti itu? Lionel Messi? Cristiano Ronaldo? Roger Federer? Mungkin hanya Muhammad Ali saja yang punya pesona sekuat Jordan di puncak popularitasnya. Dan Jordan jelas menunjukkannya di dalam dokumenter ini. Dia tidak menutupi cacat celanya… dia bahkan tidak menganggap itu sebagai cacat cela dalam dirinya! Semua kearoganannya, segala makian dan umpatannya kepada rekan mainnya, bagaimana ia meremehkan mayoritas musuh yang menghadapinya… bagi Michael Jordan itu semua adalah kelayakan sebab ia adalah seorang dengan mental pemenang. Ia bahkan terang-terangan menyebut dirinya sebagai seorang Black Jesus! Kepongahan yang luar biasa.

Saya salut dengan pengisahan dokumenter yang dilakukan dengan kerjasama oleh ESPN dan Netflix ini. Ada banyak sekali footage dengan resolusi tinggi yang bisa digali oleh keduanya. Akses puluhan ribu menit footage NBA sekaligus dokumentasi kehidupan Michael Jordan sehari-harinya memberikan kepada penonton sebuah potret intim Michael Jordan dan kecintaannya terhadap bola basket. Akan tetapi kalian yang mengharapkan lebih banyak sorotan kepada pemain lain Bulls ataupun lawan-lawan Jordan akan merasa kecewa. Bahkan Scottie Pippen, satu-satunya pemain Bulls yang bersama dengan Jordan memenangkan enam titel NBA, tak mendapatkan setengah sorotan dari Jordan. This is the Jordan show and all the others are just the supporting cast. Jordan bahkan tak segan-segan mengkritik dan merendahkan kawan maupun lawannya. Pun begitu untuk para rival Jordan, di antara semuanya ia sepertinya hanya segan mengkritik Magic Johnson dan Larry Bird, dua pemain legenda NBA lainnya yang kerap disebut sebagai seniornya.

Bagi saya yang hidup di era di mana Michael Jordan begitu dominan di NBA (untuk three-peat keduanya) kisah Chicago Bulls di awal-awal The Last Dance jauh lebih menarik bagi saya. Saya selalu tahu betapa tahun-tahun pertama Michael Jordan di NBA penuh dengan kesulitan. Di saat itu Boston Celtics adalah raja dari wilayah timur dan Chicago Bulls tak pernah bisa memberi mereka perlawanan apapun. Setelah Boston Celtics mulai dikikis usia, gantian Detroit Pistons yang muncul sebagai raja wilayah timur yang baru, menjegal Michael Jordan dan Chicago Bulls untuk bisa maju ke final NBA. Perjuangan Jordan untuk melewati rintangan itu, saat di mana Bulls masih merupakan underdog, jauh lebih seru ditonton ketimbang ketika Bulls sudah menjadi jawara yang tak tersentuh lawan.

Momen lain yang saya suka dari The Last Dance tentunya adalah friksi antara Michael Jordan, Scottie Pippen, serta Phil Jackson dengan Jerry Krause, sang GM (General Manager) Chicago Bulls. Hubungan kedua kubu ini bak kucing dan tikus di mana Jerry tak pernah bisa menerima trio tersebut dianggap sebagai pihak yang lebih berjasa dalam kesuksesan Bulls ketimbang dirinya – yang merekrut dan membentuk tim tersebut. Hubungan tersebut begitu panasnya sampai-sampai Jerry Krause secara terkenal mengatakan bahwa peduli setan tahun 1998 Bulls menang NBA atau tidak, Phil Jackson dijamin akan dipecat di akhir tahun tersebut – yang membuat Phil Jackson memberi nama tahun terakhir Bulls sebagai The Last Dance, dan nantinya diangkat menjadi nama miniseri dokumenter ini.

Kalau kalian tanya apakah The Last Dance sempurna? Well – jawabannya tidak. Ini adalah serial yang digarap dengan baik, dipoles dengan baik, dan memiliki banyak sekali narasumber yang berkontribusi di dalamnya (saya terkejut bahwa mereka bisa meyakinkan Isiah Thomas untuk berkontribusi di dalam dokumenter ini, mengingat hubungannya dengan Michael Jordan yang tak pernah akur). Secara teknis ini adalah miniseri dokumenter yang sempurna; tetapi dari sisi obyektifitas? Hm, sayangnya tidak. Ini adalah serial yang dipandang dari kacamata Chicago Bulls dan hanya mereka semata. Does it matter? No. After all, history is written by the victors. And Chicago Bulls is the greatest victors of their time. Sangat layak tonton bagi kalian yang ingin tontonan olahraga yang menghibur (tapi tidak obyektif) selama 10 jam!

Score: 9

Leave a Reply