The Legend of Heroes: Trails of Cold Steel

Part 1 : Trails of Legends

The Legend of Heroes adalah sebuah franchise RPG panjang yang memiliki lebih dari 10 entri.

Memasuki tahun 2004, The Legend of Heroes memulai sebuah sub-seri baru (think of it like Shin Megami Tensei dengan Persona series) yang bernama Trails series. Trails yang pertama dirilis di tahun 2004 dengan nama Trails in the Sky. Game ini memiliki tiga entri yang mengisahkan keseluruhan saganya: Trails in the Sky, Trails in the Sky SC (Second Chapter), dan Trails in the Sky the 3rd.

Trilogi ini berlanjut dengan dwilogi berjudul Zero no Kiseki dan Ao no Kiseki (dikenal di kalangan luar Jepang sebagai Crossbell Dwilogy), yang bersetting di dunia yang sama tetapi memiliki fokus pada karakter utama dan negara yang berbeda (negara Crossbell). Kelima game itu mendapatkan sukses yang besar dan mengangkat nama seri Trails menjadi salah satu JRPG terbaik sepanjang masa. Uniknya, walaupun trilogy Trails in the Sky semua ditranslasikan ke bahasa Inggris, Zero no Kiseki dan Ao no Kiseki tidak.

Di tahun 2013, Falcom selaku developer dari seri The Legend of Heroes menciptakan seri Trails yang baru bernama Trails of Cold Steel. Walaupun memiliki beberapa cameo dari karakter-karakter di Trails sebelumnya, Trails of Cold Steel adalah awal dari kisah baru yang berfokus pada Kekaisaran Erebonia. Falcom menyatakan bahwa Trails of Cold Steel akan dibagi dalam EMPAT chapter, dan akan menutup keseluruhan seri Trails, menyelesaikan semua unresolved plots dari trilogi Trails in the Sky dan Crossbell Dwilogy.

Ketika saya pertama mendengar bahwa Trails of Cold Steel akan dibagi dalam empat game, saya geleng-geleng dengan keberanian Falcom. Apakah ada game JRPG lain yang dengan gagah berani menyatakan bahwa mereka akan merilis empat seri secara beruntun?

Final Fantasy, Persona, Suikoden, dan seri-seri JRPG populer lain yang saya tahu semua hanya merilis satu entri saja, lantas bila memang sukses kemudian akan merilis sekuelnya. Itu pun sekuelnya saja kerap tak memiliki jalan cerita yang sama! Seri Trails juga tidak seperti seri Ys (sama-sama rilisan Falcom) yang dirilis dengan karakter utama yang sama tetapi jalan cerita utamanya selalu berbeda total dan biasanya tak memiliki banyak kontinuitas dengan seri sebelumnya.

Kalau dianalogikan dalam dunia perfilman, Trails of Cold Steel ini seperti serial TV yang berjilid-jilid, di mana seri RPG lain adalah sebuah film satuan.

Bicara soal Trails of Cold Steel, seperti yang saya tulis di atas, game ini bersetting di Kekaisaran Erebonia, sebuah kekaisaran yang kerap disebut dalam Sky Trilogy dan Crossbell Dwilogy, tetapi ini adalah kali pertama gamer menginjakkan kaki dan bermain di dalamnya.

Karakter utama di dalam game ini adalah Rean Schwarzer, seorang remaja yang masuk di dalam sekolah militer: Thors Academy. Akan tetapi Rean adalah seorang siswa yang berbeda sebab ia tergabung di dalam sebuah kelas khusus bernama Class VII. Apa yang membuat Class VII berbeda dengan kelas-kelas lain di Thors Academy? Begini…

Kekaisaran Erebonia nampak sebagai sebuah Kekaisaran yang damai di luar tetapi di dalam tengah terancam perang saudara. Kekaisaran ini terbagi dalam dua faksi politik besar yang bertikai sengit: kubu Bangsawan / Ningrat (Nobles) yang beradu dengan kubu Rakyat Jelata (Reformis). Satu-satunya pihak yang mencegah kedua kubu ini berbentrokan langsung adalah keluarga Kerajaan yang berusaha netral tidak memihak kepada kubu Nobles dan Reformis. Pertikaian antara kedua pihak ini pun menular sampai ke generasi mudanya, di mana para murid di sekolah Thors pun kerap saling sirik antara kubu Nobles dan Reformis.

Class VII didirikan oleh sang Kepala Sekolah sebagai sebuah kelas Eksperimen: kelas di mana anak Nobles dan anak Reformis disatukan dalam satu kelas. Rean, seorang anak Bangsawan yang berkedudukan agak rendah, masuk ke dalam kelas ini. Sebagai gamer kamu akan menjadi saksi mata langsung bagaimana teman-teman kamu pun saling tak suka satu sama lain. Sebagai contoh Machias, anak dari seorang pemimpin kubu Reformis harus terus bersitegang dengan Jusis, anak dari salah satu Bangsawan terpenting Kekaisaran Erebonia.

Rean bersama dengan kedelapan teman sekelasnya juga harus menjalani Class Study setiap bulannya, membawanya untuk pergi ke daerah-daerah sekeliling Erebonia. Setiap perjalanan biasanya membantu Rean dan teman-temannya (serta para gamer) untuk memahami kultur dan akar dari bentrokan antara kedua kubu di Erebonia. Tidak hanya itu, beberapa perjalanan juga akan membawa Erebonia ke perbatasan Kekaisaran ini dan membantu gamer mengerti posisi politik Erebonia dengan negara-negara / kerajaan-kerajaan lain di sekitarnya. Nah, bagi mereka yang sudah memainkan Sky Trilogy dan Crossbell Dwilogy, tambahan-tambahan ini akan makin memperjelas hubungan antara game ini dengan game-game sebelumnya.

Pun begitu kalian yang tak pernah memainkan entri Trails sebelumnya tak perlu khawatir. Trails of Cold Steel is still a great jumping point for newcomer.

Saya adalah seorang yang tak pernah memainkan seri Trails sebelum game ini dan saya tak pernah merasa kesulitan memahami cerita di sini. Good job untuk Falcom yang membuat game ini terasa mudah diikuti ceritanya oleh para newcomer. Dan juga good job untuk proses translasi game ini, yang pastinya menghabiskan banyak waktu. Asal tahu saja, Trails series dikenal sebagai seri yang memiliki skrip cerita game terpanjang. Itu dikarenakan tiap NPC di dalam game ini semua ‘hidup’ dan memiliki berbagai variasi dialog yang bisa diobrolkan dengan pemain. Mereka tidak pernah terasa seperti NPC game-game lain yang terasa lifeless dan pointless untuk diajak mengobrol.

Mengingat game ini terbagi di dalam empat entri, jangan harapkan bahwa semua misteri yang diangkat selama game terungkap tuntas di sini. Trails of Cold Steel bahkan memiliki salah satu ending cliffhanger paling berani dalam sebuah game. Saya beruntung menyelesaikan game ini agak terlambat dan part 2 nya sudah dirilis, sebab saya pasti akan dibuat geregetan bila harus menunggu beberapa bulan untuk tahu kelanjutannya.

Part 2: Arts, Skills, and Bond

Gameplay dalam Trails of Cold Steel bisa dibilang terbagi dalam dua segmen: Eksplorasi dan Battle. Dari tujuh chapter cerita yang kamu mainkan, biasanya akan mengikuti formula seperti ini.

HARI SEKOLAHEKSPLORASI OLD SCHOOLHOUSECLASS TRIP

Di segmen HARI SEKOLAH, Rean bisa berkeliling di sekolah Thors untuk menyelesaikan misi-misi sampingan. Kebanyakan misi-misi tersebut adalah tipe Fetch Quest dan berguna untuk menambah background cerita bagi para karakter-karakter NPC di dalam game ini. Di saat yang sama Rean juga memiliki beberapa Bonding Point yang bisa ia gunakan bersama dengan karakter-karakter tertentu. Karakter-karakter yang diajak menghabiskan Quality Time bersama dengan Rean akan makin dekat dengannya.

Dalam segmen EKSPLORASI OLD SCHOOLHOUSE, Rean dan teman-temannya akan mengeksplorasi sebuah Dungeon di sekolah Thors. Bangunan misterius yang bernama Old Schoolhouse itu menyimpan rahasia di dalamnya, tetapi apa? Misteri ini akan pelan-pelan tersibak setiap para murid Class VII menemukan lantai baru di dalamnya.

Terakhir adalah CLASS TRIP yang biasa terjadi di penghujung Chapter. Di saat Class Trip terjadi Class VII akan terbagi menjadi dua grup yang berbeda. Ini merupakan cara yang cerdas bagi Falcom untuk memastikan bahwa semua teman kelasmu akan memiliki waktu untuk pergi bersama dengan Rean. Tidakkah menyebalkan kalau kita memainkan sebuah JRPG dan diberi karakter banyak hanya untuk beberapa karakter itu ‘hilang’ karena ceritanya tidak tergali lagi? Trails of Cold Steel tak sepenuhnya berhasil menghilangkan masalah ini sebab ada satu dua karakter dalam game yang lebih underdeveloped ketimbang yang lainnya (seperti karakter Gaius dan Elliot) tetapi secara overall, game ini cukup adil membagi spotlight pada setiap Playable Character di dalamnya.

Untuk Battle System dari Trails of Cold Steel, game ini memiliki sistem Battle RPG yang sama sekali tidak kompleks. Setiap karakter memiliki tiga jenis bar yang berbeda: HP, EP, dan CP. Saya yakin para gamer sudah tahu apa itu HP jadi saya hanya akan membahas lebih jauh mengenai EP dan CP.

EP adalah Energy Points yang fungsinya mirip sebagai MP. Kalau kamu kehabisan EP kamu tidak bisa menggunakan sihir-sihir atau ability yang bisa kamu dapatkan dari Quartz yang kamu pasang ke dalam senjatamu.

CP adalah Craft Points dan fungsinya untuk kamu mengeluarkan skill-skill khusus yang dimiliki oleh masing-masing pemain. Apabila kamu mengumpulkan CP sampai lebih dari 100, kamu bisa mengeluarkan jurus dahsyat yang bernama S-Craft.

Gameplay di dalam game ini banyak mengingatkanku kepada Final Fantasy VII versi klasik. Sistem Quartz di game ini misalnya mengingatkanku pada sistem Materia sementara S-Crafts yang merupakan serangan spektakuler mirip dengan Limit Break.

Satu elemen gameplay lain adalah: Bonding System. Semakin banyak kamu menghabiskan waktu bersama atau melakukan Link dengan seorang karakter, kedekatanmu akan meningkatkan level Bonding kalian. Semakin kalian dekat dengan mereka, semakin banyak keuntungannya. Karakter-karakter yang memiliki Bonding lebih kuat akan bisa mengeluarkan jurus-jurus otomatis yang mendukung saat Battle, seperti melindungi karakter yang lebih lemah atau menggunakan item penyembuh otomatis pada karakter yang sekarat.

Di luar gameplay, karakter dengan Bonding System yang lebih kuat akan lebih mau membagikan latar belakang kehidupannya denganmu.

Game ini menawarkan beberapa tingkat kesulitan sehingga cocok dimainkan untuk berbagai jenis gamer. Kalian yang ingin fokus dengan cerita game ini bisa memainkan mode Easy sementara mereka yang ingin sistem lebih balance bisa menjajal mode Normal atau Hard-nya.

Kualitas grafis dan audio game ini juga bagus untuk sebuah game yang hadir di platform konsol dan handheld. Saya pribadi memainkan Trails of Cold Steel di Playstation Vita, handheld terakhir Sony yang kekurangan game eksklusif berkualitas di dalamnya, dan saya sama sekali tidak kecewa. Kualitas grafis dari Trails of Cold Steel sejajar dengan game-game JRPG PS3, walaupun untuk generasi awal. Walaupun dengan sudah adanya Nintendo Switch dan hadirnya JRPG lain yang memiliki kualitas grafis yang lebih impresif, Trails of Cold Steel tetap memiliki kualitas grafis yang tidak memalukan.

Dan apabila dibandingkan dengan seri Trails yang lain, jelas Trails of Cold Steel memiliki kualitas grafis yang paling bagus. Maklum, ini adalah entri pertama dalam seri Trails yang melakukan jumpnya ke dunia 3D. Kualitas audio dalam game ini juga digarap dengan baik. Walaupun game ini jelas tidak memiliki budget sebesar game triple A seperti The Last of Us maupun Uncharted untuk menyewa Voice Actor ternama, mereka-mereka yang tergabung dalam proyek ini menghidupkan tiap-tiap karakter mereka dengan kompeten, membuat saya sebagai gamer tetap engaged mengikuti perjalanan Class VII walaupun pacing game pada beberapa bagian terasa lambat.

Pacing game ini memang bisa dibilang sedikit lambat, terutama di Chapter 1 – 3 game ini, saya merasa bahwa ketiga Chapter tersebut (yang panjangnya mencapai sekitar 15 – 20 jam) lebih terasa sepert introduksi untuk karakter-karakter yang ada. Game ini baru mulai menaikkan pacing memasuki Chapter keempat, dan kemudian terus menaikkan tensi dan ketegangan di dalam cerita di Chapter-Chapter berikutnya, dan mencapai klimaks secara dramatis di Chapter terakhir. Secara overall, saya merasa bahwa Trails of Cold Steel mendapatkan balance yang sangat baik untuk kisah kehidupan sekolah di Thors Military Academy dan kisah politik di Erebonia.

Jadi pertanyaannya apakah ini adalah sebuah game yang layak dimainkan? Bagi saya jawabannya jelas. Iya. Apabila tidak ada Persona 4 Golden di PS Vita, tidak ada game lain di koleksi library PS Vita-ku yang sanggup menyaingi game ini. Sekarang ijinkan saya untuk pamit, sebab saya harus tancap gas melanjutkan cerita di sekuelnya!

Score: 9

Leave a Reply