Skip to content

Into the Night

Salah satu strategi Netflix untuk menguasai dunia adalah dengan menciptakan serial tidak hanya dari Amerika tetapi juga dari berbagai negara. Di situs ini saya sudah pernah mereview film serial dari negara Korsel ala Kingdom dan Alice in Borderland dari Jepang. Salah satu serial yang juga naik daun di tahun 2020 lalu adalah Into the Night yang diproduksi di Belgia. Kisahnya sendiri cukup unik: apa yang terjadi pada umat manusia ketika sinar matahari mulai membunuh apa saja yang ia sentuh? Serial ini diangkat dari novel sci-fi Polandia: The Old Axolotl dari Jacek Dukaj… dengan perubahan seperlunya.

Film serial ini berpusat pada sekelompok survivor yang terbang di atas pesawat. Di awal serial ini, seorang pria Italia yang mengaku dari NATO membajak sebuah pesawat dan memaksa pilot untuk lepas landas secara prematur, hasilnya hanya sekelompok penumpang saja yang sempat terbang dan selamat dari musibah. Itu tidak berarti para survivor lantas bahagia, sebab ada banyak hal yang harus mereka hadapi.

Pesawat dari Belgia itu membawa penumpang dari berbagai kewarganegaraan; mulai dari Belgia, Perancis, Turki, Arab, dan banyak lagi. Menempatkan semuanya dalam situasi bertekanan tinggi membuat gesekan kesemuanya jadi mudah terjadi. Ini tidak dipermudah dengan kesulitan eksternal yang harus mereka hadapi: seperti stok makanan yang terbatas, bahan bakar yang makin lama makin berkurang, sampai misteri mengenai kenapa matahari membunuh semua manusia.

Serial ini mengingatkan saya kepada Lost dan The 100, sebuah serial dengan cast ensembel dari berbagai kewarganegaraan. Sebagaimana halnya Lost, karakter-karakter di serial ini berasal dari berbagai negara Eropa, dan menggunakan aktor dari berbagai negara juga. Hasilnya memang membuat serial ini berselera internasional. Senang juga melihat bagaimana kreator dari serial ini membiarkan dialog dalam berbagai bahasa dipakai di sini, dengan bahasa utama Perancis dan Inggris.

Bagi kalian yang terbiasa menonton serial Hollywood dan Asia (seperti saya) yang merupakan dua serial dominan di Indonesia, mungkin akan sedikit kagok menonton serial Into the Night ini, apalagi dengan akting orang-orang yang kerap sangat berlebihan. Beberapa pertikaian yang terjadi antara penumpang di dalam pesawat pun terasa mengada-ada, are they really that incompatible of working together?

Mengingat serial ini digelontori dana oleh Netflix, saya tidak heran dengan kualitasnya. Walaupun tak sebanding dengan serial besar Amerika (jangan bandingkan ini dengan Lost!) saya mengacungkan jempol dengan syutingnya di berbagai lokasi dan setting yang berbeda. Setali tiga uang dengan kemampuannya membawa cukup banyak karakter beragam di serial ini.

Pada akhirnya, Into the Night adalah sebuah tontonan serial pendek (hanya enam episode saja) yang gegas dan cocok buat tontonan bingeable di sebuah weekend, dengan sudah diberikan lampu hijau akan adanya season kedua, ia boleh jadi pilihan buat kalian yang gemar tontonan sci-fi berbau dystopian.

Score: 6.0

reviewapasaja View All

A movie, book, game, TV series, comic, manga, board game, bla bla bla, etc etc etc lover. He tends to ramble about a lots of stuff in life. You can follow in his IG page @dennisivillanueva for his daily ramblings.

Leave a Reply

%d bloggers like this: