Skip to content

Monster Hunter

Walaupun film yang diadaptasi dari Video Game belakangan sudah mengalami perbaikan mutu ketimbang dari dekade 1990 – 2010an dulu, sampai hari ini belum ada film yang diangkat dari Video Game yang bisa dianggap sebagai Masterpiece… dan ini hal yang aneh mengingat semakin belakangan sudah semakin banyak saja Video Game yang memiliki rasa sinematik.

Dua tahun terakhir, bagaimanapun juga, menjadi puncak dari kesuksesan adaptasi Video Game. Detective Pikachu dan Sonic the Hedgehog membuktikan bahwa film yang diadaptasi dari Video Game bisa laris manis di pasaran dan juga bisa mendapatkan apresiasi dari para kritikus. Akan tetapi Monster Hunter datang di tahun 2020 (setelah sedikit penundaan) dan mengingatkan kepada kita bagaimana perjalanan untuk film adaptasi Video Game diapresiasi masih jauh.

Pertama-tama, let’s discuss: apa itu Monster Hunter? Berbeda dengan kebanyakan Video Game yang diadaptasi, Monster Hunter bukanlah sebuah Video Game yang sudah ‘lama’ terkenal. Jangan salah, saya tahu bahwa Monster Hunter adalah sebuah franchise yang terkenal, tetapi kelahirannya di tahun 2004 (dan mulai terkenal secara mainstream di atas dekade 2010) membuat ia termasuk sebagai salah satu adaptasi Video Game yang ‘baru’. Diangkat dari seri Capcom, saya sebenarnya agak bingung kenapa Monster Hunter diangkat menjadi versi film – mengingat franchise ini bukan terkenal karena ceritanya melainkan gameplaynya.

Dan mungkin karena itulah proyek ini lantas diserahkan kepada Paul W.S. Anderson. Sutradara satu ini sudah malang melintang di dunia perfilman selama dua dekade lebih dan pertama mendapatkan breakthrough-nya melalui film adaptasi Video Game Mortal Kombat. But let’s face it, apa yang membuat Paul W.S. Anderson paling terkenal adalah franchise Resident Evil yang dari enam filmnya, empat ia sutradarai. Sekali lagi kembali membintangi Monster Hunter adalah tandem sekaligus istrinya: Milla Jovovich.

Dalam film ini Milla Jovovich berperan sebagai Natalie ‘Ranger’ Artemis, seorang tentara yang bersama tim tentaranya mendadak ditransportasi ke sebuah dunia misterius yang diselimuti padang pasir. Di sana tim dari Natalie pelan-pelan dihabisi satu demi satu, sampai Natalie menjadi satu-satunya survivor. Setelah itu Natalie diselamatkan oleh seorang pria misterius yang dia beri nama Hunter. Keduanya awalnya sulit berkomunikasi karena Hunter tak bisa bahasa Inggris dan Natalie juga tak bisa berbahasa ala Hunter. Akan tetapi demi bertahan hidup, keduanya memutuskan untuk bekerja sama. Bisakah Natalie kembali pulang ke dunianya?

Kalau kalian bertanya-tanya kenapa film ini memiliki plot bak Isekai, saya merasa bahwa ini dikarenakan tujuan film ini sebenarnya bukan pangsa pasar Amerika. Monster Hunter adalah sebuah franchise game yang terkenal di dunia, tetapi pasar terbesarnya bukan Amerika melainkan Jepang dan Cina. Dan itulah kenapa Paul W.S. Anderson dan Milla Jovovich yang dipasang di film ini. Keduanya dianggap menjual di Jepang dan China, lewat franchise Resident Evil mereka. Sayangnya, nama baik mereka tercoreng melalui sebuah gurauan yang tidak lucu (dan sudah diedit hilang di versi yang saya tonton): Gurauan ‘Chi-knees’.

Anyway, film ini melakukan kesalahan yang lebih besar ketimbang gurauan tidak lucu. Filmnya sendiri tidak seru. Saya merasa bahwa gaya sinematografi Anderson mengalami kemunduran di film ini. Di momen-momen terjadinya aksi di sini saya kerap kesulitan mengikuti apa dan bagaimana karakter-karakternya tengah bergerak. Ini mengejutkan bagiku, sebab Anderson selalu saya anggap sebagai Michael Bay versi KW. Dia boleh tak becus dalam membuat cerita tetapi paling tidak kita selalu bisa menikmati adegan aksinya. Tak membantu kekurangan sinematografi di film ini adalah garingnya cerita sepanjang film dari awal hingga akhir. Praktis satu-satunya penyelamat dalam film ini adalah efek CG dari monster yang cukup meyakinkan. Then again, efek visual begini sudah tak lagi mencengangkan bagiku setelah menonton sesuatu yang mirip via trailer Dune dan serial The Mandalorian.

Pada akhirnya, Monster Hunter is just… a boring movie. Saya kesulitan mengetik review ini walaupun baru menontonnya beberapa jam yang lalu sebab begitu banyak detail di dalamnya sudah hilang dari memori saya. It’s just that un-memorable. Oh, dan saya menonton film ini sebagai orang yang belum pernah memainkan franchise Monster Hunter. Konon fans berat Monster Hunter bahkan lebih kecewa lagi dengan film ini sebab melenceng total dari versi gamenya!

Score: 4.0

reviewapasaja View All

A movie, book, game, TV series, comic, manga, board game, bla bla bla, etc etc etc lover. He tends to ramble about a lots of stuff in life. You can follow in his IG page @dennisivillanueva for his daily ramblings.

Leave a Reply

%d bloggers like this: