White Snake

Di awal dekade 1990an dulu serial silat Mandarin sempat terkenal di Indonesia. Saya ingat saat itu beberapa serial silat yang heboh seperti Kera Sakti, Pendekar Rajawali, sampai Siluman Ular Putih. Khusus untuk Siluman Ular Putih, serial tersebut tayang di stasiun SCTV dan membuat saya selalu seru menonton petualangan Pai Su Cen, Xiao Qing, dan Han Wen. Kisah cinta terlarang antara dunia manusia dan dunia siluman adalah sebuah kisah klasik dari negeri tirai bambu dan kerap sekali difilmkan dalam bentuk serial. Bahkan di tahun 2019 lalu saja Cina menciptakan dua adaptasi untuk kisah ini.

Ada serial The Legend of White Snake yang hadir dalam platform Web (Web Series) dan dibintangi oleh Ju Jingyi dan Yu Menglong yang disebut-sebut sebagai remake dari serial White Snake Legend dekade 1990an yang saya sebutkan di atas. Satunya lagi adalah film animasi White Snake yang diproduksi oleh Light Chaser Animation Studios. Ini merupakan karya pertama dari studio animasi ini yang diciptakan bersama dengan Warner Bros Cina. Apakah hasilnya bisa sebagus yang diharapkan? Harap diperhatikan, saya menonton versi dubbing dari film ini.

Di akhir dinasti Tang, keadaan politik Cina menjadi sangat tidak stabil. Kekuasaan Kaisar melemah sementara kekuatan siluman makin mengganas. Untuk menghentikan sepak terjang para siluman, Jendral kepercayaan kaisar menggunakan segala macam cara – termasuk sihir ilmu hitam – untuk membasmi para siluman. Caranya adalah dengan menangkapi para ular dan mengambil esensi tenaga mereka. Para siluman ular tidak tinggal diam, mereka mengutus seorang Assassin bernama Blanca untuk membunuh si Jendral. Blanca gagal dan harus melarikan diri dari kejaran para pengawal Jendral. Walaupun sukses kabur Blanca kehilangan ingatan dan jati dirinya.

Saat itulah Blanca ditemukan oleh seorang pria desa yang polos dan lugu bernama Xuan, dan dibawa ke desanya: desa penangkap ular. Desa ini sudah turun temurun jago menangkap ular dan dipaksa oleh Jendral Cina untuk menangkap ular guna menambah kekuatan ilmu hitam sang Jendral. Walaupun desa tersebut tak seberapa ingin melakukannya, mereka terpaksa melakukan hal tersebut karena sang Jendral akan menghukum mereka lebih berat bila mereka membangkang. Xuan membantu Blanca mencari kembali ingatannya yang hilang dan keduanya perlahan-lahan jatuh cinta. Tapi bagaimana bila Xuan nanti sadar bahwa Blanca sebenarnya adalah Siluman Ular? Bisakah ia tetap mencintai Blanca apa adanya? Bagaimana dengan Blanca sendiri? Bila tahu Xuan termasuk dalam golongan desa penangkap ular, apakah ia masih bisa menyukai seorang manusia, yang menangkap dan membantai kaumnya?

White Snake memiliki potensi menjadi film yang bagus, tetapi ia tidak bisa memaksimalkan potensinya. Ada begitu banyak jalan cerita dalam film ini sehingga ketika klimaks film ini dimulai saya merasa bahwa sisi emosional dan perjalanan kisah setiap karakternya belum sampai. Hubungan antara Blanca dan Xuan misalnya memang manis tetapi hubungan mereka juga terkesan seperti Insta Love yang mendadak tercipta. Hubungan kakak-adik dari Blanca dan Verda (Siluman Ular Hijau) juga seperti dibangun sampai tengah lantas terputus begitu saja. Begitu juga dengan world buildingnya, dengan begitu banyaknya faksi politik yang tengah bertikai satu sama lain, sulit bagi penonton untuk bisa peduli pada satupun pihak. Kalau ada satu-satunya karakter yang paling polos di sini; dia adalah Xuan. Secara ironis itu juga membuat dia karakter yang paling tidak believable untuk hidup di dunia seperti ini.

Menonton film ini kerap membuat saya teringat dengan animasi Tales from Earthsea dari Studio Ghibli… dan bukan sekedar karena poster keduanya mirip. Keduanya memiliki animasi yang indah dan jalan cerita yang kompleks, tetapi potensinya tak bisa sepenuhnya tergali karena durasi tayang film yang terlalu pendek. Ya, ini adalah sebuah kisah yang saya percaya akan lebih menohok apabila dikisahkan dalam format miniseri ketimbang film satuan. Bicara soal animasi yang indah, saya memang sangat terkesan dengan kualitas CG film ini. Walaupun belum bisa bersaing dengan film-film dari studio Pixar, Light Chaser membuktikan kalau studio animasi mereka tidak tampil memalukan untuk menghadapi film-film garapan studio-studio besar Hollywood lainnya. Jangan heran kalau 5 – 10 tahun dari sekarang film garapan studio China akan bisa memiliki kualitas animasi yang setanding dengan studio-studio Hollywood.

Saya menonton film ini dalam versi dubbing Inggris tetapi pengisi suara dalam film ini sangat solid dan tak membuat saya kehilangan inti ceritanya: cinta antara Blanca dan Xuan. Saya memang menyebutkan kalau hubungan keduanya adalah Insta Love, tetapi peran keduanya yang dibawakan secara meyakinkan oleh Stephanie Sheh dan Paul Yen membuat saya masih menitikkan air mata pada klimaks film – terkesan akan kisah kasih mereka. Saya juga terkesan mereka mampu mentranslasikan salah satu lagu penting dalam film ini (River Scene) dan tak kehilangan makna yang mendalam dari lagu tersebut. Oh ya, satu hal yang saya lupa sebutkan ini bukan film yang aman ditonton oleh anak-anak kecil… banyak konten dewasa seperti adegan telanjang dan adegan percintaan yang dimasukkan ke dalam sini. Tidak ada apapun yang ditunjukkan secara eksplisit – but this is not your safe Disney Animated Movie.

Kalau kalian kangen ingin bernostalgia dengan kisah Han Wen dan Bai Su Cen, silahkan menonton film ini. Akan ada sebuah kejutan yang manis bagi kalian saat ending film bergulir, membangkitkan rasa nostalgia di dada. Ini bukan film yang sempurna, tapi untuk nostalgia bolehlah.

Score: 6

Leave a Reply