Skip to content

The Lodge

Satu lagi film Thriller / Horror yang mendapatkan pujian para kritikus di tahun 2020 lalu adalah The Lodge. Film ini dibintangi oleh Riley Keough dan Jaeden Martell, serta beberapa bintang lain. Disutradarai oleh duet Veronika Franz dan Severin Fiala, The Lodge merupakan debut film mereka dalam bahasa Inggris. Apakah ini bisa memang sebuah film horror yang mengesankan?

Setelah Richard memberitahukan kepada istrinya Laura bahwa ia akan memfinalisasi perceraian mereka dan menikah dengan pacar barunya: Grace, Laura frustasi. Ia bunuh diri, meninggalkan dua anaknya Aiden dan Mia.

_APB9655.RAF

Enam bulan berlalu semenjak kejadian itu dan Aiden serta Mia sekarang tinggal bersama Richard. Richard masih berusaha untuk mendekatkan Aiden dan Mia kepada Grace, tetapi tentu saja kedua anaknya merasa marah sang ayah ingin buru-buru menikah lagi.

Richard tidak peduli, ia akhirnya mengadakan acara membawa kedua anaknya ke kabin bersama dengan Grace. Seperti bisa ditebak, Aiden dan Mia sama sekali tidak welcome dengan keberadaan dari Grace. Ini membuat keadaan di kabin menjadi awkward. Keadaan makin awkward ketika Richard dipanggil tugas dan harus meninggalkan Grace dengan kedua anaknya – dan mulai saat itulah kejadian-kejadian aneh mulai terjadi.

Saya suka dengan setting dari film ini: sebuah kabin yang terisolasi dari peradaban luar, dan dikelilingi oleh badai salju. Ini membuat tempat ini menjadi tempat yang mengerikan. Ada alasan kenapa fenomena ‘Cabin Fever‘ itu riil, dan duet Franz serta Fiala membangun atmosfir itu dengan pelan tapi pasti. Mereka juga memakai bahasa gambar dengan simbolisme agama yang membuat kita bergidik takut akannya.

Semua itu dijangkari dengan performa yang bagus dari Riley Keough dan Jaeden Martell. Saya belum pernah menonton film Keough sebelum ini tetapi cucu dari Elvis Presley ini membuktikan dia punya darah seni sang kakek. Setali tiga uang dengan Martell yang sepertinya sudah biasa tampil dalam film-film horor setelah membintangi dwilogi It Chapter 1 dan 2.

Akan tetapi saya menyayangkan bahwa film ini berdurasi terlalu panjang. Setelah paruh pertama yang memiliki pacing yang bagus, paruh keduanya kedodoran karena terlalu lama berkutat dengan status quo yang ditetapkan di paruh pertama. Penonton dibuat bertanya-tanya apakah yang mereka tonton adalah sosok Grace yang lama-lama makin gila karena masa lalunya, atau apakah ada kekuatan supernatural yang menganggu mereka. Dilema yang bagus, tetapi kalau diulur kepanjangan membuat penonton jadi tak peduli lagi dengannya.

Ketika film ini berusaha kembali menemukan fokusnya di babak akhir, semua sudah terlambat. Saya selaku penonton sudah tak peduli lagi, dan twist apapun yang disampaikan tak lagi mengena bagiku. The Lodge seharusnya bisa menjadi sebuah kisah cautionary tale mengenai betapa berbahayanya sebuah kata ‘move on‘ dari tragedi masa lampau – tetapi karena blunder di paruh kedua, ia kehilangan momen untuk menyampaikan pesannya itu.

Score: 5.0

reviewapasaja View All

A movie, book, game, TV series, comic, manga, board game, bla bla bla, etc etc etc lover. He tends to ramble about a lots of stuff in life. You can follow in his IG page @dennisivillanueva for his daily ramblings.

Leave a Reply

%d bloggers like this: