Mulan

Ketika Disney mengumumkan akan membuat Live Action dari animasi Mulan, saya mengernyitkan dahi, apakah Disney mulai kehabisan bahan?

Walaupun pada hari ini Mulan adalah salah satu film Disney yang sangat dicintai, perlu diingat bahwa pada masanya dulu ia bukan film animasi Disney yang sangat sukses.

Coba lihat pendapatan film Mulan dibandingkan dengan film-film Disney yang benar-benar laris di era 1990an. The Lion King meraup lebih dari 300 Juta USD sementara Aladdin meraup di atas 200 Juta USD. Mulan? Kendati tidak sedikit, jumlah pendapatan Mulan mandeg di angka 120 Juta USD. Jadi apa alasan Disney menggarap film Live Action-nya?

Tidak perlu waktu lama bagi saya untuk tahu jawabannya: pasar Cina. Pasar Cina saat ini sedang berkembang pesat dan pada tahun ini akan melewati Hollywood sebagai pangsa pasar utama film dunia. Disney tidak buta. Apabila film-film superhero mereka bisa laris di sana, kenapa tidak Mulan, yang notabene adalah legenda dari Cina?

Dengan mengusung semangat Asia, cast dari Mulan pun ditunjuk dan semuanya dari Asia, mulai dari Liu Yifei yang berperan sebagai Mulan sampai beberapa artis ngetop China yang juga menjual di mancanegara: Donnie Yen, Jet Li, dan Gong Li. Deretannya sudah jelas layak diacungi jempol. Dengan tambahan sutradara Niki Caro yang resume filmografinya lumayan, semakin besarlah harapan orang akan film ini.

Lantas dimulailah masalah bagi film Mulan. Pertama adalah beberapa perubahan yang dilakukan Disney: menghilangkan Mushu sebagai sidekick Mulan, mengubah peranan dari sang Kapten Li Shang, dan perubahan tone ke arah yang lebih serius di trailernya menimbulkan pro-kontra. Banyak orang bersedih bila Mulan menjadi terlalu serius karena itu berarti yang diadaptasi Disney menjadi Live Action bukan lagi kisah Mulan kartun dulu.

Itu baru awal dari masalah Mulan. Masalah kedua timbul ketika akun Media Sosial dari Liu Yifei mendukung perlakuan para polisi yang menghentikan para perusuh Hong Kong. Ini membuat seantero dunia barat menjadi geger dan marah karena menganggap Liu Yifei sebagai sosok yang tak mendukung HAM. Bahkan ada gerakan memboikot Mulan dikarenakan hal ini.

Dan masalah yang paling terakhir jelas sang Virus Corona. Tepat seminggu sebelum Mulan direncanakan untuk dirilis di Amerika (dan bahkan sudah discreening secara terbatas), Disney terpaksa membatalkan rencana ini karena Bioskop seantero Amerika ditutup. Tertunda selama berbulan-bulan, Disney memutuskan merilis Mulan melalui saluran streaming mereka: Disney+. Jadi bagaimana hasilnya?

Percaya tidak percaya, kisah di balik layar Mulan ini jauh lebih menarik ketimbang filmnya sendiri. Because the moviesucks.

Jalan cerita dari film Live Action ini mengikuti inti yang sama dengan film animasinya, di mana Hua Mulan menggantikan ayahnya untuk maju membela kekaisaran Cina dari serangan orang asing bangsa Rouran. Bagaimana Mulan harus pura-pura menjadi seorang pria dan membaur, sampai akhirnya dia bisa mengakui dirinya sebagai seorang wanita tulen dan menyelamatkan kekaisaran Cina dan menjadi legenda semua diulang di film ini tanpa perubahan apapun.

So what makes this movie bad?

Everything.

Mari kita mulai dari penyutradaraannya. Niki Caro bukan seorang sutradara yang paham dengan film Martial Arts, Epic, maupun Wuxia. Ini membuat penyutradaraan dan editingnya di dalam film ini sangat kacau. Gerakan pertarungan antara para karakter di film ini terasa canggung dan kaku, sesuatu yang seharusnya tidak terjadi mengingat baik Jet Li, Donnie Yen, dan bahkan Liu Yifei sendiri punya pengalaman cukup piawai dalam film bergenre ini. Tidak hanya dalam adegan Martial Arts saja Niki Caro kewalahan tetapi juga pengambilan kisahnya dalam perang kolosal. Saya berkali-kali tepuk jidat melihat editing yang kasar di mana posisi Mulan seakan bisa berteleport ke sana-sini di tengah medan pertarungan. I have not seen an colossal fight this bad since… probably The Last Airbender.

Lantas akting tiap karakternya. Di luar Gong Li, saya tidak merasa bahwa aktor yang dipakai dalam film ini dikenal dengan kemampuan akting mereka. Dan lebih celakanya lagi, mereka dipaksa untuk berdialog dalam bahasa yang bukan bahasa primer mereka. Di luar Donnie Yen yang memang tumbuh di Amerika, kentara sekali aktor-artis lain – apalagi Jet Li – kesulitan melafalkan dialog mereka dalam bahasa Inggris. Mungkinkah Jet Li sudah kelamaan absen garap film di Amerika sehingga sekarang ia lupa cara berbicara dalam bahasa Inggris? Walhasil, adu akting para aktor (utama) di sini terasa… hambar.

Saya juga kecewa dengan bagaimana motivasi tiap karakter di film ini seperti tak tersampaikan kepada penonton. Saya tidak merasa emosi apapun melihat Mulan berkorban menggantikan posisi sang Ayah, karena hubungan mereka tidak tergali. Saya juga sangat kecewa dengan bagaimana karakter Villain baru di film ini: Xianniang, yang masa lalunya seharusnya bisa digali lebih dalam lagi.

Dan kalau Disney ingin membuat kisah ini lebih serius dengan menghilangkan Mushu… well, ternyata tidak. Alih-alih menjadikan film ini lebih serius ternyata Mushu digantikan dengan ikon burung Phoenix yang… saya tidak tahu apa fungsinya. Kisah Mulan yang harus bekerja keras supaya menjadi sosok yang bisa dihormati oleh rekan-rekannya pun hilang karena sekarang Mulan dari awal sudah jago – the special one yang menguasai kemampuan Chi…, yang saya tidak tahu apa itu karena tak pernah dijelaskan secara detail dalam film. Weleh, apa tidak cukup orang-orang memaki Rey dari Star Wars?

Pada akhirnya terlepas dari beberapa shot lansekap yang cantik, tidak ada yang bisa dibilang bagus dari film Mulan. Dengan tragis saya terpaksa memberi film ini skor yang sangat buruk. Jangan tonton, kecuali kalian ingin kecewa.

Score: 3

Leave a Reply