Skip to content

The Enola Holmes Mystery: The Case of the Bizarre Bouquets

Setelah dua buku pertamanya memastikan bahwa Enola adalah seorang Perditorian yang bisa bekerja, ini menjadi sebuah kasus pertama yang personal yang harus ditangani oleh Enola.

Di dalam buku pertama kita sebagai pembaca tidak kenal siapa si Marquees hilang yang harus dicari Enola, dan bagaimana Enola menemukan Marquees tersebut bisa dibilang hanya sekedar kebetulan saja. Setali tiga uang dengan buku keduanya, walaupun sebagai pembaca kita diberi introduksi lebih mendalam mengenai siapa itu Lady Cecily yang hilang, kita tidak benar-benar peduli nasib dari Lady Cecily.

Hal ini berubah dengan opening di buku ketiga. Sang orang hilang kali ini adalah John Watson. The very same Watson yang adalah partner dari Sherlock Holmes masuk ke dalam Rumah Sakit Jiwa. Dia terus berteriak minta dilepaskan karena dia tidak gila – tetapi tidak ada yang percaya kepadanya.

Setelah cold opening Novel ini, kita kembali pada point-of-view sang tokoh utama: Enola, yang masih menyelidiki keberadaan sang Ibu. Tidak lama kemudian, berita mengenai hilangnya Dr. Watson sampai ke telinga Enola sehingga ia pun bergegas mencarinya. Sosok Dr. Watson memang sudah ditemui oleh Enola di buku kedua, walaupun ia tidak banyak mendapatkan spotlight di sana. Mencari Watson tentu bukan hal yang mudah bagi Enola sebab Sherlock Holmes sekalipun kewalahan. Bisakah Enola memecahkan kasus yang sang Detektif ternama pun tak bisa melakukannya?

Tentu saja bisa. Let’s get that out of the way.

Tanpa bermaksud spoiler, kita tentu saja tahu bahwa pada akhirnya Enola akan bisa memecahkan kasus ini dan mendapatkan kagum dari Sherlock. Tetapi masalahnya saya tidak merasa kagum kepada Enola, dan saya yakin kebanyakan pembaca pun begitu.

Salah satu hal yang saya sukai di dalam film Enola Holmes adalah bagaimana ia tidak memperlakukan satupun dari keluarga Holmes sebagai orang tolol. Baik Sherlock, Mycroft, dan Enola memiliki kepintaran mereka sendiri-sendiri sehingga mereka mampu mengapproach misteri yang sama dari sudut pandang yang berbeda. Ketiganya mampu menyelesaikan misteri dengan cara mereka sendiri-sendiri.

Itu tidak tergambarkan dengan jelas di dua novel pertama Enola Holmes di mana sang adik terus menerus mengakali kedua kakaknya, tetapi yang paling parah ada pada buku ini di mana Sherlock terang-terangan dibuat menjadi karakter tolol yang benar-benar jauh dari sosok Sherlock yang saya kenal selama ini. Okelah, saya masih bisa percaya kalau Sherlock kesulitan menangkap Enola dikarenakan sang adik diremehkan oleh sang Kakak (karena ia seorang gadis – of course perlu sudut pandang anti-feminisme), tetapi kegagalannya menemukan Watson? That’s just annoying. Ini sahabat terdekat dari Sherlock – dan membuat dia gagal memecahkan misteri itu sama sekali membuat saya kehilangan respek dengan bagaimana Nancy Springer menulis karakter Sherlock.

Terlepas dari itu, saya merasa bahwa memasuki buku ketiganya Enola Holmes mulai terasa… garing. Ketiga buku ini mengikuti format misteri yang sama: Enola mencari tahu keberadaan orang hilang, menghindari kejaran dari Sherlock dan Mycroft… dan selesai. Tidak ada misteri besar, tidak ada hint mengenai di mana dan sedang apa sang Ibu. Dan pesan-pesan sosial bahwa Inggris di era kuno sangat tidak bersahabat bagi para wanita terus menerus diulangi. It’s boring, it’s annoying, dan saya mulai kehilangan semangat melanjutkan seri ini.

Score: 5.0

reviewapasaja View All

A movie, book, game, TV series, comic, manga, board game, bla bla bla, etc etc etc lover. He tends to ramble about a lots of stuff in life. You can follow in his IG page @dennisivillanueva for his daily ramblings.

Leave a Reply

%d bloggers like this: