Skip to content

Space Sweepers

Di masa depan dunia telah terkena polusi yang begitu hebat sehingga manusia mulai bermigrasi dari sana ke luar angkasa. Teknologi manusia belum mencukupi untuk melakukan Terraforming ke planet Mars, tetapi sudah cukup untuk membangun rumah-rumah sekunder di Orbit Bumi. Akan tetapi di saat sekelompok kecil orang hidup mewah di sana, banyak orang yang kurang berada hidup mengadu nyawa, membuang sampah-sampah luar angkasa yang makin banyak.

Salah satu grup orang yang dinamakan Space Sweepers ini berasal dari Korea Selatan: Victory. Dengan seorang gadis bernama Jang sebagai Kapten-nya, pilot Tae-Ho, mekanik Tiger Park, serta Robot bernama Bubs sebagai krunya, Victory dikenal sebagai tim Space Sweepers paling jago – walaupun juga paling tinggi hutangnya. Setelah beberapa saat tim Victory menemukan seorang gadis kecil bernama Dorothy, yang ternyata adalah Android yang sangat membahayakan dan dicari oleh UTS, perusahaan adidaya multinasional yang menguasai seluruh antariksa.

Walaupun pada awalnya kru Victory ingin menyerahkan Dorothy kepada pihak yang menginginkannya – untuk lantas mendapatkan uang, mereka justru jatuh hati dan simpatik kepada Dorothy yang manis. Maka misi dari kru Victory pun berubah menjadi melindungi Dorothy – dalam perjalanannya siapa sangka mereka akan menemukan konspirasi mengenai UTS dan seluruh tatanan antariksa selama ini.

Jalan cerita dalam Space Sweepers sebenarnya tidak baru. Kalau kalian membaca novel Young Adult dengan tema Dystopian, saya yakin plot seperti ini sudah kerap muncul (Halo, ingatkah kalian dengan serial Legend karangan Marie Lu?). Dan walaupun ada satu dua twist yang ditampilkan di sini, secara keseluruhan alur cerita Space Sweepers yang ditulis oleh trio penulis Korea Yoon Seung-min, Yoo-Kang Seo-ae, dan Jo Sung-hee mudah ditebak. Then again, that’s not a bad thing. Tak semua film harus mengupayakan diri mereka menjadi Interstellar.

Space Sweepers adalah sebuah film Space Opera yang fun ditonton dari awal hingga akhir. Pacing film yang berdurasi 2 jam lebih ini tidak pernah terasa kepanjangan karena penciptaan world building yang baik. Film ini tahu benar kapan harus memapang deretan sekuens aksi, dan kapan harus menarik diri untuk momen-momen lebih intim menggali karakter yang ada. Hasilnya, hubungan dari kru Victory dengan Dorothy terbangun dengan bagus, membuat kita peduli kenapa kru yang tadinya acuh terhadap si gadis mau kemudian habis-habisan mempertaruhkan segalanya menyelamatkan mereka. Ada sebuah twist di penghujung film yang takkan mengena secara emosional kalau penonton tak dibuat peduli dengan hubungan kelimanya.

Berkat gelontoran dana Netflix, jangan heran bila Space Sweepers memiliki efek visual yang mumpuni. Sebelum film ini saya sempat menonton Peninsula, dan saya merasa kecewa melihat efek CGI kacangan di film tersebut. Saya lantas berpendapat bahwa non-Hollywood memang masih jauh sekali bisa menandingi Amerika. Untung saja Space Sweepers mengubah pendapat itu. Film ini memiliki kekuatan efek visual yang amat indah dan membuktikan bahwa dunia perfilman Asia – asal ditunjang dengan budget yang memadai, bisa sekali menciptakan film yang apik secara teknologi. Satu hal lagi yang membuat saya mengacungkan jempol adalah bagaimana berbagai bahasa dipakai di sini mulai dari Jerman, Russia, Mandarin, Inggris, hingga Tagalog, menunjukkan bagaimana ini adalah sebuah film yang mendunia.

Kalau kalian suka dengan Cowboy Bebop atau Tokyo Godfathers, sebuah film tentang ragtag losers yang band together, ini adalah sebuah film untuk kalian. Selamat bagi Korea yang sekali lagi menunjukkan mereka siap menjadi industri perfilman sukses dunia.

Score: 8.0

reviewapasaja View All

A movie, book, game, TV series, comic, manga, board game, bla bla bla, etc etc etc lover. He tends to ramble about a lots of stuff in life. You can follow in his IG page @dennisivillanueva for his daily ramblings.

Leave a Reply

%d bloggers like this: