Skip to content

Ma Rainey’s Black Bottom

Salah satu tragedi terbesar di tahun 2020 adalah meninggalnya Chadwick Boseman, sang Black Panther. Banyak orang mengenal Boseman setelah ia tampil empat kali di film-film MCU sebagai sang Raja Wakanda itu. Akan tetapi, Boseman sebenarnya adalah seorang aktor yang bisa berperan lebih dari sekedar T’challa saja. Saya bahkan mengenal Boseman terlebih dahulu dalam penampilannya di film 42 sebagai Jackie Robinson.

Viola Davis in ‘Ma Rainey’s Black Bottom’.

Setelah Chadwick Boseman selesai berperan di dwilogi Avengers yang menutup Fase ketiga dari MCU, dia mulai mengembangkan sayapnya untuk tampil di film-film non-MCU, sebelum ia meninggal dunia. Dalam performa terakhirnya di layar lebar, ia tampil di film berjudul Ma Rainey’s Black Bottom, sebuah film adaptasi dari tulisan August Wilson. Sang Produser dari film ini: Denzel Washington, juga sudah pernah menggarap film dari tulisan August Wilson. Judulnya Fences dan sudah dirilis di tahun 2016 silam.

Ma Rainey’s Black Bottom adalah sebuah kisah fiktif mengenai bagaimana musik Black Bottom dari Ma Rainey direkam pada tahun 1929 dulu, dan mengisahkan mengenai kisah-kisah orang di dalamnya, mulai dari Ma Rainey sampai ke orang-orang yang bekerja di dalam Band-nya: Levee, Toledo, Cutler, dan Slow Drag. Tak ketinggalan dari sorotan adalah Manager Irvin dan Bos Sturdyvant yang menjadi pemilik studio rekaman suara.

Sulit bagi saya untuk mereview film ini dengan meringkasnya begitu saja, sebab film ini bisa melompat dari satu topik ke topik lain. Di satu adegan ia berbicara mengenai sisi artistik sebuah karya (bagaimana aransemen Black Bottom harus direkam) sebelum kemudian melompat ke sisi rasisme yang dihadapi oleh kulit Hitam di masa itu, kemudian melompat lagi pada nepotisme dan diva mentality yang dimiliki oleh seseorang. Kalau kalian menganggap ini semua bak campur aduk tidak jelas… kalian tidak salah. Saya pada awalnya menonton film ini dengan perasaan kebingungan karena kesulitan mengikuti narasi ceritanya, akan tetapi secara perlahan tapi pasti setelah kebingungan awal itu berlalu, saya kemudian menjadi menikmati banter dialog antar karakternya.

Saya merasa bahwa semua artis yang berperan di sini melakukan tugas mereka secara luar biasa, tapi saya harus applaud dua orang secara khusus: Viola Davis dan Chadwick Boseman. Viola Davis menunjukkan kalau dia adalah artis kulit hitam yang paling greget di layar. Dia menunjukkan kenapa Ma Rainey pada awalnya tampil begitu menyebalkan – tetapi di sisi lain kita juga dibuat mengerti kenapa ia sampai harus bertindak seperti itu. Di tahun 1920an, rasisme akan kulit hitam sangat kental dan saya bisa paham kenapa Ma Rainey merasa dia harus menunjukkan wibawanya kepada orang kulit putih – ketika ia memiliki kesempatan itu. Viola Davis is brilliant in every scene.

Dan Boseman? Menonton dirinya sebagai Levee, seorang pemberontak yang memiliki jiwa artistik tinggi membuatku sulit tidak merasakan sesaknya kehilangan Boseman. Boseman menunjukkan melalui aktingnya di sini bahwa ia punya begitu banyak talenta yang bisa ia tunjukkan kepada dunia. Judul film ini memang menyandang nama Ma Rainey, tetapi adalah Boseman yang diberi kesempatan melakukan dua monolog yang benar-benar menunjukkan kualitas aktingnya. He’s a brilliant, brilliant actor, taken far away too fast from us.

Kalau kalian suka dengan sebuah film yang mengandalkan kekuatan dialog, ditambah lantunan musik Blues era 1920an yang artistik, kalian jangan kelewatan film ini. Kemampuannya tampil merepresentasikan era tersebut, adaptasi skrip yang kuat dari naskah yang memang sudah apik, sampai performa akting yang kuat dari para pemainnya membuktikan bahwa film ini memang layak disebut salah satu film terbaik dari tahun 2020 lalu.

Score: 8.0

reviewapasaja View All

A movie, book, game, TV series, comic, manga, board game, bla bla bla, etc etc etc lover. He tends to ramble about a lots of stuff in life. You can follow in his IG page @dennisivillanueva for his daily ramblings.

Leave a Reply

%d bloggers like this: