Skip to content

The Enola Holmes Mystery: The Case of the Left-Handed Lady

Di akhir buku pertamanya, Enola Holmes sudah memutuskan untuk tetap tinggal di London. Dia tahu bahwa kedua kakaknya: Sherlock dan Mycroft akan mengejarnya bila dia tinggal di sana, tetapi ia memutuskan untuk mengambil resiko itu guna mencari info mengenai keberadaan sang Ibu. Toh Enola tidak bodoh juga, ia tahu bahwa berkeliaran di London sebagai dirinya sendiri akan membuat dirinya mudah dikenali oleh kedua kakaknya, dan karena itu Enola memutuskan untuk menyamar.

Enola memiliki dua jenis penyamaran mulai di buku: satu adalah sebagai Ms Ivy Meshle, seorang sekretaris dari seorang Detektif bernama Dr Ragostin. Dokter ini fiktif karena Enola menciptakannya dari benaknya saja. Dan satu yang lain adalah seorang Muted Sister, seorang Suster Bisu yang kerap berjalan-jalan di tengah kota London di malam hari untuk membagikan sedikit sedekah kepada mereka yang berkekurangan.

Perbedaan dari Enola Holmes versi film dan buku semakin kentara di sini, dan mulai dari sini sepertinya membandingkan keduanya adalah hal yang pointless. Pasalnya, saya merasa bahwa versi adaptasi filmnya sekedar mengambil ide yang sama tapi memberikan spin dan world-building mereka sendiri. Ambil contoh: London. London di dalam film Netflix digambarkan sebagai sebuah kota Metropolitan yang tengah tumbuh berkembang. Ramai, iya. Bahaya, tidak. Ini berbeda dengan kota London di dalam novelnya. Di sini London adalah sebuah kota Metropolitan yang kumuh, di mana mereka yang kaya akan hidup senang di mansion sementara yang miskin menderita kelaparan di jalanan dalam dingin – dan terancam terbunuh Jack the Ripper.

Jadilah Enola Holmes sekarang seorang Perditorian: seorang yang pekerjaannya adalah menemukan barang atau orang yang hilang. Dan kasus yang sekarang ia hadapi adalah kasus hilangnya Lady Cecily. Lady Cecily adalah seorang ningrat yang hilang dan keberadaannya tak diketahui di mana. Enola menyelidiki dan sekali lagi menemukan kejanggalan mengenai hilangnya sang wanita ningrat ini. Apakah ia bisa menemukan Lady Cecily – tanpa ketahuan oleh kedua saudaranya?

Dalam novel ini sekali lagi Nancy Springer menghighlight perbedaan antara kedudukan wanita di jaman sekarang dan jaman dulu. Sebagai contoh: tangan kiri. Apabila sekarang seorang adalah sosok yang kidal, itu adalah hal yang wajar. Kita akan menganggap orang tersebut mungkin unik – tetapi ya biasa saja. Di sisi lain pada jaman itu menjadi seorang kidal – apalagi kalau kamu adalah kaum Bangsawan, adalah sesuatu yang sangat salah. Dan keluarga akan menganggapmu sebagai sosok yang memalukan. Kidal adalah sebuah kecacatan yang harus diperbaiki.

Dan seperti yang saya katakan tadi, London di dalam novel ini dikisahkan sebagai sebuah Metropolitan yang kumuh di mana Enola benar-benar dibuat berempati akan kesusahan orang-orang di sana. Dalam hal ini Springer seperti mengangkat topik sensitif mengenai kesenjangan sosial yang membuat London sampai-sampai kehilangan langit birunya dan malam-malamnya dipenuhi dengan kabut dari asap industri. Sebuah harga yang harus dibayar London untuk bisa menjadi modern seperti sekarang.

Sayangnya semua itu masih saja dirusak dengan bagaimana Springer berusaha sebisa mungkin menerf (memperlemah) karakter Sherlock Holmes. Siapapun penggemar dari Detektif unggulan dunia literatur ini dijamin mencak-mencak melihat Sherlock dibuat seperti orang tolol, berulang kali gagal menebak jebakan sang Adik, sampai terang-terangan dikelabui di depan matanya sendiri. Sherlock Holmes di dalam novel ini tak terlihat sebagai seorang Detektif jempolan tetapi sebagai Detektif kampungan. Worse – Enola bahkan tidak digambarkan super smart, membuat kegagalan Sherlock memahaminya kian terasa tolol lagi.

Terlepas dari kelemahan tersebut, saya merasa bahwa buku kedua ini sedikit lebih baik daripada buku pertamanya. Apabila buku pertama lebih banyak character building sosok Enola – sesuatu yang sudah saya tonton di filmnya, buku kedua ini lebih berfokus kepada world building, dan ini memberi saya informasi baru dan fresh untuk kusantap. It’s still not a great book, but at least, it’s tolerable.

Score: 6.0

reviewapasaja View All

A movie, book, game, TV series, comic, manga, board game, bla bla bla, etc etc etc lover. He tends to ramble about a lots of stuff in life. You can follow in his IG page @dennisivillanueva for his daily ramblings.

Leave a Reply

%d bloggers like this: