High Score

Video Game adalah salah satu media mainstream yang paling terakhir lahir. Ia jauh lebih baru dibandingkan dengan Theater, Musik, dan Film. Akan tetapi Video Game memiliki penggemar dan komunitas yang terbesar di dunia sekarang. Data statistik terbaru menyatakan bahwa Pasar Video Game lebih besar daripada Pasar Musik dan Pasar Film DIGABUNGKAN. Sungguh tak disangka, bahwa industri ‘hijau’ ini sudah makin naik daun saja.

Netflix baru saja menciptakan sebuah dokumenter enam bagian tentang lahirnya industri Video Game: judulnya High Score.

Enam episode ini mengangkat topik dan masa yang berbeda-beda dalam sejarah Video Game. Misalnya episode pertama membicarakan mengenai bagaimana Space Invaders sukses besar dan bagaimana Atari mengkapitalisasi kesuksesan itu untuk mendorong konsol mereka: Atari 2600. Kemudian episode kedua berbicara mengenai bagaimana Nintendo menghidupkan kembali industri Video Game setelah Video Game crash terjadi karena game E.T.

Digagas oleh France Costrel dan dinarasikan oleh Charles Martinet (pengisi suara Mario), dokumenter enam episode ini terasa seperti love letter bagi dunia Retro Game. Saya sedikit banyak mengingat film dokumenter Video Game: The Movie, yang pernah disutradarai dengan backingan dana Kickstarter beberapa tahun lampau. Tentunya dengan gerojogan dana yang lebih besar dari Netflix, High Score terasa lebih terpoles.

Saya terutama suka dengan bagaimana narasi di beberapa bagian yang mengikuti animasi Video Game yang tengah dibahas. Ada episode tertentu misalnya yang membahas tentang Mortal Kombat dan Street Fighter, dan di saat yang bersamaan narasi di dalam seri ini mengimplementasikan layar pertarungan Duel Street Fighter, membantu imersivitas penonton.

High Score tetap bukan sebuah dokumenter yang sempurna. Beberapa pecinta Retro Gamer akan menyadari beberapa kekurangan yang ada. Salah satu contoh adalah saat mereka membahas mengenai kreasi dari Sonic the Hedgehog, entah kenapa nama Yuji Naka sebagai salah satu dari tiga kreator Sonic sama sekali tidak disebut di sini. Saya tidak paham apakah Yuji Naka tak mau tampil atau bagaimana – tetapi mengenyampingkan orang yang bisa dibilang berjasa paling besar melahirkan Sonic adalah kelolosan yang memalukan.

Saya juga tidak terlalu suka dengan bagaimana dokumenter ini berusaha memasukkan terlalu banyak elemen kaum minoritas di dalam penuturannya. Oke, saya bisa memaklumi beberapa bagian yang memberikan inklusi pada kaum minoritas, seperti bagaimana seorang Programmer kulit hitam di EA yang bangga mampu ‘memaksakan’ EA menampilkan olahragawan berkulit hitam di Cover Game dari game American Football Madden. Akan tetapi saya geleng-geleng ketika High Score memasukkan segmen tentang sebuah game Indie RPG yang bernama Gayblade, sebuah RPG yang… berkisah mengenai para Gay, dan merupakan sebuah RPG yang diciptakan untuk melawan stigma Gay sebagai kaum penyebar AIDS, sebuah stigma negatif yang sangat melekat pada kaum Gay di awal dekade 1990an dulu.

Tanpa ingin menyinggung perasaan para kaum marginal tersebut, Gayblade BUKAN sebuah game yang memiliki posisi penting apapun di dunia RPG, apalagi di dunia game. Ketimbang menghabiskan waktu membahas mengenainya, kenapa tidak memberikan waktu tersebut kepada game-game RPG lain yang lebih pantas mendapatkannya? Game seperti Chrono Trigger, Xenogears, dan seabreg RPG berkualitas lainnya? Itulah sebabnya saya merasa bahwa dua episode High Score merupakan episode-episode yang terbaik, sebab mereka tidak memasukkan elemen-elemen yang tidak diperlukan dalam sejarah Video Game.

Saya salut dengan betapa banyak dan bervariasinya narasumber yang didapatkan oleh para tim pencipta serial ini. Mulai dari nama-nama besar industri Video Game seperti Trip Hawkins dan Nolan Bushnell dari Amerika, sampai ilustrator legendaris Yoshitaka Amano dari Jepang, banyak sosok-sosok penting dalam industri Video Game muncul di serial ini. Tapi tidak hanya itu, High Score juga memasukkan beberapa figur dari para user: seperti juara dari even Nintendo World Championship dan Sega Rock the Rock. Saat High Score berfokus kepada dunia game, dan bukannya sibuk berusaha merepresentasikan kaum pinggiran di dalam dokumenter inilah, High Score baru benar-benar bisa bersinar.

Secara keseluruhan, enam episode bagi saya bukanlah waktu yang cukup untuk membahas mengenai industri Video Game. Pun begitu, I still enjoy High Score a lot. Saya berharap bahwa dokumenter ini cukup sukses sehingga Netflix memberi lampu hijau menggarap season keduanya. Bahkan untuk kurun waktu yang sama: di tahun 1970 – 1995 (era pra-Playstation) saja masih banyak sekali cerita Video Game yang belum tergali. Bagaimana dengan dunia Handheld seperti Game Boy? Bagaimana dengan perpecahan antara Nintendo dan Sony yang kemudian menjadi cikal bakal dari lahirnya Playstation? Bagaimana dengan beberapa genre Game lain yang belum mendapatkan fokus di season pertamanya ini?

Terlepas dari kekurangan itu, High Score adalah sebuah dokumenter yang enjoyable dan wajib tonton bagi semua gamer di luar sana. Watch the series, and enjoy the ride!

Score: 8.0

Leave a Reply