Skip to content

His House

Isu pengungsi (refugee) adalah sesuatu yang hangat dibahas di seantero dunia saat ini.

Ada orang yang pro dengan menerima pengungsi ke dalam negara mereka sementara ada juga orang yang kontra. Yang unik ini bukan sekedar terjadi di satu dua negara saja tetapi di banyak negara di seluruh dunia. Banyak sekali publik Amerika yang membenci pendatang dari Meksiko dan negara latin sehingga Donald Trump pernah mencanangkan slogan “Build the Wall” sebagai salah satu tujuan utama kampanyenya.

Tidak hanya di Amerika, Eropa pun banyak menemui kesulitan menerima para refugee yang datang dari negara-negara yang dilanda konflik peperangan (biasanya dari Afrika dan Timur Tengah). Bahkan Asia pun tidak luput dari kontroversi ini di mana para pengungsi Rohingya yang katanya dipersekusi di negara Myanmar menemui kesulitan diterima di negara lain (termasuk Bangladesh – negara asal mereka).

Oleh karena itu, menarik melihat topik yang sensitif ini diangkat menjadi bagian dari film Horor. Tetapi itulah yang dilakukan oleh sang sutradara debutan: Remi Weekes, yang juga mengadaptasi naskah film ini dari cerita ide duet Felicity Evans dan Toby Venables.

Kisah ini dimulai saat sepasang suami – istri: Bol dan Rial sukses melarikan diri ke Inggris, meloloskan diri dari perang antar suku yang berkepanjangan di Sudan. Sesampainya di Inggris Raya, mereka diterima dengan perasaan skeptis oleh agen-agen pemerintah Inggris yang mengarantina mereka. Setelah beberapa bulan lamanya, Bol dan Rial dilepaskan dengan syarat. Mereka boleh menempati sebuah rumah dan mencoba berasimilasi dengan komunitas sekitar secara baik. Apabila Bol dan Rial sukses melakukannya – mereka akan diperbolehkan tinggal di Inggris. Gagal? Mereka akan dideportasi dan dipulangkan kembali ke negara asal mereka.

Maka rumah yang disediakan oleh pemerintah Inggris – walaupun reot – dianggap sebagai suaka yang indah bagi Bol tetapi sebagai penjara oleh Rial. Ketidaksetujuan antara Bol dan Rial makin menjadi-jadi setelah mereka menemui bahwa rumah yang mereka tempati itu dihantui oleh seorang Apeth atau Night Witch (Penyihir). Apeth ini terus meneror Bol dan Rial… dan penonton dibuat bertanya-tanya apakah Apeth ini sungguh ada atau hanya merupakan manifestasi rasa bersalah Bol dan Rial yang kehilangan anak mereka: Nyagak, saat pelarian ke Inggris?

Sulit menilai film His House secara keseluruhan ketimbang per bagian. Menonton film ini saya merasa bahwa sutradara Remi Weekes terlalu ambisius berusaha mengangkat terlalu banyak topik di dalam satu film sehingga ia kurang atensi dengan tiap-tiap topik yang ia angkat. Untuk gaya horor di film ini, Weekes sudah cukup baik. Entah bagaimana ia masih tetap sanggup mengangkat atmosfir rasa horor di dalam sebuah rumah – walaupun rumah tersebut ada di tengah perumahan. Rasa isolasi yang dihadapi oleh Bol dan Rial ditambah dengan rasisme terselubung dari sekeliling mereka adalah kunci untuk memberi kesan bahwa they are on this alone, without any help.

Walaupun saya suka dengan beberapa sindiran sosial yang diangkat film ini (termasuk satu sindiran yang menyindir balik Get Out), saya merasa bahwa Remi sedikit terlalu timpang dalam penjelasannya. Sekali lagi ini adalah sebuah film yang mengedepankan betapa kasihannya kaum imigran dan bagaimana kita adalah orang yang jahat apabila kita anti menerima kaum refugee, dan itu salah. Pada akhirnya perang suku atau perang saudara atau perang sipil apapun yang mereka alami di dalam tanah mereka adalah urusan mereka sendiri. Ketika negara lain sudah cukup berbaik hati untuk mengulurkan tangan membantu, sudah sepantasnya para refugee itu berterima kasih. Mungkin kata-kata saya berikut ini sadis tetapi realita memang begini: Beggars cannot be chooser.

Secara keseluruhan, His House is just an okay horror movie. Andai saja Remi mau lebih fokus ke salah satu sisi dalam filmnya, either in the horror side or the social commentary side, film ini harusnya bisa lebih baik lagi. Sayang, ia berusaha mencoba memaksimalkan keduanya dan malahan gagal di kedua sisi. Walhasil ending film yang seharusnya memiliki pesan yang menohok, mengena, sampai menyentuh… malahan jatuh menjadi ending yang klise, hambar, dan terlupakan.

Score: 6.0

reviewapasaja View All

A movie, book, game, TV series, comic, manga, board game, bla bla bla, etc etc etc lover. He tends to ramble about a lots of stuff in life. You can follow in his IG page @dennisivillanueva for his daily ramblings.

Leave a Reply

%d bloggers like this: