The Legend of Heroes: Trails of Cold Steel II

Review ini akan mengandung spoiler bagi game Trails of Cold Steel pertama. Jadi jangan baca review ini lebih lanjut apabila kalian belum memainkan game pertama, atau kalau kalian peduli dengan cerita dari Trails of Cold Steel.

You’ve been warned.

SPOILER ALERT.

Seri Trails of Cold Steel pertama ditutup dengan cliffhanger yang sangat menegangkan.

Komunitas Bangsawan / Noble melakukan pemberontakan setelah membunuh pemimpin dari kubu Reformis: Chancellor Osborne. Seluruh Erebonia terlibat di dalam sebuah Civil War yang brutal antara komunitas Noble dan sisa-sisa kubu Reformis yang memberikan perlawanan keras.

Para anak-anak dari Akademi Thors Military mau tidak mau terseret dalam Civil War ini. Rean yang baru saja membangkitkan sosok Divine Knight (Mecha) bernama Valimar, harus meloloskan diri dari tanah pertarungan, dipaksa untuk meninggalkan teman-temannya sebab posisinya makin terdesak.

Makin genting adalah realisasi para anak-anak Akademi Thors Military menyadari bahwa salah satu sahabat mereka: Crow, ternyata terlibat dalam pemberontakan kubu Noble.

Dan dengan itu berakhirlah kisah Trails of Cold Steel.

Setting dari game kedua ini dimulai sebulan kemudian, saat Rean terbangun di sebuah pegunungan dekat Ymir, hometown-nya. Tidak butuh waktu lama bagi Rean untuk mengambil keputusan mengumpulkan teman-temannya yang tercerai berai di seantero Erebonia.

Keputusan Rean mengumpulkan semua rekan-rekannya di Class VII (dan sekolah Akademi Thors Military secara umumnya) jelas: mereka ingin menjadi sebuah pilar kekuatan yang bisa mempengaruhi jalannya peperangan yang menentukan masa depan Erebonia.

Kisah Trails of Cold Steel II adalah kulminasi dari semua jalan cerita yang sudah dibangun secara hati-hati di prekuelnya. Lokasi-lokasi yang kamu kunjungi di game ini hampir semuanya pernah kamu kunjungi di game sebelumnya, melalui Studi Lapangan-mu di game sebelumnya. Akan tetapi, suasana dan tensi mendatangi tempat-tempat tersebut sangat berbeda dengan pengalaman di game pertama, di mana kamu mendatangi kota-kota tersebut dalam masa damai.

Di sinilah saya melihat kematangan dari penulisan skenario dan translasi di Trails of Cold Steel II. Setiap konflik peperangan maupun konflik batin dalam tiap-tiap karakter di game ini, dari karakter utama sampai NPC, tergambarkan dengan baik di sini. Ini membantu kita melihat prosesi Civil War ini secara seutuhnya: dari pola pandang kubu Reformis, dari pola pandang kubu Noble, dan dari para rakyat jelata yang terjebak di tengah keduanya.

Kualitas grafis dan audio dari game ini tak memiliki perbedaan signifikan dengan prekuelnya. Harap wajar sebab kedua game ini digarap dengan model engine yang sama. Dan engine ini memang akan terus dipakai untuk penggarapan dua game Trails of Cold Steel berikutnya: Trails of Cold Steel III dan Trails of Cold Steel IV. Satu hal yang saya rasakan adalah lag yang terjadi di beberapa bagian saat memainkan prekuelnya tak lagi terlalu saya rasakan saat memainkan game ini. Masih ada beberapa slowdown di bagian-bagian tertentu game, tetapi secara keseluruhan sudah jauh lebih baik ketimbang prekuelnya.

Oh ya, harap ingat, saya memainkan game ini di handheld PS Vita saya, konon versi konsol memang tidak mengalami lag apapun karena sistem prosesor versi konsol lebih powerful ketimbang versi handheld.

Gameplay dari Trails of Cold Steel II-lah yang memiliki sedikit overhaul. Basisnya sebenarnya sama saja. Dalam Battle kamu sekarang memiliki satu ability tambahan yang bernama Overdrive. Saat kamu dan partnermu masuk ke dalam mode Overdrive kalian akan bisa melakukan Action serangan tiga kali beruntun. Ini cukup berguna, terutama bila kamu berada dalam posisi yang terdesak dan perlu serangan besar untuk mengalahkan lawan. Di luar itu, sebenarnya Battle system dalam game ini masih mempertahankan semua elemen dari prekuelnya.

Dengan kata lain kamu masih bisa memakai serangan baik dalam bentuk Craft dan Skill. Setiap karakter pun bisa kamu modifikasi dengan Orb-Orb yang bisa kamu Equip pada diri mereka. Orb adalah kunci kemenanganmu di sini. Karaktermu bisa jadi sangat kuat apabila kamu memasang kombo-kombo Orb yang pas di diri mereka – sebaliknya kekuatan mereka takkan maksimal kalau Orb yang kamu pasang tidak pas / tidak bersinergi baik satu sama lain.

Inovasi terbesar Battle System game ini terletak pada pertarungan para Mecha-nya. Pertarungan para Mecha sudah diperkenalkan di penghujung game pertamanya tetapi baru di sekuelnya ini konsep Battle para Mecha lebih diflesh-out. Di momen-momen tertentu game, kamu bisa memakai Valimar untuk bertarung melawan para Mecha milik musuh. Sejujurnya introduksi para Mecha ini menurutku selalu sedikit aneh di mataku. Tetapi lama-lama saya jadi terbiasa dengannya. Pola pertarungannya sedikit berbeda dibandingkan dengan pertarungan biasa, dan sedikit banyak mengingatkanku dengan sistem Gunting-Batu-Kertas (Jankenpon) dalam elemen Battle-nya.

Sistem eksplorasi dalam game ini juga lebih bebas dibandingkan dengan game pertamanya yang lebih terpatok narasi. Dalam Trails of Cold Steel II akan ada momen di pertengahan game ini di mana kamu akan diberi kebebasan untuk mengakses (hampir) semua wilayah Erebonia secara bebas. Akan ada misi-misi utama yang berguna untuk mendorong maju narasi game tetapi akan ada banyak kebebasan bagimu bermain hal-hal lainnya. Mulai dari memburu para Monster-Monster khusus, menyelesaikan Dungeon-Dungeon optional, sampai bermain Snowboarding. There are lots of things to explore in this game, dan saya tidak akan heran kalau kamu bisa menghabiskan sampai 60 – 80 jam mengeksplorasi semuanya.

Lebih gilanya lagi, setelah pertarungan di Final Chapter yang saya anggap sudah merupakan penghabisan di game ini, Trails of Cold Steel II masih memberikan konten tambahan bonus kepada pemain. Segmen bernama Diverttisement adalah sebuah chapter tambahan di mana kamu bisa bermain dengan para karakter utama dari Crossbell Dwilogy (Zero no Kiseki dan Ao no Kiseki), it’s a very nice Easter Egg yang menyambungkan narasi dari kedua story arc ini (Crossbell dan Erebonia). Tak hanya itu, setelah Chapter Diverttisement tersebut berakhir, cerita akan berlanjut pada sebuah Chapter Epilogue, yang panjangnya tidak main-main, berisi beberapa Sidequest khusus dan memiliki satu Final Dungeon tambahan.

In other words, this is a HUGE game.

Pada akhirnya, kalau kamu sudah memainkan dan menyelesaikan Trails of Cold Steel yang pertama, mustahil untuk tidak langsung ingin memainkan sekuelnya. Trails of Cold Steel II bagaimanapun menutup kisah ini dengan cukup manis. Beberapa narasi cerita masih dibiarkan terbuka untuk bersambung ke Trails of Cold Steel III, tetapi mayoritas cerita utama sudah terselesaikan dengan rapi. Anggap saja ini adalah akhir dari Season pertama, dan Trails of Cold Steel III nanti merupakan awal baru dari Season kedua.

So how is this game? Trails of Cold Steel I dan II adalah dua game J-RPG terbaik yang ada di handheld Vita. Sekali lagi saya ulangi, di luar Persona 4 Golden (which stands as one of the best J-RPG of all time in my eye) tidak ada J-RPG lain yang bisa menjadi lawan bagi seri Trails of Cold Steel. What an epic journey!

Score: 9

One comment

Leave a Reply