Skip to content

Everything is F*cked: A Book About Hope

Setelah buku pertamanya: The Subtle Art of Not Giving a F*ck, Mark Manson mengangkat derajatnya dari seorang penulis blog menjadi seorang penulis superstar. Gaya tulisnya yang terkadang kasar tetapi menohok pada kenyataan disukai oleh para generasi Milenial dan generasi Z. Ini mungkin karena Manson baru berusia 36 tahun, dia adalah seorang penulis dari generasi Milenial dan ia mampu menggunakan kesadarannya akan dunia Pop Culture dan memasukkan pengetahuan itu ke dalam tulisannya. Bisa jadi karena itu tulisannya terasa lebih dekat dengan pembacanya, dan tak terkesan menggurui bak penulis-penulis yang lebih senior.

Setelah kesuksesannya dengan The Subtle Art of Not Giving a Fck, Mark Manson merilis sekuelnya: Everything is Fcked: A Book About Hope. Saya memulai buku ini dengan satu pertanyaan: perlukah buku ini eksis? Apa yang akan membedakan buku ini dengan buku milik Manson sebelumnya?

To my surprise: Everything is F*cked adalah sebuah buku yang lebih kompleks ketimbang prekuelnya. Kenapa demikian? Let’s dig in.

Walaupun saya suka dengan The Subtle Art of Not Giving a F*ck , saya harus mengakui bahwa buku Manson itu tak mengandung banyak ‘nasehat’ atau hal baru di dalamnya. Mark Manson hanya membingkisnya dengan kata-kata yang kekinian, sehingga membuat nasehat-nasehat lawas tersebut terasa lebih relatable. Tambahan lagi, karena banyak nugget of wisdom yang dipetik oleh Manson berasal dari filsuf / ajaran Asia macam Buddha dan Confucius, itu membuat apa yang ia tuliskan di dalamnya tidak groundbreaking bagi saya yang berasal dari Asia.

Itu berbeda dengan buku keduanya. Awalnya saya menyangka bahwa Manson hanya ingin mengatakan bahwa Dunia ini terasa seperti remuk redam – tetapi at the end not everything is bad. Itulah sebabnya ada sub-judul A Book About Hope. Tetapi perkiraan saya salah. Yang ada, justru Manson mengulas dan mendekonstruksi apa itu Harapan alias Hope – dan kenapa hal itu bisa menjadi sebuah pedang bermata ganda: Harapan bisa menjadi sesuatu yang baik, tetapi juga menjadi sesuatu yang buruk. Kok bisa? Now that is something I won’t spoil in my review.

Akan tetapi secara keseluruhan buku ini tidak sempurna. Terlepas dari beberapa ide dekonstruksi yang ia tawarkan, saya merasa bahwa buku ini tidak menyambung dari satu Chapter ke Chapter lain secara berkesinambungan. Kalau memang kita dipaksa memicingkan mata dan menyambung-nyambungkannya sendiri maka ya, tentu saja ada seuntai benang merah yang menyambungkan tiap-tiap Chapter. Tetapi kerjapkan mata sejenak saja dan buku ini terasa seperti tulisan-tulisan di blog Manson yang kemudian digabungkan menjadi satu dan dipublish dalam format Buku Self-Help.

Dari semua ide yang dikemukakan oleh Mark Manson di dalam buku ini, jujur saja yang paling menarik untuk kubaca ada di Chapter terakhir-nya. Sangat mungkin sekali karena jurusanku adalah jurusan IT saat kuliah dulu, melihat masa depan yang diimpikan oleh Mark Manson terasa sebagai sesuatu hal yang berbeda dari apa yang pernah kupikirkan – tetapi di sisi lain juga terasa mengasyikkan untuk dibayangkan. Ketimbang menyatakan bahwa buku ini mengenai Harapan alias Hope, saya lebih cocok menyebut buku ini sebagai semi Sci-Fi yang lahir dari benak Manson.

Overall, kalau kalian mengharapkan buku ini sebagai spiritual successor dari buku pertamanya, saya rasa kalian akan kecewa. Bahkan secara tematik pun buku ini sangat berbeda dengan The Subtle Art of Not Giving a F*ck. Entah apakah itu berarti Manson kini menatap dunia dengan lensa yang berbeda setelah kesuksesannya atau ia mencoba mengekspresikan diri melalui pemikiran-pemikiran yang lebih kontroversial… yang pasti coba buka juga pola pandang kalian dan jajal membaca buku ini. It’s definitely worth your time.

Score: 7.0

reviewapasaja View All

A movie, book, game, TV series, comic, manga, board game, bla bla bla, etc etc etc lover. He tends to ramble about a lots of stuff in life. You can follow in his IG page @dennisivillanueva for his daily ramblings.

Leave a Reply

%d bloggers like this: