Skip to content

Never Rarely Sometimes Always

Saya adalah seorang Pro-Life. Let’s make this clear from the beginning. Saya tidak mendukung praktek Aborsi dengan dua pengecualian saja.

Satu: ketika kehamilan itu terjadi karena pihak wanita diperkosa oleh pihak pria. Dan Dua: ketika kehamilan itu membahayakan nyawa Ibu.

Di luar dua kategori itu, saya tidak akan pernah mendukung praktek Aborsi. Dengan alasan apapun.

Jelas? Oke. Lanjut.

Never Rarely Sometimes Always adalah sebuah film tentang Aborsi. Lebih tepatnya tentang bagaimana seorang gadis bernama Autumn Callahan ingin menggugurkan kandungannya.

Autumn tinggal di negara bagian Pennsylvania yang melarang Aborsi tanpa ijin orang tua. Karena Autumn hamil tanpa sepengetahuan dari orang tuanya, ia tidak mau minta ijin orang tuanya melakukan Aborsi dan terpaksa berangkat ke kota New York. Ia diam-diam mengaku kepada sepupunya Skylar yang membantunya dengan mencuri uang, lantas keduanya berangkat ke New York.

Kritikus film berlomba-lomba memuji film ini sebagai film yang sangat bagus karena menghargai wanita, dan lain sebagainya. Let me get this straight: It’s not, and it won’t be a good movie if you are someone who have even a gram of brain in your head.

Saya sama sekali tidak merasakan empati kepada karakter Autumn. Ia adalah seorang gadis yang mulai melakukan hubungan seksual sejak usia 14 tahun. Bahwa di usia 17 tahun ia hamil setelah berganti pasangan enam kali bukan hal yang mengagetkan bagiku. Film ini juga secara implisit menyatakan bahwa Autumn sudah terbiasa berhubungan seks bebas. Jadi apa yang mengagetkan kalau ia sekarang hamil? Lantas bila demikian adanya, kenapa ia lari dari tanggung jawab dan menggugurkan bayinya? Apalagi karena ada proses Adopsi yang bisa ia lakoni.

Tidak membantu adalah akting Sidney Flanigan sebagai Autumn. Saya tidak tahu salah siapa film ini sampai akting Sidney sebagai Autumn tampak tanpa emosi sama sekali. Satu-satunya emosi yang muncul adalah saat ia menangis ketika ditanyai apakah ia pernah disexual abuse oleh pasangannya. Saya menilai Autumn adalah seorang psikopat atau paling tidak seorang sociopath dengan kadar narsisme yang tinggi. Tidak ada gadis normal manapun yang dengan tenang tanpa rasa bersalah menggugurkan kandungannya dan tak menunjukkan rasa bersalah apapun. Autumn di film ini hanya peduli pada kesakitan yang dialami oleh dirinya (ketika ia dianiaya pasangan) tetapi tak peduli ketika ia harus menghilangkan nyawa (janin yang ia kandung).

Peranan Talia Ryder sebagai Skylar, sepupu sekaligus sahabat Autumn juga tak banyak membantu. Ada sebuah adegan di film ini ketika Skylar menangis ketika ia tidak suka dicium oleh pria. Ini mungkin bisa menjadi momen yang simpatik – tetapi bagaimana saya bisa simpatik karena alasan Skylar dicium pria adalah karena dia meminta seorang pria (yang tak kenal sama sekali dengannya) ngedate dengan dia, karena ia tidak punya uang, dan minta pinjam uang dari pria tersebut. Sudah bagus pria itu hanya mencium dia dan bukannya meminta ngeseks dengan dia, sebab perilaku Skylar itu sudah persis dengan seorang wanita jalang. Dan harap diingat, alasan kenapa mereka berdua tidak punya uang adalah karena mereka berdua tak mau orang tua keduanya tahu bahwa Autumn sudah hamil di luar nikah.

Pada akhirnya, Never Rarely Sometimes Always adalah delusi feminis yang merasa sok penting dan sok harus dihargai keputusannya. Salah satu film terburuk di tahun 2020. Absolute trash.

Score: 1.0

reviewapasaja View All

A movie, book, game, TV series, comic, manga, board game, bla bla bla, etc etc etc lover. He tends to ramble about a lots of stuff in life. You can follow in his IG page @dennisivillanueva for his daily ramblings.

Leave a Reply

%d bloggers like this: