Enola Holmes

Pecinta literatur tentu mengenal karakter Sherlock Holmes. Tokoh fiktif karangan dari Sir Arthur Conan Doyle adalah Detektif paling terkenal di dunia. Oleh karena keterkenalannya itulah sosoknya banyak difilmkan dan dirinya diperankan oleh aktor-aktor ngetop seperti Benedict Cumberbatch dan Robert Downey Jr. , berikutnya Sherlock Holmes akan diperankan oleh Henry Cavill… tetapi fokus dalam film terbaru ini bukan pada dirinya melainkan pada adik perempuannya: Enola Holmes.

Bagi kalian yang mengernyitkan dahi sebab tidak familiar dengan nama Enola Holmes… kebingungan kalian tidak salah. Enola Holmes memang bukan karakter yang diciptakan oleh sang pengarang melainkan oleh penulis Nancy Springer. Karakter Sherlock Holmes sudah masuk dalam domain umum sehingga Springer sebagai seorang penulis bebas mengaryakan dan mengutak-atik mitologi Sherlock Holmes. Caranya bagi Springer adalah dengan menambahkan sosok adik bagi Sherlock.

Kisah dari Enola Holmes dibuka saat sang tokoh utama berulangtahun ke 16. Enola yang sangat lekat dengan Ibunya terperanjat ketika sang Ibu mendadak saja menghilang secara misterius. Gara-gara hilangnya sang Ibu (yang memang nyentrik) ini, kedua kakak dari Enola: Sherlock dan Mycroft pun pulang rumah untuk mencari tahu mengenai misteri ini. Bertemunya ketiga saudara ini langsung menimbulkan tensi, terutama karena Mycroft ingin Enola dimasukkan sekolah khusus perempuan, Enola enggan melakukannya, sementara Sherlock hanya ingin cuci tangan dari urusan keluarga.

Puncaknya? Enola kabur dari rumah, melarikan diri ke London karena menemukan pesan tersembunyi dari sang Ibu. Sesampainya Enola di London, ia malahan terlibat dalam konspirasi lain, yang kali ini mungkin berkaitan dengan perubahan iklim politik di seantero Britania Raya.

Enola Holmes yang dibuat oleh sutradara Harry Bradbeer menunjukkan bagaimana Netflix makin apik saja kualitas film-film orisinilnya. Enola Holmes digarap dengan budget yang lumayan besar dan saya tidak akan kaget bila melihat film ini dirilis di layar lebar dan bukannya sekedar di saluran streaming semata. Kualitas produksi film ini mulai dari kostum dan setting jaman dulu diciptakan dengan detail yang meyakinkan.

Acungan jempol pun perlu diberikan dengan kualitas akting dari para aktor-artis yang terlibat di dalam serial ini. Millie Bobby Brown sudah saya sukai semenjak dia tampil di Stranger Things, tetapi karirnya di dalam layar lebar tak seberapa saya sukai (I hated Godzilla: King of the Monsters). Baru dalam film inilah saya melihat Millie diberi kesempatan menunjukkan kapasitas aktingnya secara maksimal – dan dia memanfaatkan setiap momen yang ada. Kalau ada film yang bisa disebut sebagai breakthrough role darinya… this is it.

Millie dikelilingi dengan cast senior yang tak kalah apik darinya. Mulai dari Henry Cavill sebagai Sherlock yang berbeda dari dua aktor MCU yang sebelumnya memerankan sang Detektif sampai Sam Claflin yang sinis sebagai Mycroft. Tak lupa ada Helena Bonham Carter yang porsinya di sini lebih seperti glorified cameo – tetapi tetap pas menjalin chemistry dengan Millie. Yang paling mengejutkan justru peran Louis Partridge sebagai Tewkesbury. Sebagai aktor yang saya paling tidak tahu menahu, ia langsung mampu membangun chemistry yang bagus dengan Millie, dan tampang gantengnya dijamin mampu membuat pangsa pasar film ini terpesona.

Enola Holmes, sepertinya halnya Nancy Drew, menunjukkan bahwa para gadis juga bisa tampil tangguh dan menjadi jagoan dalam kisah mereka sendiri. Satu hal yang saya suka di sini adalah bagaimana sang sutradara tak membuat karakter-karakter sekeliling Enola bodoh guna membangun karakter Enola menjadi tangguh. Keengganan Harry untuk mengambil jalan pintas ini menjadikan Enola seorang Mary Sue membuat karakter ini justru lebih endearing di mata penonton. Inilah yang perlu diperhatikan oleh Disney yang sudah melakukan kesalahan fatal dengan karakter Rey dan Mulan.

Satu-satunya kekurangan dalam film Enola Holmes adalah ketika ia berusaha untuk memasukkan unsur-unsur politik dalam ceritanya. Sang sutradara sepertinya ingin memasukkannya tetapi tak berani total. Hasilnya malah tanggung dan – walau integral dalam cerita – membuatnya terasa membingungkan tiap kali diangkat. Celakanya, unsur politik ini kok sepertinya akan menjadi benang merah yang mengikat Enola Holmes ke film-film selanjutnya. Hanya bisa berharap kalau film ini tak kemudian menjadi tunggangan politik pihak-pihak tertentu.

Pada akhirnya, Enola Holmes is a great mystery movie for everyone. Saya sendiri jadi merasa tertarik ingin tahu kisah sang adik Sherlock selanjutnya via buku novel karangan Nancy Springer, dan rasanya saya yakin kalau Netflix akan cepat-cepat memberi lampu hijau bagi sekuel film ini kalau sukses. Make it happen, Netflix.

Score: 8

One comment

  1. As much as I like Millie Brown’s performance, hated this film.
    Yang paling ku benci tentunya mengacak acak karakter orisinil ciptaan SACD, dari Sherlock yg tiba2 jadi detektif flamboyan yang disukai banyak orang, sampai Mycroft yang jadi PNS goblok memandang tinggi status.
    Yang kedua adalah bagaimana maksanya memasukkan unsur sejarah yang tidak pada tempatnya. OK lah masukin plot Reform Bill ke dalam cerita karena emang di situ benang merahnya. Tapi masukin diversity ke era Victorian di London? Lalu masukin jujitsu seakan itu martial arts umum di Inggris?
    Plotnya sendiri kayak kisah detektif remaja a la Lima Sekawan yang ringan, tapi emang ini film teen adventure sih jadinya gak masalah.

Leave a Reply