The Social Dilemma

Semenjak dekade 2011 dimulai media sosial menjadi bagian yang makin tak terpisahkan dari hidup semua orang.

Facebook. Instagram. Twitter. Youtube. Snapchat. TikTok. Netflix.

Dan seabreg-abreg hiburan dan konten online terus menerus bermunculan menjamur tiap harinya. Semuanya berebut atensi kita.

Di satu sisi, kita sebagai pengguna (user) merasa sebagai sosok yang dimanjakan dengan begitu banyaknya pilihan yang diberikan kepada kita. Tetapi di sisi lain, kita perlu bertanya-tanya kepada diri kita sendiri, apakah ada “pengaruh terselubung” yang negatif dari semua ini?

Dan itulah yang berusaha diangkat oleh film dokumenter karya Jeff Orlowski.

Dirilis di tahun 2020, The Social Dilemma mempertanyakan mengenai bagaimana media sosial sekarang memiliki kekuatan untuk mencuci otak penggunanya. Seperti dengan menyuguhkan Suggested Video atau konten untuk ditonton pemakainya. Atau dengan Suggested Friend. And yes, the irony that this is on a Netflix platform does not elude me. Setiap perusahaan media sosial mulai dari Amazon sampai Quibi memiliki algoritma mereka sendiri untuk mencari tahu mengenai kebiasaan dari penggunanya, dan menyuguhkan konten yang berfungsi untuk membuat para pengguna itu makin ketagihan memakai platform mereka.

Bagi beberapa orang yang mawas dengan teknologi (seperti saya), beberapa isu negatif yang diangkat di dalam film dokumenter ini sudah sangat saya pahami. Isu-isu seperti data diri kita yang diperjualbelikan, atau bagaimana kebiasaan kita dipelajari secara diam-diam oleh para korporat raksasa, adalah hal yang sudah sangat saya pahami. Dan kenapa semua perusahaan itu melakukannya? Ya jelas, karena uang. Saya sendiri sudah lama berkutat di dunia maya sehingga saya paham dengan cara kerjanya.

Tetapi The Social Dilemma tidak berhenti di sana. Orlowski mewawancarai orang-orang dari berbagai kalangan; rata-rata mantan Manager atau pemegang posisi penting di media sosial macam Google, Facebook, Pinterest, dan banyak lainnya… dan mereka menyadari bahwa pengaruh buruk teknologi media sosial lebih dari itu.

Salah satu contoh yang paling dominan di dunia saat ini adalah bagaimana berita Hoax muncul. Dengan begitu banyaknya pengguna Facebook dan media sosial lain melancarkan Hoax, bagaimana para raja media sosial ini bisa mengurangi terjadinya hal tersebut? Jawabannya: sulit. Kendati di tahun lalu Facebook sudah terus disorot mengenai hal itu, hingga tahun ini ketika kasus COVID-19 meledak, Facebook (dan media sosial lainnya) masih kewalahan menangkal berita mengenai Hoax COVID-19 yang bertebaran di dunia maya.

Dan hal ini memang sulit untuk dikendalikan. Salah satu tokoh yang diwawancarai di sini mengatakan bahwa untuk bisa mengendalikan berita Hoax di internet, media sosial perlu mencari tahu apa itu kebenaran. Pertanyaan saya saat menontonnya sederhana: “Apa itu kebenaran?“. Sebab “kebenaran” bagi satu pihak sangat mungkin “kesalahan” bagi pihak yang lain. “Kebenaran” di era sekarang bisa menjadi “kesalahan” di era yang lain.

Pada akhirnya, bahkan dokumenter yang menyajikan begitu banyak ide menarik dalam The Social Dilemma pun tak bisa memberikan jalan keluar bagi permasalahan-permasalahan yang mereka angkat.

Dalam film ini, seorang senator bertanya bahwa setiap teknologi muncul, akan selalu terjadi perubahan yang besar. Saya pun dibuat bertanya-tanya, apakah media sosial benar-benar seberbahaya yang digambarkan di dalam film ini? Jawabannya sebenarnya tergantung dari kontrol dan kendali dari setiap orang. Apa bedanya media sosial dengan Video Game? Bukankah di dekade 1990an dulu banyak orang juga kecanduan bermain Video Game? Bukankah muncul juga outrage saat game seperti Mortal Kombat dan Street Fighter menunjukkan kekerasan berlebihan?

Toh pada akhirnya? Orang beradaptasi dengannya. Anak-anak yang dulu tumbuh di tahun 1990an bermain Video Game dengan muatan kekerasan (seperti saya dan teman-teman saya), tumbuh baik-baik saja sekarang. Film dokumenter ini dengan berani menyatakan bahwa Generasi Z, generasi yang lahir di tahun 1996 ke atas, akan menjadi generasi yang rapuh karena nilai value diri mereka sudah terkikis dari semua keglamoran dan feedback dari media sosial… tapi benarkah itu? Saya tidak tahu. Biarlah waktu yang menjawabnya di dekade-dekade ke depan.

Pada akhirnya, The Social Dilemma adalah sebuah dokumenter yang mengangkat topik menarik dan membuat saya menimbang-nimbang ulang mengenai pro-kontra tiap-tiap aplikasi yang kupakai di dalam Smartphoneku. Dan buat saya, film dokumenter yang membuat saya memutar otak adalah ciri dari sebuah film dokumenter yang, walaupun isinya dangkal, berhasil.

Score: 8

Leave a Reply