Skip to content

The Infinite Game

Simon Sinek adalah salah seorang motivator paling terkemuka di Amerika. Sinek menjadi terkenal setelah ia mengadakan pembicaraan Ted Talk yang berjudul: Start With Why. Konsep memulai sesuatu dengan “Kenapa” dan bukannya dengan “Apa” terbukti menjadi sebuah konsep yang sangat disukai di Amerika sana. Sinek pun melanjutkan pembicaraan di Ted itu dengan sebuah buku berjudul sama. Laris manis di pasaran, buku Simon Sinek selanjutnya pun terus meluncur seperti Leaders Eat Last dan buku yang saya review ini: The Infinite Game.

Sebelum mereview buku ini lebih lanjut, full disclosure dulu ya: saya suka dengan konsep-konsep yang dibicarakan oleh Simon Sinek. Start With Why, contohnya, adalah salah satu pembicaraan Ted favorit saya. Akan tetapi suka dengan konsep tak berarti saya suka dengan bukunya. Contohnya ya Start With Why juga. Saya merasa buku bisnis yang ditulis oleh Sinek itu terlalu bertele-tele menjelaskan konsep yang sebenarnya sudah tercakup poin-poin utamanya dalam pembicaraan Ted-nya. Saya berharap The Infinite Game tak mengulangi kesalahan yang sama.

Konsep Finite dan Infinite Game sebenarnya bukan hal baru. Simon Sinek sendiri mengakuinya bahwa konsep ini sebelumnya sudah dicetuskan oleh James P. Carse di tahun 1986 dulu. Sinek sangat suka buku ini dan berusaha membawanya ke kalangan mainstream melalui kata-katanya sendiri. Dan this is truly a great concept.

Dalam buku ini Sinek mengajak kita untuk mengubah pola pandang kita akan bisnis – dan bahkan untuk kehidupan. Ia meminta kita untuk tak melulu berfokus kepada hasil akhir, sebab itu berarti kita memainkan sebuah Finite Game. Sebuah permainan yang berakhir. Padahal Bisnis dan Kehidupan itu sendiri adalah sebuah permainan yang tak pernah berakhir: sebuah Infinity alias Infinite Game. Dan kalau kita bermain di dalam sebuah Infinite Game dengan pola pikiran Finite maka kita akan selalu kalah dengan pemain-pemain lain yang memiliki pola pikiran yang benar.

Salah satu contoh bermain dengan pola pikiran Finite adalah selalu berfokus kepada pesaing. Sinek mencontohkan Blackberry yang pasarnya tergerus oleh keberadaan Smartphone Apple dan Android yang datang kemudian. Alih-alih berfokus pada memperbaiki diri mereka sendiri (seperti halnya setiap pemain Infinite Game yang benar) Blackberry malahan kehilangan visi mereka, dan menjadi pengikut dari Apple dan Android. Hasilnya bukannya Blackberry menjadi pemimpin yang terdepan dalam Smartphone yang berfokus pada Bisnis dan Stabilitas, ia sekarang nyaris lenyap dari peredaran – kalah dari kedua kompetitornya.

Contoh lain dari pemimpin perusahaan yang memiliki pola pikir Finite alias terbatas adalah mereka yang berorientasi pada Profit dan keuntungan. Sering kali di jaman sekarang CEO perusahaan menilai keberhasilan mereka dengan melakukan efisiensi kerja sebaik mungkin, guna mendongkrak output yang ditranslasikan dengan mendapatkan uang sebanyak mungkin, profit sebesar mungkin, dan direfleksikan dengan harga saham yang naik di Bursa sedahsyat mungkin. Tetapi dalam perjalanannya menuju ke sana, tanpa sadar banyak perusahaan yang mengalami Krisis Moral (Ethical Fading) dan juga tak mementingkan lagi karyawan mereka.

Dua konsep ini adalah contoh dari beberapa poin menarik yang diangkat oleh Simon Sinek di dalam buku ini. Secara keseluruhan saya percaya bahwa The Infinite Game adalah sebuah buku yang lebih menarik dan berbobot ketimbang Start With Why. Ada lebih banyak hal yang diangkat di sini oleh Sinek dan sampai Bab terakhir pun saya merasa terus mendapatkan sebuah konsep baru, bukannya satu konsep lama yang terus menerus diulang-ulang dengan contoh dan penyampaian yang berbeda.

Pun begitu kalau kamu tidak suka dengan bagaimana Sinek tampak sebagai fanboy dari perusahaan tertentu (ia masih terus memuja-muja Apple) ya harap tahu saja bahwa gaya penulisan Sinek di sini masih tidak berubah. Dalam beberapa hal dia masih terus sibuk menggaungkan keagungan dari perusahaan-perusahaan tertentu, sambil kemudian menjelek-jelekkan kompetitornya, dengan cara yang menurut saya sedikit tidak adil. Ehem, Steve Ballmer dengan Microsoft misalnya, takkan menjadi fans dari buku ini.

Pada akhirnya, saya percaya bahwa ini adalah sebuah Buku tentang Bisnis dan Leadership yang layak dibaca oleh para Manager, terutama mereka yang ada di tingkat menengah. Ada beberapa konsep menarik di dalamnya yang bisa diaplikasikan dalam dunia kerja kalian. Selamat membaca!

Score: 8.0

reviewapasaja View All

A movie, book, game, TV series, comic, manga, board game, bla bla bla, etc etc etc lover. He tends to ramble about a lots of stuff in life. You can follow in his IG page @dennisivillanueva for his daily ramblings.

Leave a Reply

%d bloggers like this: