Artemis Fowl

Di saat Harry Potter sedang digandrungi oleh banyak orang, beberapa seri novel yang ditujukan untuk anak-anak muda lainnya juga terbit. Biasa, pasar menentukan.

Akhirnya terbitlah berbagai macam serial seperti A Series of Unfortunate Events yang dikarang oleh Lemony Snickett (Daniel Handler) dan Percy Jackson and the Olympians dari Rick Riordan. Nah salah satu seri novel lain yang cukup populer dari era tersebut adalah Artemis Fowl yang dikarang oleh novelis Irlandia Eoin Colfer. Novel ini cukup populer sampai mendapatkan total delapan entri di kisahnya.

Uniknya, walaupun nama Artemis Fowl sudah cukup sering saya dengar – membuktikan kepopulerannya – adaptasi film layar lebarnya tak kunjung terjadi. Bayangkan! A Series of Unfortunate Events saja sudah dibuat satu film dan serial TV sementara Percy Jackson telah mendapatkan dua film layar lebar. Konon kisah dalam Artemis Fowl yang kompleks membuatnya lebih sulit difilmkan dalam versi layar lebar.

Setelah melalui waktu yang lama hak untuk live action dari Artemis Fowl didapatkan oleh Disney dan penggarapannya diserahkan kepada Kenneth Branagh. Di atas kertas ini seharusnya menjadi karya yang berhasil – atau paling tidak kompeten. Artemis Fowl adalah sebuah karya seri novel yang cukup terkenal dan Kenneth Branagh adalah seorang sutradara yang versatile menyutradarai berbagai genre film. It should be decent.

Kisah dari Artemis Fowl diawali saat Artemis Fowl II menemukan fakta mengejutkan bahwa Artemis Fowl I – ayahnya – adalah seorang pencuri. Artemis pada dasarnya adalah seorang anak dengan IQ yang sangat tinggi. Terlalu tinggi – bahkan – hingga ia menjadi seorang yang memandang rendah semua orang di sekitarnya. Ayahnya adalah satu dari sedikit orang di sekelilingnya yang dia sayangi. Jelas berita bahwa ayahnya dituding sebagai seorang kriminal adalah pukulan yang hebat bagi Artemis.

Artemis yang mendapati kabar bahwa sang ayah adalah penjahat kemudian ditelepon oleh seorang misterius yang mengatakan bahwa nyawa ayahnya dapat ditukar dengan sebuah barang bernama Aculos. Artemis lantas menemukan bahwa ternyata ada dunia fantasi di balik layar yang keberadaannya tak diketahui manusia. Di dunia fantasi tersebut hiduplah para Peri, Kurcaci, dan banyak makhluk-makhluk dongeng lainnya. Aculos yang misterius, ternyata adalah salah satu artifak paling berharga miliki kaum Peri. Bisakah Artemis mendapatkan Aculos dari para Peri untuk menyelamatkan nyawa ayahnya?

Saya ingin menyukai Artemis Fowl tetapi terlalu banyak kekisruhan terjadi di film ini sampai saya merasa durasi tayangnya yang hanya 90 menit tetap terasa kepanjangan. I was so bored watching this movie!

Hal pertama yang perlu saya kritik adalah dua karakter utama di film ini Artemis Fowl II dan Holly Short. Dua aktor cilik yang memerankan mereka: Ferdia Shaw dan Lara McDonell terasa bak dua amatiran. Akting keduanya sangat buruk sehingga character arc dari kedua karakter utama di film ini tak memiliki resonansi emosi dengan penonton. Skrip film ini sendiri memang sudah terasa terburu-buru pacingnya dan akting payah dari kedua aktor utamanya membuat jalan cerita terasa makin membosankan untuk diikuti. Ferdia Shaw dan Lara McDonell memiliki story arc yang seharusnya berjalan paralel satu sama lain, mengajak penonton bersimpati kepada kedua outcast dari society mereka masing-masing karena rasa sayang dan loyalitas mereka kepada ayah mereka. Alih-alih bersimpati saya sebal dengan akting keduanya.

Hal kedua yang ingin saya kritik adalah implementasi spesial efek dari film ini. Film ini digelontori dana lebih dari 100 Juta USD oleh Disney dan tadinya ingin ditayangkan di bioskop sebelum pandemik Corona terpaksa membuatnya ditayangkan langsung di layanan streaming Disney+. Beruntunglah kita. Artemis Fowl adalah film yang buruk untuk streaming tetapi saya pasti akan bersumpah-serapah bila mengeluarkan duit menontonnya di bioskop. Film ini seakan menghabiskan budgetnya di semua tempat yang salah sehingga walaupun kisahnya seharusnya epik, eksekusinya terasa kecil dan sempit. Oh ya, saya tertawa terbahak-bahak melihat adegan action penyerbuan Fowl Manor. Maunya meniru dengan sukses adegan dalam Kingsman, jatuhnya malah seperti parade CG gagal yang tak selesai tergarap.

Terakhir, saya tak habis pikir kenapa karakter Domovoi Butler dan Juliet Butler harus diblackwashing menjadi orang hitam. Saya kerap mendengar orang hitam tak sering diberi kesempatan tampil di layar dan selalu ngamuk ketika karakter kulit hitam diwhitewash. Ironisnya, karakter Domovoi dan Juliet adalah karakter Eurasian (Jepang – Russia) di novelnya, tapi kenapa tak ada kontroversi kala mereka dijadikan ras African-American di filmnya? Dan lebih parahnya akting Nonso Anozie serta Tamara Smart keduanya juga aktingnya biasa-biasa saja dan forgettable. Apa yang membuat mereka dicasting kalau begitu? Karena warna kulit mereka? Isn’t that racist?

I… don’t like Artemist Fowl. At all. Semua talenta yang tergabung dalam film ini terasa tersia-siakan, dan saya tidak tahu siapa yang salah. Apakah skripnya? Penyutradaraannya? Aktingnya? Castingnya? Dan akhirnya setelah merenung sejenak saya sampai pada sebuah keputusan: the whole production of this movie is a train wreck. And no, it does not deserve your time.

Score: 3

2 comments

Leave a Reply