The Haunting of Bly Manor

Dua tahun yang lalu, The Haunting of Hill House karya Mike Flanagan menjadi hit di antara para penonton Netflix. Campuran horor dengan kisah drama keluarga Crain menjadikannya sebagai sesuatu yang spesial dibandingkan kebanyakan film horor pendek. Dua tahun berlalu dan Mike Flanagan kembali dengan season kedua dari The Haunting of Hill House, namanya kali ini adalah The Haunting of Bly Manor.

Sesuai dengan judulnya, The Haunting of Bly Manor bersetting di sebuah Rumah Peristirahatan Musim Panas bernama Bly, letaknya di Inggris, jauh dari Amerika setting serial pertamanya. Karakter-karakternya pun kali ini berbeda jauh. Ini dikarenakan serial ini mengambil pendekatan antologi macam American Horror Story, yang berarti tiap seasonnya mengambil kisah yang berbeda. Bila season pertama mengadaptasi novel yang berjudul sama, season keduanya mengadaptasi novella yang berjudul The Turn of the Screw oleh Henry James.

Kisah dari The Haunting of Bly Manor ini diawali saat seorang Babysitter / Nanny / Governess disewa oleh seorang pengacara di London yang kaya tapi terlalu sibuk mengurus keponakannya. Babysitter bernama Danielle itu menyadari bahwa kedua anak yang ada di Bly Manor: Miles dan Flora Wingrave sifatnya agak aneh, tidak lazim seperti anak-anak biasanya. Miles kerap berakting bak seorang bocah genit sementara Flora bersikap sok manis tapi suka melihat ke arah yang lain, entah melihat apa?

Dan bukan hanya dua anak itu saja yang sepertinya menyimpan rahasia, Bly Manor sendiri memiliki atmosfir angker di dalamnya, Danielle kerap melihat sosok pria misterius yang dulu pernah ada di sana tetapi sekarang sudah tidak ada lagi. Menambah bau angker, Babysitter yang pernah disewa di tempat ini sebelum Danielle bunuh diri di tempat tersebut karena putus cinta. Sebenarnya misteri apa yang ada di Bly Manor, dan kenapa kemalangan seakan menghampiri tiap-tiap orang yang ada di sana?

Setelah menunggu dua tahun untuk serial ini, let’s get something out of the way: season kedua ini tidak sebagus season pertamanya.

Kualitas horor di dalam season ini banyak mengalami penurunan dibandingkan dengan season pertamanya. Apabila dalam season pertama setiap frame terasa menakutkan karena keberadaan hidden ghost yang muncul entah dari mana, ditambah dengan jalan cerita yang memang menegangkan, banyak hal tersebut yang tak lagi terasa di dalam season kali ini. Sebaliknya, Mike Flanagan dan sutradara-sutradara lain lebih asyik mengeksplorasi hubungan antara para manusia dan insan di dalam Bly Manor.

Saya pribadi tak ingin mengkritik eksplorasi hubungan antara karakter yang ada, after all, sebuah Horor yang bagus bagi saya membuatku bisa peduli dengan karakter-karakter di dalamnya. Masalahnya ini kan masih serial horor, dua elemen drama dan horor yang dibalance dengan begitu baik di season pertama sepertinya jadi rusak di season kedua kali ini.

Sekarang mari kita bicara soal elemen drama di dalam serial ini. Walaupun secara keseluruhan tetap solid, saya pun merasa bahwa serial ini kalah apik dibandingkan dengan season sebelumnya. Kenapa? Dalam season pertama, Mike Flanagan membagi waktu yang tepat kepada tiap karakternya untuk bersinar. Episode pertama misalnya berfokus pada anak tertua, episode kedua untuk anak kedua, dan begitu seterusnya. Akan tetapi di tiap bagian cerita-cerita personal itu kemudian menyatu membangun satu cerita keseluruhan yang kohesif.

Itu tidak terjadi di season kedua ini. Setiap karakter memiliki jalan cerita personal mereka and mind you, they were all good. Saya terutama sangat terkesan dengan performa monolog dari Rahul Kohli, penampilan yang begitu heartbreaking dari Amelia Eve, sampai T’nia Miller yang mencuri perhatianku dengan twist dalam ceritanya. Akan tetapi ketika semuanya disatukan dalam satu cerita utama – hasilnya tak sekohesif yang kuharapkan. It felt disjointed. Film ini kerap melakukan lompatan dari satu sekuen ke sekuen lain, dan itu memberi efek tidak nyambung. Seberusaha apapun Flanagan membuatnya seperti menyatu – ia tidak berhasil.

So is this a bad season? Tergantung. Apabila kamu menonton serial ini dan mengharapkan sesuatu seperti season pertamanya, prepare to be disappointed, heavily. Tapi kalau kamu ingin sebuah cerita drama dengan sedikit taburan hantu dan horor di dalamnya, kalian akan menyukai season ini. A good attempt by Mike Flanagan, but it fell short of its prequel.

Score: 7.0

Leave a Reply